Menguak Peran Kemenpora dalam Kegagalan di SEA Games 2015

Sejumlah perlengkapan para atlet untuk SEA Games 2015 tak bisa dipenuhi oleh Kemenpora.

Diterbitkan 18 Juni 2015, 21:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Yang membuat renang yang hanya meraih satu emas padahal target enam emas, jelas Suwarno, batalnya training camp di Sydney, Australia yang sudah direncanakan akibat telatnya dana turun. "Mereka hanya melakukan training camp di Perth, Australia. Itu pun waktunya sangat pendek," imbuhnya.

Terkait target medali dan peringkat yang diberikan Kemenpora, Suwarno menekankan bahwa itu tak realistis. Sejak awal, dia memprediksi Indonesia hanya mampu merebut 46 medali emas.

"Itu berdasarkan perhitungan dengan melihat hasil kejurnas dan event internasional yang diikuti. Dan, itu kan sudah terbukti. Soal target masuk peringkat kedua dan ketiga itu kan dari pemerintah," terangnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya>>>

Selanjutnya

Yang lebih parah lagi, kata Suwarno, adanya enam cabang olahraga yang tidak direkomendasikan Satlak Prima ke SEA Games. Begitu juga dengan adanya pergantian atlet tenis meja yang sudah ditetapkan sebagai tim inti. Ditambah lagi, adanya pergantian manajer di cabang tenis meja dan berkuda.

"Kita sudah menjaring yang terbaik melalui seleksi. Tetapi, tetap saja ada atlet tenis meja yang dimasukkan tim SEA Games Singapura 2015, padahal mereka menolak mengikuti seleksi. Itu kan jelas melanggar kesepakatan dimana atlet berpeluang yang diberangkatkan," ungkapnya.

"Belum lagi pergantian manajer berkuda hanya karena tidak sejalan dengan KOI. Dan, pergantian manajer tenis meja yang berakibat salah menyusun komposisi pemain," tambahnya lagi.

Mantan Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Danpaspampres) ini mengaku tidak merasa khawatir jika dirinya tersingkirkan akibat menguak kegagalan kontingen Indonesia.

"Saya tidak punya kepentingan apa-apa. Dan, saya tidak pernah takut menguak kegagalan Indonesia," tegasnya.

Yang lebih mengenaskan lagi, Suwarno mengaku hanya diberikan I’d card Observer sehingga dia tidak leluasa memberikan dukungan terhadap atlet binaannya. Bahkan, dia mendapatkan fasilitas hotel yang kurang memadai. "Saya hanya diberikan ID Card observer dan menginap di hotel under construction," tuturnya. (Wnd/Ary) 

Baca juga:  

>Evan Dimas Terpukau dengan Stadion di Singapura

Pesan Sang Kekasih, Evan Dimas Harus Rajin Ibadah

Video Pengakuan Evan Dimas Soal Pertama Kali Pacaran

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Windi Wicaksono, Arry AnggadhaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan