Sukses

Bertarung di Ring ONE Championship, May Ooi Ingin Menginspirasi

Liputan6.com, Jakarta - Petarung ONE Championship wanita asal Singapura “Mighty” May Ooi, telah menjadi bintang dalam berbagai cabang olahraga. Tak pelak, dia pun sukses memberikan inspirasi bagi banyak atlet muda.

Hanya beberapa atlet yang memiliki dorongan, determinasi dan kekuatan untuk bertahan serta mencapai kesuksesan dalam skala internasional di lebih dari satu cabang olahraga. Petarung ONE Championship berusia 42 tahun ini adalah bagian dari keturunan yang langka tersebut.

May memulai kariernya dalam dunia mixed martial arts (MMA) setelah mewakili Singapura sebagai seorang perenang nasional dalam Olimpiade Musim Panas 1992 di Barcelona, Spanyol. Ia juga mewakili negaranya dalam ajang Asian Games 2018 di Jakarta, dimana ia menjadi salah satu atlet nasional cabang olahraga Jiu-Jitsu.

Selain mengejar prestasi, saat ini May menjalankan sebuah studio capoeira sekaligus mengajarkan seni bela diri asal Brazil ini. Ia juga telah mengunjungi sebuah sekolah di area kumuh Singapura untuk menceritakan kariernya pada murid sekolah tersebut.

ONE Championship memiliki atlet berpengalaman dalam seni bela diri yang menggunakannya sebagai sarana untuk keluar dari situasi yang rumit dan kadangkala berbahaya, sebelum mereka menjalani karir yang sukses. Petarung divisi strawweight yang ahli dalam teknik submission ini merasa terdorong untuk menyampaikan pesan positif tersebut bagi generasi muda.

“Saya ingin mereka tahu bahwa ada banyak cara untuk menjadi sukses, dan yang terpenting adalah menghancurkan batasan-batasan mental mereka, berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, serta menjadi versi terbaik dari diri mereka,” kata May.

2 dari 2 halaman

Jadi Motivator

Sebagai tambahan, May juga menjadi pembicara motivasional untuk organisasi dan pelaku bisnis besar, dimana mantan atlet olimpiade ini mengingat salah satu malam penting saat ia berbicara di seminar South East Asian Women and Sports dengan tema ”Mengatasi Rintangan” (Overcoming Obstacles) di Yangon, Myanmar, bulan November.

“Saya merasa terhormat untuk dapat masuk ke belakang layar dan menyaksikan banyak hal di tingkat terbawah,” jelasnya. “Ini sangat membuka mata saya. Mereka melakukan segala sesuatu hal yang benar, dan jika dalam 10 tahun mereka dapat mendominasi olahraga di Asia Tenggara, saya tidak akan terkejut.”

Di dalam ONE Championship, May memiliki rencananya sendiri. Ia memulai karirnya dengan gemilang di dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini, dimana ia telah memenangkan dua pertandingan dan akan melanjutkan usahanya untuk mendominasi tiap lini.

Saat ini, ia hanya ingin terus belajar dan meningkatkan kemampuannya sembari berkompetisi, untuk membantu dirinya dalam memberikan lebih banyak inspirasi bagi para generasi muda yang berusaha meraih mimpi mereka, seperti ketika ia meraih mimpinya.

“Saya berlatih mixed martial arts untuk menginspirasi orang lain,” katanya. “Hal ini memberikan saya sebuah sarana untuk membuktikan bahwa umur atau jenis kelamin tidak menentukan kesuksesan.”

“Jika kita bekerja keras dan terus menantang diri kita sendiri, kita dapat melewati batasan-batasan ini.”

Loading
Artikel Selanjutnya
ONE Championship: Eternal Glory Tambah Tiga Duel
Artikel Selanjutnya
Stefer dan Priscilla Bakal Tampil di ONE: Eternal Glory