Sukses

Deretan Striker Tajam di Liga Indonesia dari Masa ke Masa, Ada Cristian Gonzales

Jakarta Cristian Gonzales menjadi salah satu fenomena di sepak bola Indonesia. Pemain kelahiran Uruguay dan kini jadi warga negara Indonesia ini tercatat sebagai pemain paling produktif di sejarah sepak bola Indonesia sejak era Liga Indonesia.

Cristian Gonzales lahir di Montevideo, Uruguay, pada 30 Agustus 1976. Pemain yang akrab disapa El Loco itu datang ke Indonesia setelah diboyong PSM Makassar dari Deportivo Maldonando pada 2003.

Ketika itu, Gonzales yang berusia 27 tahun langsung tampil menggebrak. Gonzales berhasil tampil tajam dengan sumbangan 27 gol terpaut empat gol dari rekan setimnya, Oscar Aravena.

Sayang, memiliki dua penyerang hebat tetap tak membuat PSM meraih gelar juara. Klub berjulukan Juku Eja itu finis kedua selisih lima poin dari Persik Kediri yang jadi kampiun.

Musim selanjutnya, performa Gonzales menurun. Sang pemain hanya mencetak lima gol dalam 18 pertandingan. Pada akhir musim, Gonzales memutuskan hijrah ke Persik Kediri.

Ini menjadi awal ketenaran Gonzales. Pada musim perdana, Gonzales berhasul mencetak 25 gol sekaligus meraih gelar pencetak gol terbanyak. Namun, Persik gagal juara karena terhenti di babak 8 besar.

Cristian Gonzales dkk. bekerja keras untuk meladeni sekaligus menghibur fans Persik dalam laga ekshibisi peringatan 10 tahun Persik juara LI kontra Madura United, Minggu (10/4/2016). Pada laga ini El Loco cs. kalah 1-2. (Bola.com/Robby Firly)

Rasa penasaran Gonzales akhirnya berakhir pada 2006. Gonzales berhasil mengantarkan Persik Kediri menjadi juara Liga Indonesia sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak lagi dengan raihan 29 gol.

Musim berikutnya, Gonzales kembali menjadi pencetak gol terbanyak di liga dengan sumbangan 32 gol. Sayangnya, gagal mempertahankan gelar karena finis di posisi 8 besar.

"Itu menjadi kenangan yang tidak bisa saya lupakan. Saya menjadi pencetak gol terbanyak di liga selama tiga musim berturut-turut bersama Persik Kediri. Itu juga masuk rekor MURI," ujar Gonzales.

Setelah hengkang dari Persik pada 2008, Gonzales kemudian bergabung dengan Persib Bandung dan mencetak 41 gol. Pemain berpostur 177 cm itu juga pernah memperkuat Persisam Putra Samarinda (2011-2012), Arema (2013-2017), PSS Sleman (2018-2019), dan PSIM Yogyakarta (2019-2020).

Saat ini Cristian Gonzales belum memutuskan untuk pensiun meskipun sudah berusia 43 tahun. Namun, Gonzales sedang menganggur karena belum ada klub yang tertarik menggunakan jasanya. Secara keseluruhan, Gonzales sejauh ini sudah mencetak 249 gol.

2 dari 4 halaman

Budi Sudarsono

Indonesia juga pernah memiliki penyerang tajam bernama Budi Sudarsono. Pemain yang akrab disapa Si Piton itu tercatat mengumpulkan 185 gol selama bermain di Indonesia.

Gol-gol itu dikumpulkan Budi bersama Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Deltras Sidoarjo, Persik Kediri, Persib Bandung, dan Sriwijawa FC.

Budi juga menjadi bagian Persija saat meraih gelar Liga Indonesia 2001. Ketika itu, Budi menjadi pemain Persija paling tajam dengan sumbangan 20 gol. Sayangnya, pada laga final Budi tidak bermain.

"Waktu itu saya paling muda. Saya baru main dari PON (Pekan Olahraga Nasional), terus langsung main di Liga dua kali. Yang pertama di Surabaya, yang kedua di Persija," kata Budi.

"Saya sendiri enggak main. Padahal waktu itu top scorer Persija. Nomor dua nasional selisih dua gol dari top scorer saat itu," ujar Budi.

Budi Sudarsono akhirnya gantung sepatu pada 2015. Persikabo Bogor menjadi klub terakhir Budi setelah malang melintang di sepak bola Indonesia sejak 1999.

3 dari 4 halaman

Bambang Pamungkas

Di peringkat ketiga ada nama Bambang Pamungkas. Pemain yang akrab disapa Bepe itu mencetak 178 gol dalam kariernya di Indonesia bersama Persija Jakarta dan Pelita Bandung Raya.

Masa-masa keemasan Bepe terjadi pada 1999-2000. Ketika itu, pemain asal Salatiga tersebut mencetak 24 gol dalam semusim. Sayangnya, Persija gagal juara karena tersingkir di semifinal.

Namun, semuanya dibayar lunas pada musim berikutnya. Bepe berhasil membawa Persija menjadi juara Liga Super 2001 dan meraih penghargaan pemain terbaik.

"Persija adalah rumah saya. Setiap pergi ke tempat lain, saya selalu berfikir untuk pulang ke rumah saya," ujar Bambang Pamungkas.

Bepe harus menunggu 17 tahun untuk membawa Persija menjadi juara lagi. Akan tetapi, ketika itu perannya tidak terlalu besar karena hanya mencetak 1 gol dalam 13 laga. Bepe akhirnya pensiun musim berikutnya, yaitu pada 2019.

4 dari 4 halaman

Boaz Solossa dan Beto Goncalves Masih Bisa Menyusul

Catatan-catatan tersebut berpeluang dilampau dua nama yakni Boaz Solossa dan Beto Goncalves. Keduanya saat ini masih aktif bermain dan menjadi andalan di klubnya masing-masing.

Boaz Solossa menjadi andalan di Persipura sejak pertama kali merumput pada 2004. Boaz sudah mencetak 176 gol bersama tim berjulukan Mutiaran Hitam di kompetisi elite Indonesia.

Dengan demikian, Boaz membutuhkan lebih dari 73 gol untuk melampaui pencapaian Cristian Gonzales. Jumlah yang tak sedikit, namun tak mustahil untuk dilampau karena sang pemain masih berusia 34 tahun.

Striker Madura United, Beto Goncalves, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persela Lamongan dalam laga pekan pertama Shopee Liga 1 2019 di Stadion Surajaya, Lamongan, Jumat (17/5/2019). Madura United menang 5-1 atas Persela dalam laga itu. (Bola.com/Aditya Wany)

Sementara itu, Beto Goncalves sejauh ini sudah mencetak 149 gol sejak pertama kali bermain di Indonesia pada 2009. Jumlah tersebut dikumpulkannya bersama Persipura, Arema, Sriwijaya FC, dan Madura United.

Beto membutuhkan 100 gol lagi untuk bisa menyamai pencapaian Cristian Gonzales. Jumlah yang sangat besar apalagi sang pemain kini sudah berusia 39 tahun.

"Jelas usia saya tak muda lagi. Namun, saya tidak pernah berpikir sudah kenyang karena saya selalu haus mencetak gol. Saya masih bisa mencetak gol dan penampilan saya masih bagus. Jadi, untuk apa berhenti?" kata Beto.

Disadur dari Bola.com (Zulfirdaus Harahap/Endo,published 1/4/2020)

SILATURAHOME PONARYO