Mengenal Sosok Ellyas Pical, Sang Juara Dunia Tinju Pertama dari Indonesia

Sebelum era Chris John, Indonesia pernah memiliki seorang petinju kelas dunia pada diri Ellyas Pical. Sosok kelahiran Maluku tersebut merupakan aset emas bangsa dengan prestasi segudang.

Diterbitkan 16 September 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Melalui sebuah siaran televisi, Ellyas Pical atau yang lebih akrab disapa Elly menyaksikan laga salah satu petinju terbaik era 70-an, Muhammad Ali. Usianya baru 13 tahun kala itu, namun lewat aksi Ali, Elly melihat secercah mimpi yang kelak akan jadi takdir hidupnya.

Elly tidaklah terlahir sebagai superstar. Pria asli Saparua, Maluku tersebut bahkan tidak lulus sekolah dasar. Ia memilih berhenti sebab hari-harinya di sekolah hanya diisi dengan perkelahian kasar. Kesehariannya hanya dihabiskan untuk menyelam, mencari mutiara di dasar laut cantik Indonesia timur.

Ketertarikan Elly pada dunia tinju membawanya untuk mulai berlatih. Dengan pertentangan dari kedua orang tuanya, ia mulai tiap pukulan itu secara sembunyi-sembunyi. Elly sadar bahwa sebagai seorang amatir, ia harus memulai semuanya dari tingkat terendah, kelas terbang. 

Tanpa disadari, sepasang sarung tinju tersebut mengantarnya mengarungi berbagai kompetisi. Mulai dari pertarungan tingkat kabupaten hingga nasional, Elly menyabet setiap gelar dengan tangan yang mengepal, dengan ambisi menjadi seorang petinju profesional.

Awal Karier Profesional

Mimpi Elly mulai bersemi pada tahun 1983 di kelas bantam junior. Dikenal atas pukulannya yang mematikan, The Exocet, Elly sempat jadi juara di ajang Orient and Pacific Boxing Federation (OPBF) pada 19 Mei 1984. Elly yang saat itu berumur 24 tahun menundukkan wakil Korea Selatan, Hi-yung Chung dengan kemenangan angka 12 ronde di kandangnya sendiri.

Lewat kemenangannya, Elly jadi petinju asal Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri. Ia cepat, eksplosif, dan begitu mematikan. Nama Elly kian harum dan jadi idola baru dunia tinju nasional.

Setahun berselang, tepatnya pada 3 Mei 1985, Elly kembali juara pada gelaran International Boxing Federation kelas bantam yunior atau super terbang. Ia menaklukkan Chun Ju-do dan kembali memecahkan rekor sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar dunia IBF di kelas bantam.

Sosok kelahiran 24 Maret 1960 tersebut mempertahankan sabuk yang ia raih dengan sekuat tenaga. Ia kembali jadi yang terbaik pada Agustus 1985 setelah mengalahkan petinju Australia, Wayne Mulholland. Meski begitu, dunianya harus dihempaskan ke tanah kala petinju Republik Dominika, Cesar Polanco mengalahkannya di Jakarta.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Kegagalan kontra Cesar Planco tak membuat Elly mundur. Setahun setelahnya, kedua petinju ini kembali bertemu di Jakarta dan kali ini, Elly tak memberi ampun dan menjatuhkan Cesar Polanco dengan KO. Ia kemudian kembali mengamankan gelarnya dengan membabat habis petinju Korea Selatan, Lee Dong-chun. Mimpi buruknya justru terjadi pada tahun 1987. Melawan unggulan Thailand, Khaosan Galaxy, Elly dihajar KO pada ronde 14 dan menjatuhkan dirinya ke titik terendah sepanjang karier profesional. Berbulan-bulan setelahnya, Elly masih enggan kembali ke ring. Pikirannya terus berputar pada pukulan KO yang dilepaskan Khaosai pada dirinya. Hatinya bergelut dan perasaannya berkecamuk. Meski begitu, mimpinya sudah membawanya terlalu jauh. Melangkah maju adalah satu-satunya jalan bagi Elly. Oktober 1987, Elly kembali ke Senayan. Ia menantang sang juara bertahan IBF kelas bantam yunior dari Korea Selatan, Tae-ill Chang. Setelah pertarungan panjang 15 ronde, Elly dinyatakan menang melalui keputusan angka tidak bulat (split decision). Gelar tersebut bertahan selama 2 tahun sebelum Elly harus mengakui keunggulan petinju Kolombia, Juan Polo Perez dalam laga yang digelar di Virginia, Amerika Serikat.

Halaman
Show All
Deniz Akbar, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan