Rapid Test Corona Covid-19 Bukan untuk Diagnosis Virus, Ini Penjelasannya

Pemerintah RI telah menerapkan tes Corona COVID-19 massal dengan metode rapid test, sejak Jumat (20/3).

Diterbitkan 21 Maret 2020, 11:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Bukan masyarakat umum sesuai nomor KTP gitu. Tapi masyarakat yang sudah positif atau pernah berkontak dengan orang lain yang positif atau ada gejala COVID-19. Misalnya, ada karyawan yang positif COVID-19. Nah, itu jadi teman-teman satu kantor yang berhubungan dengan dia harus diperiksa. Skriningnya ini nanti yang menggunakan rapid test," jelas Yuri.

Lama Waktu Hasil yang Keluar

Untuk orang-orang yang menjalani rapid test tak perlu menunggu lama untuk mengetahui hasilnya. Sebab, hasil rapid test akan keluar secara cepat. Yuri menuturkan, hasilnya bisa keluar dalam hitungan menit.

 

Diuji Ulang dengan PCR

Skrining dengan rapid test Corona massal untuk mengetahui secara awal, apakah seseorang mengarah pada gejala COVID-19. Hasil skrining yang positif akan diuji menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) atau real time polymerase chain reaction (RT-PCR).

"Apabila dinyatakan positif, individu yang telah melakukan skrining melalui pendekatan ini (rapid test) akan diuji ulang dengan metode tes polymerase chain reaction (PCR) yang jauh lebih akurat," Yuri menegaskan.

PCR ini menggunakan sampel usapan (swab) lendir dan tenggorokan. Kita mengenalnya dengan metode swab tenggorok. PCR-lah yang akan menjadi acuan diagnosis, seseorang positif atau tidak COVID-19.

Isolasi Diri dan Komunikasi

Isolasi diri dan konsultasi menjadi salah satu upaya dalam pelaksanaan skrining massal. Individu yang teridentifikasi positif dari hasil rapid test, tidak harus dirujuk ke rumah sakit rujukan.

"Tidak semua harus dirujuk ke rumah sakit rujukan. Namun, kondisi individu akan didiagnosis lebih lanjut, apakah memiliki gejala ringan atau tidak. Apabila terdiagnosis gejala ringan, pasien dapat melakukan isolasi diri secara mandiri,” jelas Yuri.  

Selama isolasi diri rumah, orang yang bersangkutan akan dipantau tenaga kesehatan setempat maupun dapat berkonsultasi secara virtual.

"Konsultasi secara virtual ini dengan menggunakan aplikasi online, misalnya, Halodoc dan aplikasi lain, yang mungkin nanti akan dikembangkan lebih lanjut. Kemudian pasien yang menunjukkan gejala sedang hingga berat akan dipindahkan ke rumah sakit rujukan," tegas Yuri.

(Fitri Haryanti Harsono/Dyah Puspita)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan