Kapal Singapura Tenggelam di Selat Hormuz, Mengapa Masih Berani Melintas?

Kapal berbendera Singapura tenggelam di Selat Hormuz. Namun, permintaan energi dan peluang bisnis membuat sebagian operator tetap melintas.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 16:05 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah kapal komersial diperkirakan masih akan melintasi Selat Hormuz meski serangan terhadap kapal berbendera Singapura meningkatkan risiko pelayaran.

Permintaan energi dari Timur Tengah dan peluang keuntungan dari pengangkutan minyak membuat sebagian operator tetap berlayar, sementara perusahaan pelayaran kontainer besar cenderung menghindari jalur tersebut.

Dua kapal kontainer terdaftar di Singapura, GFS Pride dan GFS Giselle, diserang pekan ini. GFS Pride tenggelam setelah terkena proyektil dan terbakar, sedangkan GFS Giselle mengalami kerusakan. Awak kedua kapal dilaporkan selamat.

Collin Koh, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, mengatakan perusahaan pelayaran masih mungkin mencari peluang untuk melewati selat tersebut.

“Saya tidak melihat dalam jangka pendek bahwa kapal berbendera Singapura atau perusahaan pelayaran Singapura akan serta-merta menghindari pelintasan jika ada peluang,” kata Koh kepada CNBC, dikutip Sabtu (17/10/2026).

Data perusahaan analisis maritim Kpler menunjukkan jumlah pelintasan Selat Hormuz turun menjadi 131 pada pekan yang berakhir 14 Oktober, dari 176 pada pekan sebelumnya. Penurunan itu, bagaimanapun, tidak dapat dikaitkan sepenuhnya dengan serangan terbaru.

Dimitris Ampatzidis dari Kpler menilai serangan tersebut menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam kapal komersial, bukan hanya pengangkutan minyak dan gas.

Permintaan Minyak dan Peluang Keuntungan Jadi Pendorong

Koh mengatakan operator kapal dari berbagai negara masih mencari kesempatan melintasi Selat Hormuz sejak konflik pecah. Sebagian bersedia menerima risiko dan biaya lebih tinggi demi mengangkut pasokan energi, terutama minyak yang dibutuhkan pasar Asia.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menggambarkan insentif ekonomi di balik keputusan tersebut. Dalam Milken Institute Asia Summit pekan lalu, ia menceritakan percakapan dengan seorang pejabat negara Teluk yang tidak disebutkan namanya.

Menurut pejabat itu, negaranya memperoleh pendapatan ekspor minyak lebih besar dibandingkan sebelum perang dengan menjalankan operasi yang disebut “Hormuz shuttle”, menggunakan sekitar 20 kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar.

Kapal-kapal tersebut pada dasarnya menanggung sendiri risiko serangan. Harga minyak mentah yang tinggi membuat pelayaran itu tetap menguntungkan.

“Kadang-kadang Anda terkena serangan, tetapi menjalankan ‘Hormuz shuttle’ masih tetap menguntungkan,” kata Balakrishnan, mengutip pejabat tersebut.

Ampatzidis mengatakan pelayaran masih berlangsung karena pentingnya Selat Hormuz bagi pengiriman energi ke pasar Asia. Namun, serangan lanjutan dapat membuat lebih banyak operator mengurungkan niat melintas.

Operator Kapal Pertimbangkan Risiko dan Keselamatan Awak

Asosiasi Pelayaran Singapura menilai serangan terbaru belum tentu membuat seluruh kapal komersial menarik diri dari kawasan tersebut. Sebaliknya, perusahaan pelayaran kemungkinan menyesuaikan pola perdagangan mengikuti perubahan kondisi pasar.

“Alih-alih menandakan penarikan diri secara luas dari kawasan tersebut, perkembangan ini kemungkinan lebih mendorong penyesuaian pola perdagangan seiring pasar merespons perubahan pasokan dan permintaan barang serta energi,” kata Presiden Asosiasi Pelayaran Singapura, TS Teo.

Ia menambahkan, pemilik kapal akan terus mempertimbangkan faktor komersial, perkembangan keamanan, dan keselamatan awak sebelum mengambil keputusan operasional.

Meski demikian, risiko setiap kapal tidak sama. Jenis kapal, rute, dan penilaian masing-masing perusahaan turut menentukan keputusan untuk melintas atau menghindari Selat Hormuz.

Sementara itu, sebagian besar industri pelayaran kontainer global telah mengubah jaringan operasionalnya untuk menghindari jalur tersebut sejak perang pecah pada Februari.

Jayendu Krishna, direktur Drewry Maritime Advisors, mengatakan belum ada perusahaan pelayaran kontainer besar yang kembali mengoperasikan layanan melalui Selat Hormuz setelah menghentikannya. Hanya sejumlah operator regional yang masih menjalankan layanan secara terbatas, umumnya dengan kapal pengumpan berukuran lebih kecil.

 

Gangguan di Teluk Oman Bisa Mengancam Pasokan Regional

Menurut Krishna, karena perusahaan pelayaran kontainer besar masih menghindari Selat Hormuz, dampak langsung dari serangan terbaru terhadap layanan kontainer global kemungkinan terbatas.

Namun, situasi dapat menjadi lebih serius jika konflik meluas ke Teluk Oman. Gangguan di kawasan itu berpotensi memutus jalur alternatif yang selama ini digunakan untuk memasok negara-negara Teluk.

Pelabuhan Khorfakkan di Uni Emirat Arab dan Sohar di Oman menjadi pintu masuk penting bagi kargo menuju negara-negara di kawasan tersebut.

“Jika Teluk Oman menjadi zona aktivitas tempur, sebagian besar pasokan ke negara-negara Teluk akan terputus, karena Khorfakkan dan Sohar selama ini menjadi jalur penyelamat bagi mereka,” kata Krishna.

Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko pelayaran tidak hanya berkaitan dengan keselamatan kapal yang melintasi Selat Hormuz, tetapi juga dengan kelancaran rantai pasok regional.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk Persia. Karena itu, perubahan pola pelayaran maupun gangguan pada pelabuhan alternatif dapat memengaruhi distribusi barang dan energi, terutama ke pasar Asia.

Bagi operator kapal, keputusan untuk tetap berlayar atau mengalihkan rute akan bergantung pada perkembangan keamanan, biaya operasional, potensi keuntungan, dan keselamatan awak.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6