Berkat Kecerdasan Buatan, Gaji CEO Microsoft Melonjak 22% Tahun Ini

CEO Microsoft, Satya Nadella, raih gaji Rp 1,6 triliun di tengah lonjakan saham dan bisnis AI, menjadikannya salah satu eksekutif teknologi berpenghasilan tinggi.

Diterbitkan 22 Oktober 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Chief Executive Officer (CEO) Microsoft Satya Nadella menerima kenaikan gaji signifikan tahun ini. Satu alasan yang mendasri kenaikan pendapatan ini adalah melonjaknya harga saham Microsoft  yang terus terdorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Dikutip dari CNBC, Rabu (22/10/2025), dalam laporan resmi yang disampaikan Microsoft kepada otoritas bursa setelah penutupan perdagangan pada Selasa (waktu setempat), total kompensasi Nadella untuk tahun fiskal 2025 naik 22% menjadi USD 96,5 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun (estimasi kurs Rp 16.596 per USD), dari USD 79,1 juta tahun lalu.

Dari total tersebut, lebih dari USD 84 juta berasal dari penghargaan saham, sementara USD 9,5 juta diberikan dalam bentuk bonus tunai berbasis kinerja.

Struktur kompensasi ini sangat bergantung pada kinerja saham Microsoft di pasar modal.

Kinerja Saham Microsoft Terus Melonjak

Sepanjang tahun 2025, harga saham Microsoft telah naik 23%, mengugguli kenaikan 15% di indeks S&P 500. Nilai saham raksasa teknologi tersebut bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, berkat pesatnya permintaan terhadap layanan berbasis AI dan komputasi awan.

Perusahaan yang berbasis di Redmond, Amerika Serikat, menguraikan hasil fiskal fiskal pertama pada pekan depan. Sebelumnya, dalam laporan kuartal keempat pada bulan Juli, Microsoft mencatat pertumbuhan penjualan 18%, menjadi ekspansi tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Bisnis Microsoft Azure menjadi motor utama peningkatan tersebut, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur cloud untuk mendukung teknologi AI generatif yang kini menjadi fokus utama perusahaan.

Gejolak Internal

Pada tahun fiskal 2024, total pendapatan Nadella naik 63% dari USD 48,5 juta di tahun sebelumnya, dengan sekitar 90% berasal dari penghargaan saham. Meski dapat menerima bonus tunai sebesar USD 10,66 juta, Nadella secara sukarela meminta komite dewan pemberitahuannya menjadi USD 5,2 juta sebagai bentuk tanggung jawab atas serangan siber yang melanda Microsoft.

Di balik keberhasilan finansial, Microsoft menghadapi gejolak internal. Pada Juli lalu, Nadella menyampaikan memo emosional kepada karyawan, mengaku terbebani secara pribadi oleh keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada lebih dari 15.000 karyawan di tahun 2025.

Selain itu, perusahaan juga menuai kritik setelah memberhentikan sejumlah karyawan aktivis yang menentang kerja sama antara Microsoft dengan militer Israel, sehingga menjadi pakar yang menyampaikan etika di kalangan internal dan publik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6