Sukses

50% Kebutuhan Perumahan Masyarakat Belum Terpenuhi

Kalangan perbankan masih sangat yakin sektor properti di Indonesia masih mempunyai prospek yang bagus dan belum terindikasi kredit macet.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero), Maryono, mengatakan pangsa pasar kredit properti terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia masih sangat rendah yaitu sekitar 2,3%.

"Kami melihat sejauh ini perkembangan properti masih bagus. Negara Amerika Serikat (AS) pangsa pasar sudah mencapai di angka 88%. Di Indonesia itu masih jauh jika dibandingkan angka tersebut," ujar Maryono di Jakarta, Rabu (6/2/2013).

Maryono menjelaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih membantu permintaan dan kebutuhan properti yang ada. Dari catatan BTN, permintaan rumah mencapai 800 ribu unit setiap tahunnya. Sementara pasokan rumah hanya mencapai 50%, yakni 400 ribu unit.

Selisih kebutuhan itu terus membesar karena adanya proyek perumahan yang belum terselesaikan. Kondisi inilah yang harus diperhatikan masyarakat.

Sementara itu, Director Economic Research Group Departement and Monetary Policy Bank Indonesia (BI), Endy Dwi Tjahjono menegaskan, bank sentral berupaya mengendalikan pertumbuhan kredit properti agar tidak terjadi gelembung (bubble). Gelembung adalah kondisi dimana 

BI juga menegaskan telah mempunyai instrumen yang menentukan kapan kebijakan pengendalian bisa dijalankan. Hingga saat ini, bank sentral di tanah air itu masih melihat pertumbuhan dan permintaan properti masih cukup tinggi. (Dis/Shd)

    JOKOWI: TAK ADA YANG TAKUTI KECUALI ALLAH DALAM MEMIMPIN

    Tutup Video