4 Pemain Ini Jadi Pengoleksi Terbanyak Gelar Liga 1

Para pemain ini mampu tampil konsisten di kompetisi teratas Indonesia atau sekarang dikenal dengan Liga 1 dan menjadi pengoleksi terbanyak gelar.

Diterbitkan 17 Juli 2019, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ia ikon generasi emas Papua usai menjadi juara PON 2004.

Tim Mutiara Hitam kebanjiran pemain-pemain bertalenta yang secara signifikan mengerek performa dan prestasi tim. Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, Christian Worabay, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, adalah pemain belia alumnus PON 2004.

Khusus Boaz, ia melejit jadi superstar. Ia menjelma jadi penyerang terbaik Indonesia pasca era Bambang Pamungkas.

Ia satu-satunya bomber lokal yang bisa eksis di persaingan perburuan sepatu emas yang selalu didominasi penyerang-penyerang asing.

Boaz tercatat menjadi pencetak gol terbanyak Indonesia Super League musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), 2013 (25 gol). Berbarengan dengan itu ia juga didapuk sebagai pemain terbaik.

Pada musim 2016 ia juga jadi best player Torabica Soccer Championship.

Sepanjang kariernya Boaz menikmati gelar juara kompetisi sebanyak lima kali, yakni pada musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, 2013, dan 2016.

Belum ditambah trofi Community Shield Indonesia 2009 dan Inter Island Cup 2011. Hebatnya semua itu dicapai hanya di satu klub: Persipura.

Ian Kabes

Sama seperti Boaz Solossa, Ian Kabes merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Persipura.

Usai membela tim PON Papua pada edisi 2004, pemain kelahiran 13 Mei 1986 langsung jadi bagian tim utama Persipura memenangi gelar prestisius Liga Indonesia 2005.

Ia jadi duet Boaz di sektor sayap ofensif Persipura. Raihan gelar keduanya sama. Hanya yang membedakannya Ian Kabes tak pernah merasakan gelar pribadi sebagai top scorer atau pemain terbaik.

Namun, lepas dari itu Kabes adalah sosok vital yang memberi warna pada lini depan Persipura. Hingga saat ini pemain berusia 33 tahun tersebut tetap menjadi pilihan utama Tim Mutiara Hitam.

Ian Kabes dikenal pemain yang disiplin dan berkepribadian baik di dalam dan luar lapangan. Jarang ada cerita negatif tentang dirinya.

Bambang Pamungkas

Penyerang Persija Jakarta, Bambang Pamungkas, mencetak rekor pribadi dalam laga leg pertama semifinal Piala Indonesia 2018 melawan Borneo FC, Sabtu (29/6/2019). Pemain berusia 39 tahun itu mencetak gol ke-200 untuk Macan Kemayoran. Sebuah pencapaian luar biasa buat pemain yang usianya amat uzur buat ukuran seorang pesepak bola.

Bermain di Stadion Wibawa Mukti Cikarang, kedua tim tampil sama kuat 1-1 hingga menit ke-90. Gol Persija dicetak Yan Pieter Nasadit (2'), sedangkan gol Borneo FC dibukukan Terens Puhiri (38').

Pada injury time, Bambang Pamungkas justru memberikan kejutan berupa gol kemenangan untuk Persija. Gol pada menit ke-96 tersebut lahir setelah memanfaatkan umpan silang Riko Simanjuntak yang disempurnakan melalui sundulan.

Bambang Pamungkas pertama kali membela Persija Jakarta pada edisi 1999. Ia sempat dipinjam klub Divisi III Belanda, EHC Norad setahun berselang, sebelum kembali ke Tim Ibu Kota dan kemudian mempersembahkan gelar Liga Indonesia 2001.

Keputusan mengejutkan dibuat striker yang identik dengan nomor punggung 20 tersebut saat memutuskan hijrah ke klub Malaysia, Selangor FA pada tahun 2005. Dua musim melanglang-buana di Negeri Jiran, Bepe kembali ke klub yang ia cintai.

Di musim perdananya di Selangor FA, Bepe hattrick gelar: Malaysia Premier League, Malaysia Cu, Malaysia FA Cup.

Sang pemain sempat minggat dari Jakarta ke Pelita Bandung Raya pada musim 2013–2014, karena masalah prinsipil kasus tunggakan gaji dengan manajemen Persija, namun ujungnya kembali balik kucing setahun berselang.

Semenjak itu, Bambang setia ke Persija. Raihan trofi Piala Presiden 2018 dan Liga 1 2018 diprediksi bakal jadi momen perpisahan pemain asal Getas, Jawa Tengah itu. Namun, ternyata tidak demikian.

Bepe tetap punya passion bermain, sekalipun tidak lagi jadi pemain inti di Persija.

Supardi Nasir

Supardi Nasir kapten Persib Bandung jadi pemain tertua di Tim Maung Bandung. Di usianya yang memasuki 36 tahun ia tetap jadi pilihan inti di sektor kanan pertahanan. Ia tetap terlihat cepat, agresif, berstamina prima.

Pada pertengahan 2000-an pemain asal Bangka kelahiran 9 April 1983 tersebut pelanggan Timnas Indonesia.

Sepanjang kariernya dimulai tahun 2002, Supardi tercatat sudah membela enam klub, yakni: PS Palembang PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, Pelita Jaya, Sriwijaya FC dan Persib Bandung.

Cerita sukses Supardi dimulai saat dirinya berkarier di Sriwijaya FC. Di klub berjulukan Laskar Wong Kito ia pertama kali merasakan madu juara Indonesia Super League 2011-2012. Di klub tersebit ia juga sukses merasakan trofi Community Shield Indonesia 2010 dan Inter Island Cup 2010.

Keputusannya merantau keluar dari Tanah Sumatra menuju Bandung sempat memicu kehebohan. Pilihannya diambil untuk mencari tantangan baru.

Dan benar saja keputusannya pindah klub ke Persib berbuah gelar ISL 2014. Ia jadi salah satu sosok kunci kebangkitan kejayaan Tim Pangeran Biru di bawah komando Djadjang Nurdjaman,

Di Persib pula, pemain yang dikenal religius tersebut merasakan gelar Piala Presiden 2015. Di usianya yang mulai menua, Supardi masih punya hasrat kuat kembali angkat piala. Ia berharap bisa menutup karier dengan mengantar Persib juara Shopee Liga 1 2019 ini.

Firman Utina

Tak terbantahkan, Firman Utina sosok playmaker terbaik yang dimiliki Indonesia di era 2000-an. Ia pemain berkelas yang laku di pasaran.

Ia menikmati berbagai gelar di berbagai klub. Semenjak berkarier tahun 1999, Firman tercatat telah sembilan delapan klub, Persma Manado, Persita Tangerang, Arema Malang, Pelita Jaya, Persija Jakarta, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Bhayangkara FC, dan Kalteng Putra. 

Firman kelahiran 15 Desember 1981 yang kini sudah gantung sepatu dikenal pemain jaminan mutu. Harga jualnya tinggi. Klub yang merekrutnya berharap sulap ala Firman di sektor lini tengah.

Firman menikmati madu gelar juara bersama Arema FC di ajang Piala Indonesia 2005 dan 2006.

Gelar kompetisi perdananya didapat saat membela Sriwijaya FC pada Indonesia Super League 2011-2012. Selanjutnya, pesepak bola yang bakatnya ditemukan oleh pelatih senior, Benny Dollo tersebut kembali angkat trofi bersama Persib Bandung di ISL 2014. Setahun berselang Firman mengantar Maung Bandung jadi jawara Piala Presiden 2015.

Saat orang berfikir kariernya sudah habis karena dimakan usia, Firma kembali membuat sensasi saat membela Bhayangkara FC. Klub yang tak pernah dihitung bakal meramaikan persaingan juara secara tak terduga jadi kampiun Liga 1 2017.

Jelang gantung sepatu Firman sempat meloloskan Kalteng Putra promosi ke kasta utama dengan status peringkat tiga Liga 2 2018.

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ario Yosia, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan