3 Poin Besar Kongres Biasa PSSI 2025: Peran Asprov Makin Krusial

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkap ada tiga poin besar yang dihasilkan dari Kongres Biasa PSSI 2025. Salah satunya menitikberatkan pada bertambah besarnya peran Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI dalam mendorong perkembangan sepak bola nasional.

Diperbarui 05 Juni 2025, 11:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta PSSI resmi mengakhiri Kongres Biasa 2025 di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/6/2025) malam WIB.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkap ada 3 poin keputusan besar terlahir dalam rangkaian agenda yang dimulai sejak siang hari itu.

Salah satu yang digarisbawahi ialah bertambah krusialnya peran Asprov PSSI dalam mendorong perkembangan sepak bola nasional.

Nakhoda federasi menegaskan bahwa daerah-daerah kini akan menjadi ujung tombak bagi sepak bola Indonesia.

Untuk itu, asosiasi provinsi (asprov) dan kabupaten/kota (askab/askot) berperan membangun koordinasi dan bersinergi guna fleksibilitas pengembangan sepak bola di daerah

"Tentu ada tiga poin besar di mana kita ada perubahan statuta, yang tadinya 2019 diubah menjadi 2025. Yang terpenting dalam perubahan statuta itu bahwa peran sepak bola nasional sekarang tidak hanya bergantung di nasional itu sendiri, tetapi kita berharap ujung tombaknya sekarang justru di daerah-daerah," papar Ketum Erick Thohir.

"Karena itu peran asprov dalam statuta baru ini sangat kuat," tegasnya lagi.

Sinergi Asprov dan Askab/Askot

Lebih lanjut dengan adanya statuta baru ini, pimpinan asprov tetap akan dipilih melalui pemilihan terbuka. Namun, punya wewenang menunjuk ketua askot/askab.

Selanjutnya pihak-pihak tersebut diharapkan menjalin koordinasi dan sinergi, terutama terkait pelaksanaan liga 4. Klub-klub di kabupaten/kota yang jumlahnya tak cukup untuk membangun kompetisi harus bisa diakomidasi oleh klub-klub dari wilayah lainnya.

"Ketua asprov tetap pemilihan terbuka. Llalu untuk membangun infrastrukturnya, pimpinan asprov akan menunjuk yang namanya ketua askot/askab," papar Erick Thohir.

"Selama ini, ketika kita membangun sepak bola di daerah-daerah, sulit sekali koordinasi antara asprov dan juga kota. Dengan sekarang bersinergi seperti ini, ketika bicara nantinya liga 4, itu akan di kota-kota selama 4 bulan. Juaranya liga 4 akan naik ke provinsi, lalu kita putar liga 3. Artinya apa? Ada kesinambungan."

"Contoh misalnya Bali, ada 9 kabupaten/kota. Jumlah klubnya sampai 50 kalau tidak salah. Tapi hanya ada 2 kota yang punya klub 14, artinya klub di 7 kota yang lain tidak cukup untuk melakukan kompetisi. Kalau sekarang asprov dan askot itu bisa bekerja sama, akan ada terobosan keputusan supaya liga 4 tetap jalan," tambahnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Menurut Ketum PSSI, mekanisme baru terkait peran apsrov ini lebih mungkin menghasilkan stabilitas. Alhasil ke depannya klub-klub tak terbatas pada zonasi yang kaku dan sulit diatur. "Fleksibilitas seperti ini selama ini sulit terjadi. (Padahal kasus lainnya) ada satu pulau di Kalimantan Timur yang lebih dekat dengan Kalimantan Utara (jadi terlalu jauh untuk berkompetisi dengan klub-klub lain di Kaltim), lalu apa solusinya? Apa kita diamkan mereka tidak main bola?" "Kalau asprov dan askot bersatu, mereka bisa tukar supaya wilayah itu tidak masuk Kalimantan Timur, tetapi Kalimantan Utara karena jarak tempuhnya. Kita ini 17.000 kepulauan, ujung satu ke lain bisa habis 8 jam. Kalau kita stigmanya dari zona kaku dan sulit diatur, akhirnya yang jadi korban kita semua," tandas dia.

Halaman
Show All
Theresia Melinda IndrasariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan