Nostalgia: Ketika Ronaldo Berdamai dengan Takdir dan Menangis di Bawah Langit Yokohama

Ia menangis di pelukan staf pelatih di pinggir lapangan, bukan karena kesakitan, tapi karena akhirnya ia bisa berdamai dengan takdir. Malam itu, di bawah langit Yokohama, adalah sebuah malam penebusan baginya.

Diperbarui 01 Juli 2025, 11:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Empat tahun sebelumnya, dunia menyaksikan Ronaldo yang kosong, nyaris tak berdaya di final Piala Dunia 1998. Malam itu, di Prancis, il Fenomeno seperti menghilang di balik bayang-bayang trauma dan cedera. Dunia tak tahu pasti apa yang terjadi, tetapi Brasil kalah, dan Ronaldo pulang dalam diam.

Empat tahun berselang, tanggal 30 Juni 2002, di Yokohama, ia berdiri lagi di titik yang sama—final Piala Dunia. Bedanya, kali ini tubuhnya sehat, matanya tajam, dan hatinya siap untuk menebus segala luka. Lawannya Jerman, tim yang tak terkalahkan sepanjang turnamen, dengan Oliver Kahn sebagai tembok kokohnya.

Saat peluit akhir berbunyi, Brasil menang 2-0. Ronaldo mencetak kedua gol Brasil di laga itu. Ia menangis di pelukan staf pelatih di pinggir lapangan, bukan karena kesakitan, tapi karena akhirnya ia bisa berdamai dengan takdir. Malam itu, di bawah langit Yokohama, adalah sebuah malam penebusan baginya.

Babak Pertama: Ujian Ketahanan dan Ketajaman

Stadion Internasional Yokohama menjadi saksi duel dua kutub sepak bola yang sama kuatnya. Jerman tampil agresif di awal laga, mendominasi 15 menit pertama dengan pressing tajam dan beberapa peluang yang mengancam. Brasil, yang memulai pertandingan pukul 20.00 waktu setempat, terlihat sabar dan menunggu momen.

Peluang pertama Brasil datang di menit ke-18 ketika Ronaldinho mengirim bola ke Ronaldo yang tinggal berhadapan dengan Kahn. Sayangnya, sepakan kaki kiri sang striker masih melebar. Sepanjang babak pertama, Ronaldo mendapat tiga peluang emas, tetapi semuanya gagal dimaksimalkan, sebagian karena tekanan, sebagian karena ketangguhan Kahn.

Sementara itu, Jerman juga punya peluang lewat Jeremies dan Neuville, tapi penyelesaian akhir mereka tumpul. Babak pertama berakhir tanpa gol, tapi dengan tekanan emosional yang semakin menumpuk, terutama bagi Ronaldo. Tiga peluang gagal di final bisa membunuh kepercayaan diri siapa pun—kecuali dia.

Babak Kedua: Momen yang Ditunggu Seluruh Dunia

Pertandingan kembali dimulai, dan Jerman hampir membuka keunggulan lewat sundulan Jeremies serta sepakan bebas Neuville yang ditepis Marcos ke tiang. Brasil membalas lewat Kleberson dan Roberto Carlos yang terus meneror sisi kanan pertahanan Jerman. Namun, skor masih kacamata.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Hingga menit ke-67, ketika Rivaldo melepaskan tembakan rendah yang gagal ditangkap sempurna oleh Kahn. Ronaldo yang terus membayangi, dengan naluri predatornya, menyambar bola muntah itu ke pojok gawang. Gol itu menghentikan rekor clean sheet Kahn selama 427 menit dan menggetarkan seisi stadion. Dua belas menit berselang, Kleberson memimpin serangan balik cepat yang dituntaskan dengan cerdas oleh Ronaldo. Rivaldo membiarkan bola lewat di antara kakinya, dan Ronaldo menyelesaikan peluang dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh pemain besar. Skor 2-0, dan sejarah pun ditulis.

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan