Sukses

Harga Minyak Dunia Amblas, Kekhawatiran Resesi Membebani

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta) setelah kekhawatiran pasokan yang ketat tidak cukup untuk melebihi kekhawatiran tentang ekonomi global yang lebih lemah.

Dikutip dari CNBC, Kamis (30/6/2022), harga minyak mentah Brent untuk Agustus turun 1,46 persen menjadi USD 116,26. 

Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap turun 1,77 persen ke level USD 109,78.

Sebelumnya, kedua harga patokan minyak dunia ini naik lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa karena kekhawatiran atas pasokan yang ketat akibat sanksi Barat terhadap Rusia melebihi kekhawatiran bahwa permintaan yang dapaty melambat dalam potensi resesi di masa depan.

“Pasar terjebak dalam tarik-menarik antara latar belakang makro yang memburuk saat ini dan ancaman resesi yang menjulang, diadu dengan pengaturan pasar minyak fundamental terkuat dalam beberapa dekade, mungkin pernah,” kata Mike Tran dari RBC Capital dalam sebuah catatan. 

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dilihat sebagai satu-satunya dua anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan kapasitas cadangan untuk menebus pasokan Rusia yang hilang.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Produksi

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan minggu ini dia diberitahu bahwa produsen ini akan berjuang untuk meningkatkan produksi lebih lanjut.

“Investor membuat penyesuaian posisi, tetapi tetap bullish di tengah ekspektasi bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak akan mampu meningkatkan produksi secara signifikan untuk memenuhi permintaan yang pulih, didorong oleh peningkatan bahan bakar jet,” kata Hiroyuki Kikukawa, general manager dari penelitian di Nissan Securities.

OPEC dan OPEC+, yang mencakup sekutu seperti Rusia, memulai serangkaian pertemuan dua hari pada hari Rabu dengan sumber mengatakan peluang perubahan kebijakan besar tampaknya tidak mungkin terjadi bulan ini.

“Harga minyak kemungkinan akan tetap di atas USD 110 per barel, juga di tengah kekhawatiran gangguan pasokan potensial karena badai saat Amerika Serikat memasuki musim panas,” katanya.

Analis juga memperingatkan bahwa kerusuhan politik di Ekuador dan Libya dapat memperketat pasokan lebih lanjut. 

3 dari 4 halaman

Harga Minyak Hari Ini di Pasar Global Naik Usai Produsen Tak Sanggup Tambah Produksi

Sebelumnya, harga minyak dunia hari ini mencapai posisi lebih tinggi untuk hari ketiga usai produsen utama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tampaknya tidak mungkin dapat meningkatkan produksi secara signifikan. Sementara pemerintah Barat setuju untuk mencari cara untuk membatasi harga minyak Rusia.

Melansir laman The Star, harga minyak mentah Brent berjangka naik USD 2,89, atau 2,5 persen menjadi USD 117,58 per barel.

Sementara harga minyak hari ini jenis West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 ditutup naik USD 2,19, atau 2 persen menjadi USD 111,76 per barel.

Kedua kontrak harga minyak tersebut memperpanjang kenaikan dari sesi sebelumnya hampir 2 persen setelah kekuatan ekonomi G7 berjanji untuk meningkatkan tekanan Barat terhadap Rusia dari sanksi atas invasinya ke Ukraina.

Para pemimpin G7 telah sepakat untuk menjajaki penerapan larangan pengangkutan minyak Rusia yang telah dijual di atas harga tertentu, yang bertujuan untuk menguras dana perang Moskow.

Pendapatan ekspor minyak Rusia naik pada Mei bahkan ketika volume turun, Badan Energi Internasional mengatakan dalam laporan Juni. 

Larangan Barat terhadap Rusia dan produksi minyak dan gasnya telah menyebabkan kenaikan tajam harga energi global, dan produsen besar lainnya belum menerapkan dorongan signifikan pada pasokan.

Arab Saudi dan UEA telah dilihat sebagai satu-satunya dua anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak dengan kapasitas cadangan untuk menebus pasokan Rusia yang hilang dan output yang lemah dari negara-negara anggota lainnya.

4 dari 4 halaman

Pengganti Produksi Rusia

Arab Saudi dan UEA diharapkan yang memberikan pasokan minyak pengganti Rusia. "Sejumlah berita tentang pasokan yang ketat mendukung pasar. Dua produsen utama, Arab Saudi dan UEA, dikatakan berada pada, atau sangat dekat, batas kapasitas jangka pendek," kata Analis Komoditas Commonwealth Bank Tobin Gorey dalam sebuah catatan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden di sela-sela pertemuan G7 bahwa UEA berproduksi pada kapasitas maksimum dan Arab Saudi dapat meningkatkan produksi hanya 150.000 barel per hari, jauh di bawah kapasitas cadangan papan namanya sekitar 2 juta barel per hari.

"Sepertinya barel hari hujan yang diandalkan pasar mungkin tidak muncul," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.