Menilik Sejarah Jersey Timnas Indonesia: Mulai Kostum Abal-abal hingga Mills

Penunjukkan Mills sebagai apparel resmi Timnas Indonesia sempat memicu kontroversi.

Diterbitkan 22 April 2020, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - PSSI menggandeng brand lokal Mills sebagai penyedia apparel Timnas Indonesia mulai 2020. Ini bukan kali pertama Tim Merah-Putih menggunakan produk dalam negeri.

Mills mulai dipakai pada pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia pada 14-23 Februari tahun ini di Jakarta. Kerja sama ini akan berlangsung selama dua tahun.

"Kami resmi memilih Mills sebagai apparel Timnas Indonesia mulai tahun ini. Pemilihan ini melalui pertimbangan yang matang dan komitmen Mills untuk mensupport Timnas Indonesia," kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

"Selain itu Mills produk asli Indonesia. Kami mendukung program pemerintahan Presiden Jokowi untuk mengangkat UMKM dan produk lokal. Terbukti kualitas produk lokal kita tidak kalah dengan apparel dari Amerika dan Eropa. Dengan kepercayaan ini, kami berharap produk anak bangsa bisa mendunia. Semoga kerja sama ini berlangsung baik dan Timnas Indonesia meraih prestasi, " tambahnya.

Mills akan memenuhi kebutuhan Timnas Indonesia dari segala usia dan untuk timnas putri. Selain itu, Mills akan menyuplai kegiatan PSSI diantaranya kursus pelatih, kursus perwasitan, dan untuk asosiasi provinsi. Apparel asli Indonesia ini diharapkan menjadi produk yang berkualitas dan membanggakan.

Penunjukkan Mills sebagai apparel resmi Timnas Indonesia sempat memicu kontroversi. Pasalnya, PSSI sempat menjalin mitra dengan perusahaan asing asal Thailand, Warrix.

Jersey-jersey hasil disain Warrix telah didistribusikan dan dikenakan oleh Timnas Indonesia U-19 sewaktu pemusatan latihan (training centre) di Cikarang, Kabupaten Bekasi dan Chiang Mai, Thailand, akhir Januari lalu. Kok bisa PSSI membelot?

Polemik bermula ketika Warrix, melalui akun Instagram @warrixindonesia mengunggah pesan yang dapat diartikan bahwa apparel asal Thailand itu akan menggantikan Nike sebagai produsen seragam Timnas Indonesia pada 12 Januari 2020.

Sehari berselang, Mochamad Iriawan selaku Ketua PSSI membantah pihaknya telah resmi bekerja sama dengan apparel Timnas Thailand tersebut.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

>"Belum, masih ada peluang buat apparel lain. Kami coba dulu mana yang cocok dan mana yang bagus. Jadi, masih ada peluang untuk merk jersey yang lain," kata pria yang karib dipanggil Iwan Bule itu. Belakangan, pria yang juga menduduki posisi sebagai Sekretaris Utama (Sestama) Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) ini memastikan, PSSI tidak lagi berminat menjalin mitra dengan Warrix. Setelah melalui pertimbangan yang cukup matang, Iwan Bule terpukau dengan produk lokal bernama Mills. "Untuk seragam [Timnas Indonesia](4232359 ""), akhirnya kami putuskan untuk memakai buatan lokal. Alasannya, pertama bahannya lebih bagus. Kedua, kami ingin memajukan produk lokal. Apa bedanya usaha mikro kecil dan menengah di Thailand dengan di sini. Maka dari itu, kami memilih produk Indonesia," kata Iwan Bule, 8 Februari 2020. Padahal dua hari sebelum Iwan Bule menjatuhkan pilihan kepada Mills, Warrix telah mengenalkan seragam untuk Timnas Indonesia di Jakarta. Namun, apparel yang berdiri pada 2013 ini memilih untuk bermain aman dalam mengomentari kontroversi kerja sama dengan PSSI. "Untuk saat ini saya tidak ingin berkomentar. Pernyataan yang ada di media Thailand itu bukan berasal dari kami. Jadi, kami tidak bisa mengatakan apa pun," kata Atsuo Ogura, International Business Development Warrix, 6 Februari 2020. "Soal jersey latihan yang digunakan Timnas Indonesia, kami hanya sebatas memberi dukungan. Jadi, kami belum bisa berbicara lebih jauh soal itu," Lanjut Ogura. Terlepas dari kontroversi itu, sejatinya bukan kali pertama PSSI bermitra dengan apparel lokal. Hal itu terjadi pada era 1960 hingga 1990-an, saat Tim Merah-Putih belum dilirik perusahaan penyedia jersey sepak bola raksasa dunia macam Adidas dan Nike. Kedua perusahaan itu lebih berminat mensponsori tim-tim di percaturan elite. Indonesia, jangankan lolos ke Piala Dunia, bermain di level Piala Asia prestasinya relatif pas-pasan. Walau sejatinya, massa sepak bola fanatis di negara kita merupakan potensi pasar yang besar.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Rizki Hidayat, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan