Sukses

Intip Gerak Harga Minyak, Batu Bara hingga CPO Sepanjang April 2022

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah harga komoditas per April 2022 masih mengalami peningkatan. Harga minyak mentah dunia atau ICP tercatat USD 102,5 per barel.

Secara tahunan mengalami peningkatan hingga 65,4 persen (yoy), namun mengalami penurunan 9,68 persen (mtm) dibandingkan Maret 2022.

"Mengalami penurunan 9,68 persen secara mtm tapi kalau dibandingkan April tahun lalu naik 65,4 persen," kata kata Kepala BPS, Margo Yuwono di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Selasa (17/5).

Komoditas non migas juga mengalami kenaikan di bulan April 2022. Harga batu bara naik 2,57 persen (mtm) dan kopi naik 0,10 persen.

Selain itu, sejumlah komoditas juga mengalami penurunan harga. Antara lain harga CPO yang turun USD 5,30 persen, nikel turun 2,33 persen dan timah turun 2,18 persen.

Sementara itu, harga komoditas barang-barang impor juga tercatat masih mengalami peningkatan. Harga gandum mengalami kenaikan 1,85 persen, kedelai masih naik 0,03 persen, jagung naik 3,77 persen dan LNG naik 13,67 persen.

Margo mengatakan pergerakan harga komoditas tersebut akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor. Baik dari sisi nilai maupun volumenya di April 2022.

"Pergerakan sejumlah harga baik ekspor atau impor ini dampaknya ke nilai ekspor dan impor pada April 2022," kata dia.

Hasilnya, nilai ekspor Indonesia pada bulan April 2022 sebesar USD 27,31 miliar. Hasil ekspor tersebut mengalami kenaikan 3,11 persen (mtm) dibandingkan bulan Maret 2022 dan tumbuh 47,76 persen (yoy) bila dibandingkan dengan April 2021.

Sementara itu, kinerja impor Indonesia mengalami kenaikan 21,97 persen (yoy) atau sebesar USD 19,76 miliar. Sedangkan secara bulanan impor Indonesia mengalami penurunan sebesar 10,01 persen (mtm).

 

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Harga Meroket, Ekspor CPO Indonesia Malah Lesu

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan, mahalnya harga Crude Palm Oil (CPO) berdampak pada konsumsi dan ekspor yang menurun.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, memaparkan, harga CPO rata-rata CIF Rotterdam pada bulan Februari 2022 mencapai USD 1.522 per ton, USD164 lebih tinggi dari harga bulan Januari sebesar USD 1.358 per ton, USD 469 lebih tinggi dibandingkan dengan harga Februari 2021 sebesar USD 1.053 ton. Harga KPBN FOB untuk Februari adalah Rp15.532/kg berbanding Rp14.511 di bulan Januari.

Harga yang tinggi tersebut disebabkan oleh produksi minyak nabati dunia yang tidak seperti diharapkan, terutama untuk kedelai di Amerika Selatan.

Disisi lain, produksi CPO Indonesia pada Februari 2022 diperkirakan sebesar 3.505 ribu ton dan PKO sebesar 302 ribu ton yang lebih rendah dari produksi bulan Januari sebesar 3.863 ribu ton untuk CPO dan 365 ribu ton untuk PKO karena faktor musiman.

"Harga yang sangat tinggi berdampak pada konsumsi dan ekspor. Konsumsi dalam negeri untuk pangan bulan Februari 2022 sebesar 489 ribu ton adalah 17,3 persen  lebih rendah dari bulan Januari sebesar 591 ribu ton. Konsumsi oleokimia bulan Februari sebesar 178 ribu ton dan biodiesel 710 ribu ton yang dibandingkan dengan konsumsi Januari masing masing turun sebesar 2,7 persen dan 3 persen," kata Mukti, Selasa (19/4/2022).

Berdasarkan data Gapki, total ekspor sawit bulan Februari mencapai 2.098 ribu ton  lebih rendah dibandingkan dengan bulan Januari 2.179 ribu ton (-3,7 persen).  Walaupun harga bergerak naik, nilai ekspor minyak sawit bulan Februari yang mencapai USD 2.799 juta, lebih rendah 0,6 persen  dari nilai bulan Januari sebesar USD 2.816 juta.

3 dari 4 halaman

Penurunan Ekspor

Penurunan ekspor yang besar terjadi untuk tujuan Afrika sebesar 153,3 ribu ton dari 278,1 ribu ton di bulan Januari menjadi 134,7 di bulan Februari (-54 persen). Penurunan yang cukup besar juga terjadi untuk tujuan Filipina sebesar -55 persen dari 63,8 ribu ton di bulan Januari menjadi 28,7 ribu ton di bulan Februari.

"Ekspor untuk tujuan Rusia turun 7,8 persen dari 69,6 ribu ton pada Januari menjadi 64,2 ribu ton pada Februari. Ekspor ke Ukraina fluktuatif dengan rata-rata bulanan pada 2021 sebesar 25 ribu ton Pada Januar 2022, ekspor ke Ukraina turun menjadi hanya 256 ton sedangkan pada Februari pulih dan mencapai 15,28 ribu ton," ujarnya.

Sementara, ekspor untuk tujuan Belanda, China, India, Bangladesh dan Malaysia naik cukup besar, Ekspor ke Belanda di bulan Februari mencapai 184,41 ribu ton naik dari 128,27 ribu pada Januari (+42,21 persen).

Sedangkan ekspor untuk China mencapai 240,3 ribu ton naik dari 197,4 ribu ton (+21,7 persen), untuk India mencapai 290,2 ribu ton naik dari 249,9 ribu ton (+15,12 persen), untuk Bangladesh mencapai 125.0 ribu ton naik dari 57,6 ribu ton (+43,9 persen) dan untuk Malaysia mencapai 229,5 ribu ton naik dari 150,4 ribu ton(+27,2 persen).

Demikian, kata Mukti, BMKG memperkirakan cuaca sepanjang 2022 akan normal, tetapi situasi geopolitik menimbulkan berbagai ketidakpastian, sehingga meningkatkan upaya efisiensi dan produktivitas merupakan tindakan bijak yang harus dipertahankan.

4 dari 4 halaman

Harga CPO Mahal, Pengusaha Justru Tak Senang

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono, mengatakan naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit tidak membuat para pengusaha senang. 

"Satu sisi semua mengatakan bahwa industri sawit menghadapi windfall (rezeki nomplok), kita juga tidak terlalu senang dengan situasi seperti ini. Karena excess (kelebihan)-nya justru kemana-mana," kata Ketua Gapki dalam acara buka puasa Gapki dengan stakeholder kelapa sawit, Selasa (19/4/2022).

Menurutnya, memang situasi global yang tidak pasti ini membuat harga komoditas naik semua, termasuk minyak nabati juga mengalami kenaikan.

"Kita menghadapi situasi yang challenging. Oleh karena itu, hal yang sangat penting adalah kita semua saling memberikan informasi dan pemahaman supaya situasi yang challenging ini bisa manage dengan baik," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, aspek supply dan demand tak terpisahkan dalam dunia usaha, termasuk dalam usaha minyak sawit.

Ketua Gapki mengungkapkan alasan harga-harga komoditas menjadi naik, khususnya minyak nabati dikarenakan adanya pengetatan supply lantaran kegagalan panen, dan faktor perang Rusia-Ukraina.

"Kenapa harga-harga  tinggi? karena supply demand nabati, terjadi supply yang ketat karena faktor kegagalan di panen dan faktor perang Ukraina-Rusia," ucapnya.