Pelangi Kehidupan Pele, Sang Raja yang Tak Ada Duanya

Pele, tak pelak adalah olahragawan yang tak ada duanya, prestasi dan ketenarannya melampaui batas sehingga dijuluki sebagai "O Rei", sang raja.

Diterbitkan 31 Desember 2022, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan Pele di luar lapangan sama berwarnanya dengan kostum Brasil yang dikenakannya. Ia melintasi generasi, jabatan, dan menikmati penghormatan dari seluruh dunia. Pele menembus dunia politik, iklan, film, dan budaya populer lainnya.

Ketenaran Edson Arantes do Nascimento alias Pele ini menembus sekat-sekat, yang membuatnya mudah bertemu dengan mantan Presiden Richard Nixon dan Jimmy Carter, aktor Sylvester Stallone, hingga petinju Muhammad Ali.

Seniman legendaris Amerika Serikat Andy Warhol mengenang saat ia mendapat tugas menghasilkan potret Pele pada tahun 1977. Warhol mengatakan: “Pele adalah salah satu dari sedikit orang yang bertentangan dengan teori saya: Alih-alih ketenaran selama 15 menit, dia akan memiliki 15 abad.”

Pele meninggal dunia 29 Desember 2022 lalu, dengan ketenaran yang memang melampaui semua olahragawan yang pernah ada. Ia dianggap sebagai pesepak bola terhebat yang pernah ada.

Ia dinamai Edson, tanpa huruf 'i' sebagai penghormatan kepada Thomas Alva Edison yang menemukan listrik. Dan ketika Pele lahir, listrik baru masuk ke desanya yang mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin.

Pele si bocah tumbuh dalam kemiskinan yang parah di favela Tres Coracoes, putra pesepak bola Joao Ramos do Nascimento (dijuluki Dondinho) dan Celeste Arantes.

Namun, dia dikenal dunia karena ketidakmampuan mengucapkan nama penjaga gawang lokal Vasco da Gama Bile. Meski, Pele tidak pernah membenarkan apakah memang hal itu yang membuatnya mendapat panggilan demikian.

Mengadopsi gen sepak bola dari ayahnya, Pele biasa bermain di jalanan dengan kaus kaki yang diisi koran dan diikat dengan tali, atau dengan jeruk.

Ia telah mengumpulkan 1.279 gol dalam 1.363 pertandingan, yang diakui sebagai Rekor Dunia Guinness ,meski banyak yang membantah karena termasuk pertandingan persahabatan. Dari sini ia dijuluki “O Rei” (Sang Raja).

 

Jasa Untuk AS

Di berbagai titik dalam karirnya, Pele didekati oleh klub-klub Eropa terkemuka seperti Real Madrid, Inter Milan, Juventus dan Manchester United. Namu ia tetap bersama Santos meskipun mereka secara teratur melakukan tur Eropa untuk memanfaatkan ketenarannya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Setelah dua tahun setengah pensiun, dia menandatangani kontrak dengan New York Cosmos pada tahun 1975 dan bermain di Liga Sepakbola Amerika Utara (NASL). Di AS yang saat itu sepakbola belum popular, mengejutkan ketika publik begitu antusias menyambutnya, tak lama setelah ia tiba dan tampil di Boston. Mereka begitu histeris melihat Pele, hingga sang megabintang ini sampai pingsan terhimpit, dan harus dibawa dengan tandu. Sepakbola AS berhutang budi kepada Pele, karena ia menghidupkan gairah, dan mengundang nama-nama besar untuk bermain di negeri Paman Sam itu. Beberapa legenda seperti George Best, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruyff datang untuk bermain di sana. Teman baiknya, Muhammad Ali dan Bobby Moore menghadiri pertandingan terakhir kariernya pada tahun 1977, pertandingan eksibisi antara Cosmos dan Santos. Saat hujan turun di atas stadion pada babak kedua, sebuah surat kabar Brasil menulis: "Bahkan langit menangis." 

Halaman
Show All
Yo Kavya, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan