Sehari sebelum memulai long march ke Lebak, peserta Seba dari Baduy Dalam sudah berkumpul di kediaman Saija. Jumlahnya ada 16 orang. Tiga orang berasal dari Kampung Cibeo, dua lagi dari Cikesik, dan dua lainnya dari kampung terjauh, Cikertawana. Mereka sudah tiba di rumah Saija sejak Kamis sore.
Menurut salah seorang warga Baduy Dalam, yang biasa dipanggil Ayah Mursyid, jumlah ini lebih sedikit dibanding Seba tahun lalu. ”Tahun ini tak banyak yang ikut karena ini Seba Kecil," ujar Mursyid.
Dia lalu menjelaskan, bahwa acara seba terbagi dua, yakni Seba Besar dan Seba Kecil. Bagi orang awam, perbedaan kedua acara ini tidak terlalu kelihatan. Hanya, biasanya Seba Besar diikuti lebih banyak peserta.
"Bedanya tidak terlalu kelihatan. Hanya saat penyampaian hasil bumi kepada pemerintah saja. Kalau Seba besar, yang dibawa juga bukan hanya hasil bumi tetapi juga peralatan dapur," beber Mursyid.
Lama semakin larut. Ke-16 warga Baduy Dalam ini lalu berdiskusi untuk memutuskan waktu keberangkatan esok hari. “Tadi sudah dibicarakan, besok akan berangkat pagi-pagi sekali. Dan bagi warga Baduy Luar, mereka akan berangkat setelah dzuhur (sektiar pukul 13.00 WIB),” kata Mursyid.
Sudah Tradisi
Berjalan kaki telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Baduy. Baik yang berada di Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Tidak ada kendaraan bermotor yang boleh memasuki pemukiman mereka.
Perjalanan antarkampung di atas jalan batu dan tanah yang naik turun, praktis harus ditempuh dengan berjalan kaki. Begitu juga saat bekerja di sawah dan ladang. Mereka tetap berjalan kaki meski tak jarang harus memikul barang bawaan yang berat. Aktivitas yang melelahkan bagi yang tidak terbiasa.
Aturan yang dijalankan Baduy Luar sedikit lebih longgar. Mereka boleh menggunakan kendaraan bermotor saat berada di luar kampung. Sementara Baduy Dalam sama sekali tidak diizinkan. Mereka harus tetap berjalan kaki saat harus bepergian ke lokasi yang jauh dari kampung halamannya. 
Jumat pagi, saat matahari belum sepenuhnya bangun dari tidurnya, ke-16 warga Baduy Dalam sudah beranjak dari rumah Saija. Dengan bekal yang disimpan di dalam kain berwarna putih, mereka bergegas mengawali langkah menuju pemberhentian pertama, yakni Pendopo Kabupaten, Lebak, Rangkasbitung.
Jaraknya kurang lebih 39 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama satu setengah jam. Perjalanan membutuhkan fisik yang prima. Apalagi jalan yang ditempuh tidak seluruhnya rata. Mereka sesekali keluar dari jalan utama. Masuk hutan, naik turun bukit dan lembah, demi memangkas jarak.
Setelah Baduy Dalam berangkat, giliran peserta dari Baduy Luar yang berkumpul di kediaman Jaro Saija. Satu per satu mereka turun gunung sembari membawa hasil bumi. Mengenakan baju adat hitam-hitam dan ikat kepala berwarna biru, suku Baduy Luar semakin menyemut seiring meningginya matahari.
Lomba Dimulai
Di terminal Ciboleger, 20-an bus dari berbagai ukuran sudah menunggu mereka. Dari data yang tertera pada catatan Kantor Kepala Desa tertera angka 1.263 Baduy Luar yang akan meninggalkan Desa Kenekes. Tepat pukul 13.00 WIB, rombongan Baduy Luar turun ke terminal dan bersiap berangkat menuju Lebak.
Sejam setelah suku Baduy Luar berangkat, rombongan Baduy Dalam sudah tiba di ujung Leuwidamar. Lebih dari setengah jarak tempuh sudah mereka lalui. Sebelum ke Pendopo Kabupaten Lebak, di Rangkasbitung, rombongan Baduy Dalam akan bergabung dengan warga Baduy Luar di Terminal Aweh.
Dari terminal ini, seluruh peserta Seba bersama pemerintah daerah berjalan kaki bersama ke Pendopo Kabupaten Lebak. Rombongan tiba di Pendopo Lebak pukul 16.00 WIB dan menginap semalam di sana. 
Acara Seba di Kabupaten berlangsung pukul 20.00 dan akan dihadiri Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya bersama Muspida setempat. Setelah dari Lebak, peserta akan kembali melanjutkan perjalanan ke Serang.
Sama halnya dengan hari pertama, Baduy Dalam akan bertolak lebih dulu dengan berjalan kaki. Sedangkan Baduy Luar menyusul diangkut kendaraan bermotor yang sudah disiapkan.
Mursyid yang menjadi pimpinan rombongan Baduy Dalam mengatakan, tidak ada persiapan khusus yang mereka lakukan demi memelihara kondisi fisiknya jelang Seba.
Kekuatan kaki berjalan puluhan kilometer juga tidak lewat mantra."Kami sudah terbiasa berjalan kaki. Sehari-hari bisa mencapai 60 km,” katanya. "Olahraga kami tidak seperti masyarakat di kota. Olahraga kami sehari-hari adalah ke ladang dan ke sawah," ujar Mursyid.
Menilik keseharian orang-orang Baduy, berjalan kaki sudah jadi rutinitas mereka. Baik yang berada di Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Sebab tak ada kendaraan bermotor yang boleh memasuki pemukiman mereka.
Perjalanan antarkampung di atas jalan batu dan tanah yang naik turun, praktis harus ditempuh dengan berjalan kaki. Begitu juga saat bekerja di sawah dan ladang.

Mereka tetap berjalan kaki meski tak jarang harus memikul barang bawaan yang berat. Aktivitas yang melelahkan bagi yang tidak terbiasa.
Aturan yang dijalankan Baduy Luar sedikit lebih longgar. Mereka boleh menggunakan kendaraan bermotor saat berada di luar kampung. Sementara Baduy Dalam sama sekali tidak diizinkan. Mereka harus tetap berjalan kaki saat harus bepergian ke lokasi yang jauh dari kampung halamannya.
Jalan kaki sendiri dikenal sebagai olahraga yang menyehatkan. Menurut para pakar kesehatan, berjalan kaki 30 menit sehari baik bagi kesehatan jantung dan mampu membakar kolesterol. Berguna juga untuk menurunkan berat badan.
Berjalan cepat selama 30 menit sehari, diperkirakan mampu membakar setidaknya 150 kalori per hari. Jalan kaki juga meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah stress.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/358162/original/014326800_1521191196-28468796_10215322228518340_1667268567176383478_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1232986/original/065399700_1463198806-20160513-Tradisi-Seba-Baduy-Kecil-Banten-FP8.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259732/original/038298000_1781511216-000_B7396ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258990/original/029859700_1781430570-AP26154680263164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260144/original/013036700_1781578034-AP26166147695589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8385152/original/045727200_1782264420-panama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378005/original/081695500_1782256125-ghana.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264253/original/054046300_1782102358-uruguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526044/original/055453900_1773109897-WhatsApp_Image_2026-03-10_at_05.08.24.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3602403/original/070664100_1634200952-20211014-Masyarakat_Baduy_Terima_Vaksin_COVID-19-1.jpg)