Bola Ganjil: Misi Mustahil Fabio Quartararo di MotoGP Valencia

Dalam 74 tahun gelaran Kejuaraan Dunia Balap Motor, 18 gelar juara dunia ditentukan pada balapan terakhir. Dari 18 momen tersebut, hanya tiga yang bisa mengejar ketertinggalan untuk menduduki takhta.

Diperbarui 24 November 2023, 22:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembalap Monster Energy Yamaha Fabio Quartararo mendapat tugas berat dalam usaha mempertahankan mahkota juara dunia MotoGP. Dia harus mengejar defisit 23 poin dari Francesco Bagnaia pada seri terakhir di Valencia, Minggu (6/11/2022).

Situasi ini tidak terbayangkan pada paruh kompetisi MotoGP 2022. Pasalnya, Quartararo sempat memimpin 91 angka atas andalan Ducati Lenovo tersebut.

Namun, situasi akhirnya berbalik akibat kontrasnya performa. Quartararo gagal menambah nilai pada empat dari sembilan ajang terakhir, serta cuma dua kali naik podium.

Sebaliknya, Bagnaia lima kali jadi pemenang lomba, plus tiga kali menduduki podium, pada kurun waktu sama.

Dengan situasi ini, Quartararo harus memenangkan balapan di Sirkuit Ricardo Tormo untuk memutar ketinggalan. Di saat bersamaan, Bagnaia mesti menduduki posisi 15 atau lebih buruk.

Syarat yang sulit terjadi melihat performa dua rider tersebut. Terlebih Bagnaia didukung tujuh pembalap Ducati lain.

Dalam keadaan terjepit, Managing Director Yamaha Lin Jarvis masih mengusung optimisme. Dia merujuk peristiwa 2006.

Ketika itu Valentino Rossi diunggulkan bakal menjadi juara dunia karena memimpin delapan poin atas Nicky Hayden memasuki balapan pamungkas. Rossi ternyata mengalami crash dan Hayden menyelesaikan lomba di urutan tiga.

"Kami masih terlibat pertarungan. Sebab, tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi. Kita harus menang balapan, yang jelas tidak mudah. Di sisi lain, rival juga mesti terpuruk. Semua mungkin di olahraga," ungkap Jarvis, dilansir Crash.

 

Hanya 3 Kali

Dalam 74 tahun gelaran Kejuaraan Dunia Balap Motor, 18 gelar juara dunia ditentukan pada balapan terakhir. Momen perdana terjadi pada 1950. Umberto Masetti menduduki peringkat dua di Monza demi merebut gelar. Dia memimpin satu angka atas Geoff Duke yang memenangkan balapan pada klasemen akhir.

Sedangkan perebutan takhta pada seri pamungkas teranyar terjadi di 2017. Ketika itu Marc Marquez melakoni balapan di Valencia berbekal keunggulan 21 poin atas Andrea Dovizioso. Marquez menempati posisi tiga di lomba sementara Dovizioso gagal menyelesaikan balapan.

Dari 18 momen tersebut, hanya tiga yang bisa mengejar ketertinggalan untuk menduduki takhta. Selain 2006 yang melibatkan Rossi dan Hayden, dua anomali lain terjadi pada 1992 dan 2015.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Tahun 1992, juara bertahan Mick Doohan menderita cedera patah tulang di Assen sehingga harus melewatkan empat seri. Dia kembali untuk lomba di Interlagos dan bisa menempati posisi 12 dalam kondisi fisik belum 100 persen. Capaian itu masih cukup untuk membuatnya tetap unggul atas Wayne Rainey di klasemen sementara jelang balapan penutup di Afrika Selatan. Namun, selisih keduanya kini cuma dua poin. Rainey kemudian memutar keadaan setelah menempati peringkat tiga di Sirkuit Kyalami, dengan Doohan menempati posisi enam.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan