Mengenang Asian Games 1958, Prestasi Terbaik Timnas Indonesia di Panggung Sepak Bola

Di luar Asian Games 1958 di Tokyo, Timnas Indonesia gagal bicara banyak, bahkan di panggung Asia Tenggara.

Diterbitkan 07 Mei 2020, 17:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Timnas Indonesia mencatat prestasi terbaik ketika merebut medali perunggu Asian Games 1958 di Tokyo. Di luar itu, Merah Putih gagal bicara banyak, bahkan di panggung Asia Tenggara.

Pada Asian Games 1958, Timnas Indonesia bergabung di Grup B bersama India dan Burma (Myanmar). Indonesia sukses revans atas kekalahan empat tahun lalu ketika melawan Burma pada laga perdana dengan skor 4-2. Tim Garuda lalu menerkam India dengan skor 2-1 untuk memastikan sebagai pemuncak Grup B.

Berlabel juara grup, Indonesia terhindar dari masalah dini, menghadapi favorit juara, Hongkong di perempat final.

Babak perempat final memang tak begitu sulit bagi Liong Houw dkk. Mereka dengan mudah menyikat Filipina dan lolos ke semifinal. Taiwan, sudah menunggu di babak ini sekaligus sebagai tim yang memupus harapan Indonesia melaju ke final. Indonesia tunduk dengan skor 0-1 meski sepanjang pertandingan mampu menguasai.

"Kekalahan atas Taiwan akibat kurang cepat dalam dari bertahan ke menyerang. Indonesia mendapat empat peluang namun gagal. Sedangkan lawan begitu satu peluang langsung berbuah gol," kata Maulwi kepada Harian Umum.

Pada era 1950-an, Taiwan memang kerap menjadi sandungan Timnas Indonesia. Pada semifinal Asian Games 1954 di Manila, Indonesia jga tumbang di semifinal dengan skor 2-4.

Kembali ke Asian Games 1958, India yang pernah dikalahkan Indonesia pada fase grup, menanti pada laga perebutan medali perunggu. Masih dengan penuh semangat, Timnas Indonesia memukul telak India dengan skor 4-1 dan meraih perunggu, satu-satunya medali dari ajang tersebut hingga saat ini.

Antun Pogacnik dan Diplomasi Indonesia - Yugoslavia

Perjalanan tim Garuda meraih perunggu pada pesta olahraga Asia itu diawali dengan hubungan diplomatik Indonesia dengan Yugoslavia pada era kepemimpinan Presiden Soekarno. Lewat relasi itu, Indonesia mendatangkan pelatih Yugoslavia, Antun ‘Toni’ Pogacnik pada 1954.

Pada era itu, Indonesia dan Yugoslavia sangat mesra dan menggalang kekuatan di dunia ketiga. Presiden Soekarno dan pemimpin Yugoslavia, Josip Broz Tito, sangat mendukung kedatangan Toni. Mereka yakin olahraga bisa menjadi wadah bagi kedua negara untuk bertukar pikiran dan bersahabat.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Jika Soekarno punya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), Tito dengan Socialist Federal Republic of Yugoslavia (SFRY). Mereka juga pemimpin yang menjadi pelopor Gerakan Non Blok. Soekarno dan Tito pun punya pandangan dan basis masa yang sama, serta prinsip loyalitas dan kerja keras. Prinsip itulah yang tercermin dalam filosofi sepak bola Toni Pogacnik. Begitu mendarat di Jakarta, Toni langsung memberikan perubahan. Ia berhasil membawa Indonesia tampil di Olimpiade Melbourne 1956. Zaman dulu, Toni juga melakukan penelusuran pemain sampai ke pelosok-pelosok daerah. Pada akhirnya hanya menyisakan 18 pemain yang berangkat ke Olimpiade. Selain itu, Timnas Indonesia intensif melakukan rangkaian uji coba, terutama melawat tim-tim Eropa Timur. Sebelum Asian Games Tokyo, ujian pertama Toni ialah Asian Games Manila 1954. Dengan skuat muda, Toni membawa Indonesia ke semifinal. Sayangnya, Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Burma (Myanmar) dengan skor 4-5 pada perebutan medali perunggu.

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan