3 Kontroversi yang Mengiringi Rivalitas Juara Liga 1 2017

Persaingan memperebutkan gelar juara di fase akhir Liga 1 2017 memanas dan banjir kontroversi.

Diterbitkan 09 November 2017, 09:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Memasuki pekan terakhir, drama-drama kontroversial bermunculan di perhelatan Liga 1 2017. Persaingan di jajaran papan atas pun memanas.

Keseruan tak hanya terjadi di lapangan, di mana Bhayangkara FC, Bali United, PSM Makassar, serta Madura United, mempertaruhkan nasib demi bisa menikmati madu gelar juara.

Kejadian nonteknis ternyata juga membuat peta persaingan berubah-ubah jelang laga terakhir Liga 1 yang dimainkan secara serempak pada Minggu (12/11/2017).

Bhayangkara FC hingga tulisan ini diturunkan didapuk sebagai kampiun, usai menggebuk Madura United di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Rabu (8/11/2017). The Guardians dalam 33 pertandingan mengoleksi 68 poin.

Raihan angka mereka bisa saja disamai Bali United yang akan menjalani pertandingan melawan Persegres Gresik United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Minggu (12/11/2017). Itu pun dengan asumsi Bhayangkara FC kalah dari Persija Jakarta di Stadion Patriot, Bekasi, di hari yang sama.

Seperti apa drama-drama yang terjadi di papan atas Liga 1 2017 memasuki pekan terakhir? Simak di bawah ini.

 

1. PSM Kalah, Suporter Rusuh

Sudah jatuh tertimpa tangga. PSM Makassar yang kalah dari rival utama di papan atas Liga 1 2017, Bali United 0-1 pada pekan ke-33 Liga 1 di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, Senin (6/11/2017), bersiap menerima sanksi. Kerusuhan suporter usai pertandingan berpotensi memunculkan hukuman dari Komisi Disiplin PSSI.

Hanya beberapa detik setelah Stefano Lilipaly menjebol gawang PSM Makassar pada menit ke-94, suporter di tribun tertutup serentak melempari bench Bali United. Tak hanya itu, ratusan suporter merangsek masuk untuk menyerang penggawa Laskar Tridatu.

Kondisi ini diperparah oleh oknum ofisial dan pelatih PSM juga ikut-ikutan menyerbu ke bench Bali United. Kericuhan ini berlangsung selama 15 menit. Kisruh baru berakhir setelah panpel dan pihak aparat keamanan menggiring kubu Bali United ke ruang ganti.

Berdasarkan kesepakatan kedua tim, wasit Murzabekov Eldos memutuskan pertandingan selesai pada menit ke-94.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Tak hanya itu, jumpa media setelah pertandingan juga ditiadakan. Pemain dan ofisial Bali United diangkut keluar stadion dengan menggunakan kendaraan antiteror. Widodo Cahyono Putro dan anak-asuhnya juga sempat diungsikan ke kantor polisi menghindari teror suporter PSM. Hasil pertandingan ini hampir pasti memupus peluang PSM jadi jawara Liga 1 2017. Kompetisi hanya menyisakan satu pertandingan lagi, Tim Juku Eja sulit mengejar perolehan angka Bali United dan Bhayangkara FC. Saat ini, PSM mengoleksi 62 poin, sementara itu kedua rivalnya sudah mendulang 65 angka. CEO PSM, Munafri Arifuddin, meminta maaf kepada suporter PSM yang sudah 17 tahun menanti Juku Eja kembali juara. Ia menyadari kekalahan tak terduga Tim Juku Eja jadi biang kerok aksi rusuh suporter. PSM yang memegang kendali permainan harus tertunduk lesu, kebobolan gol lewat skema serangan balik mematikan Bali United di pengujung laga. "Kami sudah berusaha maksimal. Sayang, hasil kali ini memang tidak memihak ke PSM. Kita lihat saja perkembangan. Intinya kami siap dengan segala konsekuensi. Kalau memang akhirnya terkena sanksi mau bagaimana lagi?" ucap Munafri.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan