3. Carlos Tevez
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1151601/original/019977800_1456261810-511451012.jpg)
Carlos Tevez adalah salah satu pemain yang mampu bertahan meski dia bukan tergolong pemain dengan perilaku yang baik. Tevez bisa membayar lunas perilaku buruknya dengan gelontoran gol bagi tim yang dia bela.
Akibatnya, klub-klub pun tetap berminat memakai jasanya meski kadang Tevez bertindak indisipliner. Pemain asal Argentina inipun telah mengoleksi total 20 trofi selama berkarier di Eropa dengan berbagai klub.
Salah satu ulah Tevez yang mungkin cukup membekas adalah saat dia menolak melakukan pemanasan bagi timnya, Manchester City. Karena ulahnya itu, Tevez sempat terilbat perselisihan dengan pelatihnya, Roberto Mancini.
4. Emmanuel Adebayor
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1124304/original/021542100_1453894046-adebayor.jpg)
Emmanuel Adebayor pernah bersinar bersama Arsenal. Di Liga Inggris musim 2007/08, torehan golnya hanya kalah dari Cristiano Ronaldo yang kala itu masih berkostum Manchester United.
Namun sikap Adebayor berubah saat dia pindah ke Manchester City. Adebayor yang diduga pindah karena uang, kemudian kerap diejek suporter Arsenal.
Tak tahan dengan ejekan itu, Adebayor pun membalas. Di salah satu laga Manchester City Vs Arsenal, Adebayor melakukan provokasi dengan melakukan selebrasi gol tepat di depan suporter mantan timnya tersebut.
Adebayor pun semakin menjadi musuh suporter Arsenal ketika dia pindah ke rival sekota The Gunners, Tottenham Hotspur pada 2011. Di Spurs pun, Adebayor kerap melakukan provokasi yang sama.
Kini, Adebayor membela Crystal Palace.
5. Mario Balotelli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1059624/original/034910400_1447850528-h_52360361.jpg)
Mario Balotelli mungkin adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan pentingnya memiliki perilaku dan sikap yang baik di dunia sepak bola. Sebagai pemain, talenta Balotelli tak diragukan lagi.
Sayang, Balotelli tak mampu mengontrol perilakunya di dalam maupun di luar lapangan. Itulah yang membuat karier pemain berjuluk Super Mario ini hancur.
Klub-klub urung memakai jasa Balotelli karena dia kerap melakukan tindakan indisipliner. Sewaktu di Manchester City misalnya, Balotelli sempat terlibat perkelahian dengan pelatihnya sendiri, Roberto Mancini.
Liverpool mencoba 'bertaruh' dengan merekrutnya di awal musim 2014/15. The Reds berharap, Balotelli bisa menggantikan Luis Suarez yang hengkang ke Barcelona.
Sayang, harapan Liverpool bertepuk sebelah tangan. Balotelli justru lebih akrab dengan bangku cadangan ketimbang rumput hijau. Dia pun akhirnya dilego ke AC Milan.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6591576/original/029814400_1779430905-cek_fakta_-_sertifikat_tanah_gratis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318670/original/097009500_1786124467-efb30e6b-7dc4-4c13-a54b-d81aacb7f640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/964012/original/022773200_1440324372-Balotelli_AC_Milan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1339510/original/042176800_1473235416-balotelli.jpg)