Sukses

Pertamina Investasi Rp 14,6 Triliun untuk Kembangkan CBM

PT Pertamina (Persero) menyiapkan investasi US$ 1,5 miliar atau setara Rp 14,6 triliun untuk melakukan eksplorasi 200 sumur gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) dalam lima tahun ke depan.

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengatakan pengembangan CBM diperlukan guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan beralih pada sumber energi alternatif untuk mengamankan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan di masa mendatang.

Hal itu disampaikan dalam pidatonya di forum Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington D.C. Amerika Serikat yang mengetengahkan isu mengenai Ketahanan Energi yang berkelanjutan.

"Selain dilimpahi gas alam, CBM merupakan gas serbaguna yang mampu memenuhi kebutuhan berbagai macam pasar dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu setengan dari harga minyak diesel.  Apalagi posisi cadangannya merupakan yang terbesar ke-6 di dunia,"ujar dia seperti dikutip dari situs Ditjen EBTKE, Selasa (23/4/2013).

Konsumsi energi primer Indonesia telah meningkat sebesar 50% dalam satu dekade terakhir. Di sisi lain, produksi minyak yang saat ini menjadi penyokong utama kebutuhan energi nasional telah jatuh jauh di bawah produksi puncaknya 1,6 juta barel per hari (bph) menjadi sekitar 861 ribu bph pada 2012.

Pada saat yang sama, cadangan minyak terbukti Indonesia juga turun terus sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penurunan cadangan minyak mentah tercepat di Asia. Namun, di sisi lain 30% dari total konsumsi energi primer Indonesia masih bersumber dari sehingga telah menempatkan Indonesia ke dalam daftar negara nett importir minyak.

Secara geopolitik, terjadinya gejolak di Timur Tengah akan menimbulkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pasokan minyak ke Indonesia. Menurut Karen, risiko ini harus disikapi secara pro aktif dengan upaya mengurangi kebergantungan pada minyak dan segera beralih ke sumber energi alternatif, seperti gas alam, gas non konvensional, dan energi baru terbarukan yang cadangannya di Indonesia masih sangat menjanjikan.

Cepat atau lambat Indonesia dan juga negara dunia lainnya, tegas dia,  harus mengucapkan selamat tinggal pada minyak sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik.

Pemerintah telah pula merencanakan untuk memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional, dari 10 juta ton setara minyak saat ini menjadi 99 juta ton setara minyak pada 2025.  Selain itu, Indonesia juga berpotensi menjadi pusat produksi biofuel atau biodiesel dunia, kendati saat ini masih terhalang oleh kondisi dimana bahan dasar biofuel masih banyak diekspor karena memiliki harga lebih tinggi untuk produksi bahan makanan.

"Bioethanol juga sangat potensial dikembangkan untuk mengurangi impor minyak sekaligus memperbaiki standar kualitas udara,"paparnya. (Ndw)