Sukses

Menko Airlangga Jabarkan Kunci Sukses Capai Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen di 2022

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2022 berada pada kisaran 5,2 persen. Namun, penanganan dan pemulihan ekonomi akan menjadi juru kunci untuk mencapai target tersebut.

Hal itu disampaikan Menko Airlangga dalam Webinar HIPMI "Momentum Presidensi G20 untuk Akselerasi Pemulihan Ekonomi", Selasa (25/1/2022).

“Pertumbuhan ekonomi di Tahun 2022 ditargetkan dapat tumbuh hingga 5,2 persen dan penanganan covid19 dan pemulihan ekonomi akan menentukan pencapaian target tersebut,” kata Menko Airlangga.

Oleh karena itu, adanya kerja sama para stakeholder sangat diperlukan dan ini menjadi kunci bagi pemulihan dan mendorong pembangunan ke depan.

Sementara, Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan efektivitas dalam penanganan covid-19 melalui strategi hulu-hilir. Dimana kasus aktif di Indonesia terus dijaga dengan tingkat kesembuhan 96,4 persen.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Disiplin

Tegas Airlangga, kita semua tetap harus waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan mengingat kenaikan kasus Omicron secara global telah melanda berbagai negara di dunia. Pengendalian pandemi efektif terbukti menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi.

“Pandemi yang terkendali mendorong confidence atau keyakinan dan mobilitas penduduk yang kemudian membuat ekonomi tetap tumbuh di kuartal ketiga (2021) sebesar 3,51 persen dan kuartal keempat (2021) diproyeksikan tumbuh antara 4,5 persen sampai 5 persen,” ujarnya.

Di sisi lain, ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan seperti varian-varian baru covid 19, distribusi vaksin Global yang belum merata, kelemahan ekonomi akibat kebijakan terutama di China yang mendorong pertumbuhan tinggi ke arah pemerataan.

Tantangan global lainnya, yaitu terjadi krisis energi, krisis properti Evergrande, serta resiko yang mempengaruhi Capital outflow seperti kenaikkan suku bunga di Amerika. Terkait dengan situasi-situasi tersebut Pemerintah Indonesia perlu merespon secara fleksibel dan adaptif.