Lebih lanjut, Ancelotti berujar, “Saya sungguh menyukai permainan Empoli di bawah Sarri musim lalu. Mereka sebuah tim yang dinamis dengan identitas jelas dan mengusung sepak bola menyerang. Terdengar paradoks, tapi Napoli saat ini mengingatkan saya pada Empoli. Mereka kompak dengan garis pertahanan sangat tinggi.”
Napoli memang bukan fenomena baru. Dalam beberapa musim terakhir, I Partenopei selalu meramaikan bursa perebutan Scudetto. Namun, kedatangan Sarri membawa sesuatu yang berbeda. Meski sempat dipandang sebelah mata oleh Diego Maradona, legenda Napoli, karena hasil buruk dalam tiga laga awal, Sarri adalah kepingan penyempurna bagi Napoli.
Selama ditangani Rafael Benitez, Napoli adalah tim kamikaze. Lini penyerangan mereka luar biasa, namun lini belakang mudah digoyang lawan dan kebobolan. Sarri memperbaiki kelemahan itu.
"Sarri itu maniak dalam hal manajemen lini pertahanan," terang Marco Titi, agen Sarri. "Dia memfokuskan pada pergerakan bola, bukan pergerakan pemain. Saya sebenarnya tak menganggap dia tipe pelatih bertahan, namun hasil di lapangan membuktikan hal itu."
Sarri bahkan menggunakan pesawat nirawak untuk merekam pergerakan empat pemain belakangnya dari udara. Selain itu, dia juga sangat terobsesi dengan set piece. Dalam latihan, anak-anak asuhnya sampai melakukan tak kurang dari 33 kali set piece, baik tendangan bebas maupun sepak pojok.
Meski begitu, bukan berarti tim asuhan Sarri hanya hebat dalam bertahan. James Horncastle, pengamat sepak bola Italia, punya deskripsi tersendiri saat melihat sepak terjang Empoli bersama Sarri musim lalu. "Melihat Empoli asuhan Sarri seperti mendengarkan sebuah orkestra. Mereka memainkan harmoni yang sempurna, bertahan dan menyerang sebagai kesatuan," ungkap dia.
Keseimbangan itu pula yang kini terlihat di Napoli. "Tahun lalu, Napoli mencetak 70 gol, sama dengan Juventus. Tapi, mereka kebobolan nyaris 40 kali. Ini menunjukkan tak ada keseimbangan. Sarri telah mengubah tim ini," ulas Marcello Lippi, eks allenatore Napoli. "Dalam tiga bulan, Sarri melakukan hal yang biasanya dilakukan pelatih lain dalam dua tahun."
MENANTI ANOMALI
Di balik puja-puji yang terlontar, ada harapan besar yang tertumpah. Itu adalah melihat Napoli menggapai kesempurnaan, merengkuh Scudetto yang terakhir kali digapai pada 1989-90. "Sekarang ini, urutan unggulan saya adalah Napoli, Fiorentina, Roma, dan Inter," kata Nesta. Ancelotti menimpali, "Napoli sangat bisa merebut Scudetto."
Memang akan menjadi sebuah kesempurnaan bila Napoli juara. Tim terbaik dan paling memesona haruslah menjadi pemenang, bukan sekadar campione di cuore, juara di hati para penggemar sepak bola.
Tentu saja tak akan mudah merealisasikan hal itu. Meski diakui banyak pihak sebagai tim paling memikat, Napoli tidaklah superior. Soal pertahanan, jumlah enam clean sheet mereka masih kalah satu dari Inter. Dalam urusan membobol gawang lawan, torehan 21 gol I Partenopei juga kalah dari Roma yang mengemas 25 gol dan Fiorentina dengan 22 gol.
Napoli juga bukan tim luar biasa. Mereka bukan Inter yang menyapu bersih kemenangan dalam lima laga awal. I Partenopei malah takluk 1-2 dari Sassuolo pada pekan pertama dan gagal memetik kemenangan dalam dua laga berikutnya. Sepanjang musim ini, Napoli juga belum pernah menjadi capolista.
Status capolista bukan hal yang bisa dianggap remeh. Dalam 21 musim terakhir, hanya Juventus yang bisa juara walau tak pernah memimpin klasemen dalam sebelas pekan awal. I Bianconeri melakukan hal itu pada musim 1994-95, 1996-97, dan 2013-14.
Bila ditarik ke belakang, saat Serie-A menyelesaikan enam giornata, Napoli bahkan bisa dikatakan keluar dari persaingan juara. Pasalnya, mereka gagal menuai sebelas poin. Sejak sistem tiga angka untuk kemenangan diberlakukan pada 1994-95, para juara Serie-A setidaknya mengumpulkan sebelas poin dalam enam giornata awal.
Itu sebabnya, berharap Napoli mengakhiri penantian Scudetto yang telah berlangsung seperempat abad tak ubahnya menanti anomali. Meski demikian, itu juga bukan kemustahilan. Apalagi Sarri punya keyakinan kuat. Menurut dia, kompetisi liga bukanlah perlombaan sprint.
"Ini maraton berjarak 38 kilometer --merujuk pada 38 giornata yang harus dijalani. Maraton harusnya berjarak 42,195 km.-- dan kami baru menempuh delapan kilometer. Bila ada yang mengatakan sudah juara hanya setelah melewati delapan kilometer, dia jelas gila," ucap dia usai Napoli menaklukkan Fiorentina 2-1 pada giornata ke-8.
Faktanya, tim yang melakukan sprint dari garis start justru gagal total. Tengok saja Inter yang memenangi tujuh giornata awal pada 1966-67. Saat musim berakhir, I Nerazzurri hanya finis sebagai runner-up. Demikian pula Roma pada 2013-14. I Giallorossi malah lebih hebat, tak kehilangan poin dalam sepuluh laga awal.
Seperti dalam maraton, strategi dan sikap yang tepat adalah hal utama untuk juara. Saat ini, Napoli menunjukkan hal itu. I Partenopei tidak jemawa meski berada di kelompok terdepan, tidak hirau terhadap puja-puji atau caci maki, selalu fokus pada jalur yang terbentang di depan, dan mampu menjaga kecepatan lari.
Satu modal lagi adalah energi positif Sarri. Dia penuh antusiasme dan passion kuat. Dia memiliki la gioia di calcio, kegembiraan dalam sepak bola. "Dalam umur 55 tahun, dia masih memiliki semangat anak kecil yang begitu ingin mewujudkan mimpinya," ucap Titi, tahun lalu.
Lippi menilai Sarri berhasil menularkan hal itu kepada para pemainnya. "Hal pertama yang saya lihat adalah ikatan antara dia dan para pemain. Saya tak pernah melihat Higuain tertawa dan memeluk pelatihnya. Demikian pula dengan Hamsik," tutur Lippi.
Ketika Napoli yang kompak mampu menempuhi 27 giornata sisa dengan tak kehilangan la gioia di calcio, bakal sulit bagi tim-tim lain untuk membendung. Anomali pun sangat mungkin tersuguh di garis akhir nanti.
*Penulis adalah pemerhati sepak bola dan komentator di sejumlah televisi di Indonesia. Asep Ginanjar juga pernah jadi jurnalis di tabloid soccer.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1050056/original/021861800_1494306026-064145500_1449306738-151110_kolom_bola_Asep_Ginanjar_rev.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028216/original/059069000_1732870090-logo_piala_dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471172/original/087617600_1782374206-IMG-20260625-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)