Di Balik Kebangkitan Luke Shaw: Mengapa Ia Tetap Penting bagi Manchester United

Luke Shaw, pemain paling lama bertahan di MU, habis-habisan bangkit dari cedera. Artikel ini mengungkap proses rekonstruksinya dan mengapa ia tetap penting.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 02:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Luke Shaw memulai musim ini dengan cara yang berbeda. Setelah bertahun-tahun bolak-balik keluar-masuk ruang perawatan, bek kiri berusia 30 tahun itu kini kembali menjadi bagian inti dari Manchester United.

Perjalanan ini tidak datang dengan mudah, bahkan beberapa bulan lalu ia masih berdiri di lorong stadion Bilbao dengan wajah terpuruk dan berkata, “Saya hancur... musim kami benar-benar tidak cukup baik,” dalam sebuah wawancara televisi yang menggambarkan betapa beratnya situasi yang ia jalani.

Keterusterangan Shaw menggambarkan rasa frustrasi seorang pemain yang telah merasakan naik-turun karier lebih sering daripada kebanyakan rekannya.

Cedera panjang, performa naik turun, dan kritik publik menjadi bagian dari perjalanannya. Namun musim ini ia menunjukkan sesuatu yang berbeda: stabilitas, ketenangan, dan kesiapan untuk kembali menjadi pondasi lini belakang.

Momen itu mengantar pada satu pertanyaan besar, bagaimana Shaw bangkit di fase karier yang oleh banyak pemain lain dianggap masa senja?

Kisah Cedera dan Titik Balik Penting

Shaw adalah pemain dengan bakat besar, namun langkahnya kerap diganggu cedera. Sejak bergabung pada 2014, ia hanya mencatat rata-rata 27 laga per musim. Bahkan tahun 2015 menjadi titik kelam ketika kakinya patah usai menerima tekel keras di Eindhoven—insiden yang membentuk arah kariernya bertahun-tahun kemudian.

Bahkan Shaw pernah mengakui, “Saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Saya tidak datang dalam kondisi terbaik dan semuanya tidak berjalan sesuai rencana.” Ia tumbuh dari masa itu, namun cedera terus membayangi.

Puncak kebangkitan dimulai pada Maret lalu ketika ia menjalani program pemulihan khusus di Doha. Selama dua pekan ia menjalani evaluasi menyeluruh di Aspire, ditemani fisioterapis pilihan dan staf senior klub.

Fokus utama diarahkan pada kondisi otot kaki kanannya yang pernah mengalami patah ganda. Pendekatan medis yang lebih holistik membuat kekuatan kedua kakinya kini kembali seimbang.

Program itu menjadi titik balik, Shaw menjalani pramusim dengan tubuh paling siap dalam beberapa tahun terakhir.

Peran Baru dan Adaptasi dalam Struktur Taktik

Kebugaran bukan satu-satunya perubahan Shaw. Musim ini ia memainkan peran berbeda dalam struktur pertahanan Manchester United.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Ia tidak lagi hanya menjadi full-back tradisional, tetapi juga ditempatkan sebagai bek tengah kiri dalam formasi tiga bek, peran yang pernah ia jalani sesekali di masa lalu, tetapi kini mulai menjadi tugas reguler. Di media sosial beberapa waktu lalu muncul statistik yang menurunkan penilaiannya, terutama soal jumlah umpan silang dan peluang tercipta. Namun, angka itu sesungguhnya membandingkan dua posisi berbeda. Sebagai bek tengah, tugas Shaw kini lebih fokus pada membaca arah serangan, menutup ruang, dan menjaga sirkulasi bola di area pertahanan. Danny Higginbotham bahkan menyebut kehadiran Shaw sebagai keuntungan taktis. Menurutnya, full-back di dalam struktur tiga bek memberi fleksibilitas untuk berubah menjadi lini empat ketika wing-back naik membantu serangan. “Ia tenang, bagus dalam penguasaan bola, dan mampu membantu serangan dengan over-lap maupun under-lap,” ujarnya. United sendiri menilai Shaw sebagai pemain yang memahami permainan dengan sangat baik, sulit dilewati dalam situasi satu lawan satu, dan memiliki kualitas distribusi yang stabil.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan