Mengingat Momen Kejayaan Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno

Persija jarang gagal meraih gelar juara jika memainkan pertandingan di Stadion Utama Bung Karno. Bagaimana cerita detailnya?

Diterbitkan 17 Februari 2018, 12:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Persija Jakarta hingga saat ini tercatat sebagai klub terbanyak meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. Mayoritas di antaranya didapat dengan memenangi laga puncak di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Persija tercatat menjadi jawara perserikatan edisi tahun 1931, 1933, 1934, 1938 (sebagai VIJ Jakarta), 1954, 1964, 1973, 1975, 1979. Sebiji gelar lagi didapat Macan Kemayoran di era Liga Indonesia (penggabungan Galatama dan perserikatan), tepatnya pada musim 2001.

Semenjak SUGBK diresmikan 1962, tim ibu kota menjadi tim terbaik di stadion legendaris tersebut sebanyak lima kali.

Persija jarang gagal meraih trofi juara jika memainkan pertandingan puncak kompetisi berformat grand final. Mereka hanya tercatat tiga kali jadi runner-up, yakni pada edisi 1978, 1988, dan 2015.

Tak bisa dimungkiri semangat para pemain Persija selalu menggelora saat berlaga di Senayan, yang notabene kandang mereka. Puluhan ribu suporter pendukung Persija selalu mendominasi tribune stadion.

"Saat bertanding di SUGBK kami tentu tidak ingin mengecewakan suporter. Mereka datang dan membayar tiket pertandingan untuk menyaksikan Persija menjadi juara. Tidak ada cerita kami menjadi tim kedua, pokoknya di Senayan kami harus juara," ujar Oyong Liza, kapten Persija di era 1970-an dalam sebuah sesi wawancara dengan penulis beberapa tahun silam.

Para pemain Persija merindukan momen bermain di SUGBK, stadion yang menjadi saksi bisu kejayaan mereka. Apalagi sejak Liga musim 2017 memutuskan klub bermarkas di Stadion Patriot, Bekasi.

"Sedih juga melihat Persija kini terusir dari Jakarta. Persija itu tim ibu kota, sudah kitahnya kami bermain di SUGBK. Banyak kenangan manis di stadion tersebut. Buat saya pribadi semua tidak akan bisa terlupakan," ungkap Anjas Asmara, bintang Persija di era 1970-an.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Catatan sejarah menunjukkan Persija tidak selalu bermarkas di SUGBK. Di awal masa berdirinya pada 28 November 1928 klub yang satu ini sempat bermarkas di Lapangan Laan Trivelli (nama lama Tanah Abang), Lapangan Pulo Pioen (Petojo), Stadion IKADA, Stadion Menteng. Beberapa tahun belakangan Persija kerap memainkan pertandingan kandang di Stadion Manahan (Solo), Stadion Kanjuruhan (Malang), dan terakhir Stadion Patriot (Bekasi). Banyak faktor yang menyebabkan Persija kerap jadi tim musafir. Mulai dari urusan sulitnya surat izin pertandingan, biaya sewa stadion yang mahal, hingga terkena hukuman dari PSSI. Akan tetapi cerita melegenda[ Persija Jakarta](3287468 "") meraih kesuksesan setiap bermain Stadion Utama Gelora Bung Karno, turun menurun berhembus dari mulut ke mulut para fans Tim Macan Kemayoran. Sumber: Bola.com Sebuah himbauan dari Bapak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kepada siapapun yang hadir di SUGBK. - Tolong jaga dan rawat GBK ya. Karena GBK adalah milik bersama 🇮🇩 - #BolacomID #AniesBaswedan #Anies #GubernurDKI #Jakarta #SUGBK A post shared by Bola.com (@bolacomid) on Feb 16, 2018 at 12:29am PST

Halaman
Show All
Ario Yosia, Wiwig PrayugiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan