Tradisi Seba, Ritual Jalan Kaki Baduy yang Melegenda

Baduy Dalam sanggup berjalan kaki hingga puluhan kilometer untuk bersilaturahmi dengan pemerintah daerah. Apa rahasianya?

Diterbitkan 14 Mei 2016, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Rangkasbitung - Baduy atau banyak yang menyebutnya Orang Kanekes. Hidup di kaki pegunungan Kendeng. Mati-matian meneguhkan adat istiadat warisan leluhur. Menentang modernitas lewat 1001 pantangan.  

Baca Juga

  • Potret Keseharian Perempuan Suku Baduy Luar
  • Bomber Persib Harapkan Reformasi Konkret PSSI 
  • Fakta Menarik Persib Bandung Vs Bali United: Maung Dominan

Yang bertahan tidak banyak. Mereka kini dikenal sebagai Baduy Dalam dan bermukim tiga kampung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Rangkasbitung, Banten; Cibeo, Cikesik, dan Cikertawana. Tanpa listrik, tanpa deru mesin, dan tetap setia membentengi diri dari pengaruh dunia luar hingga saat ini.

Bagi yang tidak kuat harus menyingkir. Mereka dikenal sebagai Baduy Luar. Hidup berdampingan dengan Baduy Dalam dan masih menjalankan sebagian adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhurnya.

Olahraga bukan lah kegiatan yang populer bagi warga Baduy. Bahkan bagi Baduy Dalam, kegiatan ini terlarang menurut adat. Namun bukan berarti fisik dan kesehatan orang Baduy meragukan. Apalagi untuk urusan jalan kaki, orang Baduy, utamanya Baduy Dalam mampu melakukannya berhari-hari.

Suku Baduy Dalam berjalan kaki puluhan kilometer tanpa alas kaki menuju pendopo Kabupaten Lebak, Banten (13/05). Mereka diwajibkan berjalan kaki untuk mengikuti tradisi Seba Baduy Kecil. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Upacara Seba menjadi salah satu pembuktian ketangguhan fisik suku Baduy, terutama suku Baduy Dalam. Sebab dalam acara yang telah menjadi tradisi sejak Kesultanan Banten ini, mereka harus berjalan berkilo-kilometer untuk bersilaturahmi dengan para pimpinan pemerintahan di provinsi Banten.

Seba merupakan tradisi kuno. Sama tuanya dengan suku Baduy sendiri. Menurut Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, dalam acara ini warga Baduy akan keluar kampung untuk bertemu dengan ‘Bapa Gede’. Dalam acara ini, mereka juga membawa hasil bumi berupa pisang, gula aren, beras, hingga laksa.

"Seba itu adalah acara silaturahmi. Adapun dalam acara Seba ini, yang disilaturohmi adalah Bapa Gede. Kalau di Lebak, bupati, kalau di Serang, itu kepada gubernur," ujar Jaro Saija.

Dibagi Dua

Menurut Saija, untuk tahun ini Seba digelar pada 13-14 Mei 2016. Keberangkatan peserta akan dibagi dua. "Yang berasal dari Baduy Dalam akan berjalan kaki, sedangkan Baduy Luar naik angkutan," kata Saija.

Mendekati Seba, suku Baduy mulai bersiap. Hasil kebun dan sawah dipetik. Mulai dari pisang, gula aren, hingga tales. Pada hari H, mereka lalu mengumpulkannya di kediaman Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, yang berada dekat pintu masuk objek wisata Baduy, Kadu Ketug, Ciboleger, Kanekes, Lewidamar.

Rumah ini juga yang menjadi titik start perjalan Seba. Baduy Luar yang mengenakan baju adat hitam-hitam dan ikat kepala biru selanjutnya bertolak naik angkutan umum dari terminal Ciboleger. Sementara orang-orang Baduy Dalam dengan baju dan ikat kepala putih tetap berangkat jalan kaki.

Seorang warga Suku Baduy Luar tengah mengikat Lomar di kepala sebelum berangkat dari Terminal Ciboleger, Kabupaten Lebak, Banten (13/05). Baduy Luar berangkat menggunakan angkutan umum. (Lipuatan6.com/Fery Pradolo)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sehari sebelum memulai long march ke Lebak, peserta Seba dari Baduy Dalam sudah berkumpul di kediaman Saija. Jumlahnya ada 16 orang. Tiga orang berasal dari Kampung Cibeo, dua lagi dari Cikesik, dan dua lainnya dari kampung terjauh, Cikertawana. Mereka sudah tiba di rumah Saija sejak Kamis sore.Menurut salah seorang warga Baduy Dalam, yang biasa dipanggil Ayah Mursyid, jumlah ini lebih sedikit dibanding Seba tahun lalu. ”Tahun ini tak banyak yang ikut karena ini Seba Kecil," ujar Mursyid.Dia lalu menjelaskan, bahwa acara seba terbagi dua, yakni Seba Besar dan Seba Kecil. Bagi orang awam, perbedaan kedua acara ini tidak terlalu kelihatan. Hanya, biasanya Seba Besar diikuti lebih banyak peserta.  "Bedanya tidak terlalu kelihatan. Hanya saat penyampaian hasil bumi kepada pemerintah saja. Kalau Seba besar, yang dibawa juga bukan hanya hasil bumi tetapi juga peralatan dapur," beber Mursyid. Lama semakin larut. Ke-16 warga Baduy Dalam ini lalu berdiskusi untuk memutuskan waktu keberangkatan esok hari. “Tadi sudah dibicarakan, besok akan berangkat pagi-pagi sekali. Dan bagi warga Baduy Luar, mereka akan berangkat setelah dzuhur (sektiar pukul 13.00 WIB),” kata Mursyid.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan