RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Nanang Hendarno Jadi Dirut Baru

RUPSLB Telkom menunjuk Nanang Hendarno sebagai dirut baru dan menyetujui spin-off InfraCo senilai Rp85,7 triliun. Simak susunan pengurusnya.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 10:37 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mendapat persetujuan pemegang saham independen untuk memisahkan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung secara daring pada Rabu (30/9/2026) juga menyetujui perubahan pengurus perseroan, dengan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama Telkom.

Aksi korporasi berupa pemisahan atau spin-off tersebut merupakan transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan OJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan. Pelaksanaannya telah memenuhi ketentuan kuorum dari mayoritas pemegang saham independen.

Pembentukan InfraNexia sebagai operating company yang menangani bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup menjadi bagian dari strategi TLKM 30. Strategi ini diarahkan untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi serta membangun kemitraan strategis guna menangkap peluang pertumbuhan.

Sejalan dengan hal tersebut, langkah ini juga memperkuat transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo) yang berorientasi pada penciptaan nilai dan fokus pada sinergi antar entitas secara berkelanjutan. 

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan, “Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal. Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia.”

 

Susunan Komisaris dan Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026

RUPSLB juga menyetujui perubahan susunan pengurus Perseroan yang diharapkan dapat memperkuat tata kelola sekaligus berkontribusi pada meningkatnya kinerja Perseroan dan mendukung suksesnya agenda transformasi TLKM 30. Adapun susunan Dewan Komisaris dan Jajaran Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026 adalah sebagai berikut: 

  • Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo.
  • Komisaris: Ossy Darmawan.
  • Komisaris: Rizal Mallarangeng.
  • Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah.
  • Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim.
  • Komisaris Independen: Anthony Leong.
  • Komisaris Independen: Deswandhy Agusman.
  • Komisaris Independen: Ira Noviarti.

Adapun susunan jajaran Direksi Telkom adalah sebagai berikut:

  • Direktur Utama: Nanang Hendarno.
  • Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine.
  • Direktur Human Capital Management: Willy Saelan.
  • Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra.
  • Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba.
  • Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji.
  • Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra.
  • Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar.
  • Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana.

 

InfraNexia Kelola Lebih dari 90 Persen Aset Jaringan, Perkuat Infrastruktur untuk AI

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia juga melaksanakan penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai milestone utama dalam penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2, setelah memperoleh persetujuan pemegang saham independen Telkom melalui RUPSLB. Akta pemisahan ditandatangani oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf, di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui tahapan ini, lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia, memperkuat skala perusahaan sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia. Secara keseluruhan, skala tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk semakin mempertajam fokus bisnis serta meningkatkan produktivitas aset infrastruktur guna mendorong peningkatan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang.

Sejalan dengan arahan tersebut, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyampaikan, konsolidasi memberikan ruang yang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan juga memperluas kolaborasi di dalam ekosistem digital nasional.

“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia,” tambah Seno.

Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, didukung 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Infrastruktur dan cakupan yang ekstensif ini menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri dalam memperluas kapasitas dan jangkauan layanan.

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf menambahkan, fase baru ini memperkuat peran InfraNexia dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.

“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptkan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri,” pungkas Lukman.

InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yaitu Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolio tersebut mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis masing-masing pelanggan.

InfraNexia juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, serta pengembangan kapabilitas autonomous network. Upaya ini bertujuan meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, dan kemampuan jaringan dalam merespons permintaan pelanggan yang terus bertambah.

Penguatan skala dan kapabilitas dilakukan agar infrastruktur perusahaan tetap relevan dengan kebutuhan Indonesia yang semakin terkoneksi. Jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi menjadi bekal InfraNexia untuk mendukung pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.

“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia. Semangat ini menjadi pengingat bahwa setiap pengembangan yang kami lakukan harus memberikan ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh,” tutup Lukman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6