Sukses

Bola Sepak <i>Made In</i> Pasuruan Berjaya di Timur Tengah

Badai krisis keuangan dunia yang pernah menghantam Indonesia pada tahun 1998 menyimpan kenangan pahit bagi produsen bola sepak di bawah bendera usaha PT Inkor Bola Pacific. Sebab peristiwa itu memukul kinerja ekspor perusahaan yang berbasis di Pasuruan Jawa Timur ini, terutama ke Amerika Serikat (AS).

Direktur Inkor Bola Pacific, Thomas More Suharto mengaku, ekspor bola sepak, voli, basket, futsal dan rugby dengan merek Pro Team dan Tachikara ke AS mulai mencapai titik nadir pada tahun 1998.

"Bahkan sampai saat ini ekspor bola kami ke AS sudah mati, sehingga kami berusaha mencari pangsa pasar ekspor lain dan kini telah meluas ke negara Timur Tengah, seperti Dubai, Mesir serta Nigeria, El Savador dan Kosta Rika," kata dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Minggu (3/11/2013).

Sesaknya permintaan dari Mesir misalnya yang mencapai 18 ribu bola per dua bulan, lanjutnya, diimbangi dengan kapasitas produksi pabrik di Pasuruan hingga 150 ribu bola per bulan. Dari total produksi, sebanyak 75% untuk memenuhi kebutuhan ekspor sedangkan sisanya ditujukan untuk pasar domestik.

"Order bola sepak bakal mendulang berkah pada musim Piala Dunia tahun depan, selain pesanan datang dari para pengusaha futsal," lanjut dia yang pernah mengikuti pameran sampai ke  negara Brazil.
 
Suharto mengklaim, negara-negara tersebut memesan bola dari Indonesia karena percaya terhadap kualitas bahan bola sepak hasil produksi dalam negeri dibandingkan bola made in China.

"Dari sisi harga pun cukup murah, contohnya bola sepak, futsal, rugby, voli dan basket (jahit tangan) dihargai sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu. Sementara harga bola sepak buatan mesin sebesar Rp 80 ribu hingga Rp 200 ribu, bola voli Rp 200 ribu, dan harga bola basket Rp 80 ribu sampai Rp 350 ribu per bola," lanjut Suharto.

Harga itu, diakuinya, sudah mengalami kenaikan 10% pada tahun lalu. Dan tahun ini, harga bola diperkirakan melambung hingga 30% seiring dengan membengkaknya biaya bahan baku impor, distribusi (logistik) dan sebagainya.

Dengan patokan harga dan besarnya permintaan produk bola tersebut, dia mengaku, berpeluang besar mendapat omzet pedagang sebesar Rp 90 miliar per tahun jika sedang ramai. Suharto sendiri sudah mengincar penambahan pasar ekspor baru, termasuk ke Afrika, Timur Tengah, Eropa Timur dan Amerika Latin pada tahun ini. (Fik/Ndw)
Loading