Sukses

Konglomerat Kaya Korea akan Bangun Pembangkit Nuklir Skala Kecil di Asia

Liputan6.com, Jakarta Dua perusahaan besar Korea termasuk Samsung telah menandatangani perjanjian dengan NuScale. Rencananya perusahaan-perusahaan itu akan membangun reaktor nuklir modular skala kecil di Asia.

Perusahaan reaktor modular keci NuScale atau dikenal SMR, Samsung C&T, Korea Doosan Group, dan GS Group akan mengeksplorasi penyebaran pembangkit listrik SMR NuScale.

“Pengumuman ini merupakan langkah penting berikutnya dalam membawa solusi energi bersih NuScale ke Asia,” kata pihak NuScale dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Forbes, Rabu (18/5/2022).

“Dengan MOU ini, diharapkan akan ada kemajuan besar dalam pengembangan bisnis SMR melalui kerjasama yang lebih kuat antara NuScale dan investor strategis Korea,” kata Byungsoo Lee, Wakil Presiden di Samsung C&T dalam pernyataannya.

“Saya pikir SMR akan memainkan peran penting untuk menanggapi permintaan bebas karbon dan perubahan iklim,” lanjutnya.

Kesepakatan itu diumumkan setelah Yoon Suk-yeol terpilih sebagai presiden Korea Selatan pada Maret lalu.

Yoon yang menjabat pada 10 Mei lalu telah berjanji untuk merangkul energi nuklir demi mempercepat tujuan Korea Selatan untuk nol emisi.

Samsung C&T, perusahaan induk de-facto dari konglomerat Samsung milik miliarder Jay Y. Lee pun mulai berinvestasi bersama dengan NuScale sejak 2019, diikuti oleh lebih banyak kerja sama tahun lalu.

Samsung, Doosan dan GS Energy akan memberi saran kepada NuScale dalam pembuatan komponen, konstruksi pabrik, dan operasi pabrik, tulis pernyataan tersebut. NuScale mungkin mengharapkan Samsung C&T untuk "membangun hal-hal ini secara efisien," kata Todd Allen, Ketua dan Profesor Departemen Teknik Nuklir dan Ilmu Radiologi di University of Michigan.

 

2 dari 2 halaman

Proses Pembangunan

Charles Mason, Ketua Ekonomi Minyak dan Gas Alam di Departemen Ekonomi dan Keuangan di University of Wyoming mengatakan, NuScale mungkin akan membangun pabrik yang lebih cepat dan murah daripada pembangkit nuklir saat ini. 

Konstruksi reaktor modular dapat memakan waktu kurang dari satu tahun dan menelan biaya "jutaan dolar" daripada miliaran, perkiraan Mason.

“Pabrik konvensional cenderung sangat mahal, membutuhkan waktu lama untuk membangun dan karena hal-hal itu mereka secara kronis diganggu oleh pembengkakan biaya,” ungkap Mason.

Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga nuklir global dan industri peralatan mampu menghasilkan USD 41 miliar pada tahun 2020 dan akan mencapai USD 58 miliar pada tahun 2030, kata Allied Market Research.

Perusahaan riset pasar menunjukkan peningkatan permintaan energi di tengah "prasyarat pembangkit listrik yang lebih bersih" sebagai alasan untuk pertumbuhan yang diharapkan.

 

Reporter: Aprilia Wahyu Melati