Sukses

Hantavirus Lebih Bahaya dari Virus Corona Covid-19? Simak Fakta di Balik Temuannya  

Liputan6.com, Jakarta Pandemi virus Corona model tebaru, Covid-19 belum juga berakhir. Saat ini, jumlah kasus yang terjadi di berbagai belahan dunia masih terus menunjukkan peningkatan.

Menurut data terbaru yang diterbitkan John Hopkins University, hingga Kamis (26/3/2020) pukul 12.00, jumlah korban virus Corona Covid-19 sudah mencapai 471.518 orang di mana 21.306 di antaranya meninggal dan 114.444 berhasil diselamatkan. 

Sejumlah negara telah menerapkan kebijakan lockdown untuk menahan laju penyebaran virus ini. Sementara sebagian lainnya membatasi kegiatan warga dengan kebijakan bekerja dari rumah. 

Pandemi global virus Corona Covid-19 juga membuat berbagai sektor perekonomian, termasuk industri pariwisata terpuruk. Kegiatan-kegiatan olahraga di berbagai belahan dunia juga lumpuh. Petugas medis kini harus berjibaku untuk menyelamatkan pasien-pasien yang terinfeksi virus penyebab Covid-19 itu.

Di tengah situasi seperti ini, dunia kembali dikejutkan dengan penemuan kasus Hantavirus di China. Virus yang berasal dari tikus ini telah membunuh satu orang di Negeri Tirai Bambu tersebut. 

Lalu, apa saja yang sudah diketahui mengenai virus ini? Bernarkah hantavirus lebih berbahaya dari Covid-19? Simak beberapa temuan seputar virus ini di halaman berikutnya. 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 9 halaman

Bukan Virus Baru

Berbeda denga virus Corona Covid-19, Hantavirus ternyata bukanlah virus yang dalam dunia ilmu pengetahuan. Virus yang ditularkan oleh tikus sudah dipelajari sejak 1993 lalu. Dan Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus-kasus hantavirus jarang terjadi, dan mereka menyebar sebagai akibat dari kontak yang dekat dengan urin, kotoran atau air liur hewan tersebut.

 

3 dari 9 halaman

Mirip Covid-19

Menurut jurnal medis, Infection Control, penyakit yang disebabkan hantavirus mirip dengan Covid-19. Virus ini juga menyerang saluran pernapasan dan dikenal dengan nama hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Meski demikian, belum diketahui bagaimana virus itu bisa menginfeksi paru-paru. 

Sementara temuan lain menyebutkan, kasus HPS sangat jarang terjadi. 

4 dari 9 halaman

Ikhwal Temuan Baru Hantavirus

Kasus Hantavirus terbaru pertama kali disampaikan oleh Global Times. Senin lalu, media yang dikelola pemerintah China itu melaporkan kasus kematian pria Provinsi Yunnan, akibat terjangkit Hantavirus.

Pria tersebut meninggal saat dalam perjalanan menggunakan bus menuju provinsi Shandong untuk bekerja. Setelah kejadian itu, sebanyak 32 penumpang lainnya pun telah menjalani pemeriksaan. 

 

 

5 dari 9 halaman

Menyebar Lewat Udara

Kasus Hantavirus tidak hanya terdapat di China. Kasus yang sama juga pernah ditemukan di Amerika Serikat. Sementara di Argentina dan Chile, hantavirus juga memiliki jenis yang disebut Andes Virus. 

Menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus menyebar lewat udara dari kotoran dan air liur tikus. CDC menambahkan, beberapa jenis tikus di AS diketahui mampu menularkan virus tersebut kepad manusia yang tidak sengaja menghirup udara yang sudah terkontaminsasi.  

Meski demikian, sangat jarang kasus penularan yang terjadi antarmanusia ke manusia. "Kasus langka penularan manusia ke manusia terjadi di Argentina dan Chile ketika seseorang kontak sangat dekat dengan orang yang terjangkit Hantavirus tipe Andes Virus," tulis CDC dalam laman resminya.

 

6 dari 9 halaman

Sudah Tersedia Vaksinnya

Berita Global Times tersebut tentu saja menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan awam. Sebab seperti diketahui, virus corona jenis terbaru penyebab Covid-19 juga pertama kali ditemukan di China, pada akhir tahun lalu. Virus yang belum ada vaksinnya itu kemudian menyebar ke berbagai negara.

Ahli virologi dari Wuhan University, mengatakan, tidak perlu khawatir terhadap Hantavirus. Sebab kasus ini sangat jarang terjadi dan tidak seperti Covid-19, Hantavirus sudah bisa dicegah.   

Berikut petikan pernyataannya kepada Global Times seperti dikutip Newsweek:

 

"Tidak perlu khawatir mengenai hantavirus. Penyakit ini bisa dikendalikan dan dicegah dan sudah ada vaksin penangkalnya. Kasus ini sangat jarang ditemukan di perkotaan karena penyakit ini lebih banyak terjadi di desa-desa di mana tikus sering muncul saat orang-orang bekerja di ladang." 

 

 

7 dari 9 halaman

Tikus-Tikus Pembawa Virus

Ternyata, tidak semua tikus mampu menularkan Hantavirus. Menurut Asosiasi Paru-Paru Amerika Serikat (ALA), di negaranya, tikus rusa menjadi salah satu jenis pembawa utama virus ini. Sementara pembawa Hantavirus lainnya adalah jenis seperti tikus ekor putih, tikus kapas, dan tikus padi.

Sementara tikus rumah dan tikus Norwegia yang paling sering ditemui di komunitas perkotaan bukan sebagai pembawa Hantavirus. 

8 dari 9 halaman

Pengobatan yang Dilakukan

Sejauh ini belum ada pengobatan spesifik bagi orang yang terinfeksi hantavirus. Meski demikian, menurut Asosiasi Paru Amerika Serikat, jika viru sini dikenali sejak dini dan pasien segera mendapat perawatan di unit gawat darurat (ICU), mereka berpeluang besar untuk diselamatkan. 

Penanganan di ICU sebagian besar hanya bersifat pendukung, dan bisa juga terapi intubasi dan oksigen, pergantian cairan, dan penggunaan obat untuk meningkatkan tekanan darah. 

Kadang-kadang obat antivirus, seperti ribavirin, digunakan untuk mengobati jenis hantavirus lain dan infeksi terkait. Namun, tidak ada uji coba besar yang membuktikannya berhasil, tetapi dokter mungkin akan mencobanya dalam kasus yang sangat parah. Pemulihan biasanya berjalan lambat dan pasien biasanya merasa lemah dan kelelahan, serta gangguan dalam gerakan tubuh.   

 

 

9 dari 9 halaman

Kapan Harus ke Dokter

Pertolongan pertama sangat penting dalam penanganan infeksi hantavirus. Menurut ALA, Jika Anda mengalami demam yang tidak dapat dijelaskan, sakit tubuh, sakit perut, diare, sakit kepala, batuk kering, atau kesulitan bernapas yang parah, Anda harus mengunjungi penyedia layanan kesehatan

Agnes Keleti, Atlet Peraih Medali Olimpiade Tertua
Loading
Artikel Selanjutnya
Jose Mourinho Takkan Biarkan Harry Kane Gabung ke Manchester United
Artikel Selanjutnya
Sydney Lockdown karena Virus Corona, Dua Pemain A League Malah Mabuk di Jalanan