Sukses

Voryn Thalya Kiriweno, 'Zorro' Bergincu dari Ibu Kota

Liputan6.com, Bandung Atlet anggar putri DKI Jakarta, Voryn Thalya Kiriweno gagal merebut emas di nomor beregu floret putri pada PON Jabar 2016 lalu. Dia hanya mendulang perak setelah di final kalah tipis 44-45 dari Kalimantan Timur.

Namun hasil ini tidak membuat semangatnya menekuni olahraga anggar surut. Sebaliknya, dara kelahiran 16 Juni 1997 itu bertekad memperbaiki penampilannya dan meraih prestasi yang membanggakan bagi negara. Ya, dia ingin menggantikan para senior-seniornya yang selama ini mendominasi cabang anggar Tanah Air.

"Gak mau ah jadi model. Kalau anggar kan bisa memperlihatkan bahwa saya wanita yang gagah," kata Voryn saat Liputan6.com menggodanya terkait keputusannya memilih cabang anggar. 

Anggar memang tak bisa lepas dari kehidupan wanita yang kerap disapa Oin itu. Maklum, orangtuanya, Valencia Kiriweno, adalah mantan atlet anggar yang kini meneruskan kariernya sebagai pelatih.

Voryn Thalya Kiriweno, atlet anggar cantik dari DKI Jakarta (Ahmad Fawwaz Usman/Liputan6.com)

Awal mula ia mengetahui anggar saat ia sering diajak ibunya datang ke tempat latihan. Mulai kelas 4 SD, ia pun mulai mencoba-coba ikut latihan.

"Setelah berlatih giat selama setahun, saya langsung ikut Kejuaraan Daerah (Kejurda) pada kelas 5 SD. Lalu, tahun 2009, saya ikut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan sampai ke 16 besar," kata Oin.

2 dari 2 halaman

Olahraga Unik

Menurut Oin, anggar adalah olahraga yang sangat unik. Itu karena anggar adalah olahraga seni dengan bermain pedang. Bahkan, aspek cara menipu lawan juga dibutuhkan seorang atlet anggar. "Kalau luka atau bekas memar ya itu risiko. Jika itu terjadi, berarti kira kurang latihan dalam menangkis serangan lawan."

Lalu, hal yang membuat anggar berbeda dari olahraga lainnya adalah besaran biaya yang harus dikeluarkan. Sebab, selama ini anggar menyandang status sebagai olahraga yang mahal untuk digeluti.

Anggapan itu juga tak dibantah Oin. Namun, untuk atlet yang terdaftar dalam pelatnas atau kontingen daerah masing-masing, biasanya KONI atau Pengprov setempat akan memberikan pinjaman alat.

Selama menggeluti olahraga anggar, wanita yang gemar mengoleksi lipstik itu sempat menghadapi titik jenuh. Namun, motivasi yang diberikan kedua orangtuanya membuatnya mampu bertahan.

"Khususnya papah, ia terus memotivasi saya untuk melewati pencapaian mamah. Setelah sempat berhenti latihan tiga bulan karena jenuh, saya pun akhirnya kembali " ungkap Oin.