Sukses

Pemain NBA Hina Xi Jinping, Pertandingan Boston Celtics Terlarang di China

Liputan6.com, Jakarta- NBA kembali terkena masalah di China. Teranyar, pertandingan NBA yang melibatkan klub Boston Celtics terpaksa tak bisa tayang di negeri Tirai Bambu setelah salah satu pemainnya secara terbuka menghina presiden Xi Jinping.

Salah satu pemain Celtics Enes Kanter terang-terangannya menghina Presiden China Xi Jinping di beberapa media sosial pada pertengahan pekan ini. Pria Turki itu menjuluki Xi sebagai diktator brutal.

Kanter menyerang Xi pada Rabu (20/10/2021) saat mengunggah video dan berbicara lantang menentang "genosida budaya" di Tibet, sebuah wilayah otonom di sebelah barat China di mana pemerintah China telah menindak kebebasan dan melakukan kontrol.

Pada video tersebut, Enes Kanter menyatakan mendukung penuh rakyat Tibet. Dia juga memakai kaos bergambar biksu ternama Tibet, Dalai Lama.

China nampaknya tak terima dengan aksi Kanter tersebut. Perusahaan China yang memegang hak siar NBA, Tencent langsung menghapus siaran langsung maupun cuplikan pertandingan Boston Celtics, klub tempat Kanter bernaung.

2 dari 3 halaman

Tibet

Aksi Celtics dan Kanter tak lagi bisa disaksikan warga China melalui website dan aplikasi Tencent. Demikian diberitakan Yahoo Sports.

Laga perdana Celtics di NBA 2021/2022 melawan New York Knicks tak bisa ditonton di China. Langkah Tencent nampaknya cukup tepat. Pada laga tersebut Kanter melanjutkan aksi dukungan untuk Tibet. Dia memakai sepatu dengan tulisan "FREE TIBET".

3 dari 3 halaman

Boikot Fans

Pemerintah China memang sangat sensitif terhadap masalah politik yang menyerang negaranya. NBA sebelumnya pernah bermasalah akibat kicauan petinggi Houston Rockets yang mendukung aksi demo warga Hong Kong terhadap China pada tahun 2019 lalu.

Langkah boikot Celtics ternyata didukung warga China. Di media sosial mereka marah dengan pernyataan Kanter terhadap Xi Jinping. Bahkan kelompok penggemar Celtics di China sudah menyatakan akan berhenti menyebarkan informasi mengenai tim kesayangannya itu sebagai bentuk kecaman terhadap pernyatan Kanter.