Kura-Kura Kecil dalam Kolam dan Saksi Bisu Macan Kemayoran

Selama satu dekade, Stadion Lebak Bulus menjadi saksi perjalanan Persija Jakarta di pentas Liga Indonesia.

Diterbitkan 12 September 2015, 17:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Stadion Lebak Bulus kini tinggal kenangan. Salah satu stadion ternama di Indonesia ini sudah rata dengan tanah. Bangunan yang berdiri tahun 1987 ini harus 'mengalah' demi memperbaiki wajah transportasi di Ibukota. Di lahan bekas Stadion Lebak Bulus berdiri bakal dibangun terminal MRT (mass rapid transit).

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia. Secara harafiah lebak berarti kolam, sedangkan bulus memiliki arti, kura-kura kecil. Daerah tersebut dinamakan Lebak Bulus karena dahulu di wilayah tersebut merupakan sentra penjualan kura-kura yang diletakkan dalam kolam.

Sejarah Stadion yang terletak di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan ini cukup panjang dan bisa dibilang menjadi bagian sejarah sepakbola di Indonesia. Cerita Stadion Lebak Bulus bermula ketika grup usaha Bakrie, sekaligus penyandang dana klub Galatama, Pelita Jaya meneken perjanjian dengan Pemprov DKI Jakarta.

Pelita Jaya mendapatkan kontrak hak guna bangunan selama 2 dekade alias 20 tahun. Ketika itu, Stadion dinamai Sanggrahan Pelita Jaya. Baru pada 2006, setelah kontrak Pelita Jaya dan Pemprov DKI Jakarta habis, bagunan seluas ini berganti nama menjadi Lebak Bulus.

Stadion Lebak Bulus

Cukup lama Pelita Jaya mendiami Stadion Lebak Bulus, akhir 1987 hingga menjelang millenium ke-3 alias tahun 2000. Pelita Jaya kemudian pindah markas ke Solo karena beralih kepemilikan. Baru pada 2000, stadion ini pindah ke tangan Persija Jakarta. Stadion ini menjadi saksi bisu perjalanan Persija selama 10 tahun berkiprah di kancah Liga Indonesia. Stadion yang terdiri dari 4 tribun ini menjadi tonggak sejarah Macan Kemayoran merebut gelar juara ISL pada 2001 lalu kendati partai final digelar di SUGBK.

Stadion ini berkapasitas 12.500 orang. Melihat kapasitanya, stadion ini termasuk berskala internasional selain Stadion Utama Gelora Bung Karno di Kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Tidak heran ketika masih tegak berdiri, Lebak Bulus menjadi venue laga internasional seperti babak Kualifikasi Piala Asia U-16 grup G 2008 lalu. 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pada akhirnya, Persija harus meninggalkan Stadion Lebak Bulus musim 2008-09. Itu setelah PT Liga Indonesia menetapkan, Stadion Lebak Bulus tidak memenuhi standar untuk menggelar pertandingan berskala AFC karena kapasitasnya yang tidak memadai. Sudah tidak terhitung, kericuhan yang terjadi gara-gara penonton tidak bertiket menjebol pintu masuk yang berujung pada keributan. Persija pun pindah markas ke SUGBK. Di akhir hayatnya, Stadion Lebak Bulus menggelar partai perpisahan antara Persipasi Bandung Raya kontra Villa 2000 di sebuah partai ujicoba. Tidak sedikit kisah kelam terjadi selama 28 tahun Stadion ini berdiri. Sudah tidak terhitung berapa kali bentrok suporter terjadi di dalam maupun luar stadion. Tidak jarang suporter meluber hingga pinggir lapangan karena kapasitas stadion tidak cukup besar menampung jumlah suporter. Cukup mudah mengetahui bila Persija sedang mentas. Dari kejauhan tampak puluhan suporter menyaksikan laga dari atap stadion dan di atas papan skor. Kemacetan pun mengular karena jalanan dipadati oleh TheJakmania. Lokasi yang berdekatan dengan Terminal memudahkan fans Persija dari penjuru Jakarta bisa dengan mudah mencapai Stadion ini. Paling diingat, yaitu duel sarat gengsi berbalut emosi tinggi antara dua musuh bebuyutan, Persija Jakarta kontra Persib Bandung pada 2007 lalu. Ketika itu, bus pemain Persib habis diserbu pendukung Persija. Bahkan, Eka Ramdani yang ketika itu masih memperkuat Persib babak belur, menjadi sasaran amuk massa fan Persija. Ini merupakan aksi balas dendam setelah Ismed Sofyan menjadi korban intimidasi suporter Persib ketika Persija tandang ke Bandung.

Halaman
Show All
Rejdo Prahananda, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan