Sukses

Gara-Gara Corona, Biaya untuk Bepergian akan Semakin Mahal

Liputan6.com, Jakarta - Bos Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan di masa depan penumpang pesawat tak lagi semudah biasanya. Penumpang pesawat juga terbatas pada mereka yang masuk dalam klasifikasi tertentu.

"Tidak dapat dipungkiri naik pesawat itu (hanya) klasifikasi orang yang harus terbang," kata Irfan dalam Webinar Kementerian Perhubungan bertajuk 'Kolaborasi Merespon Dampak Pandemi Covid-19 dan Strategi Recovery pada Tatanan Kehidupan Normal Baru di Sektor Transportasi', Jakarta, Selasa (2/6).

Kemudahan yang selama ini dirasakan sebagai penumpang pesawat juga tak ada lagi. Proses untuk melakukan perjalanan dengan angkutan udara ini akan lebih sulit dan kompleks.

Tak hanya itu, biaya perjalanan dengan pesawat akan lebih mahal dari biasanya. Bukan hanya soal harga tiket, melainkan prosedur yang diperlukan sebelum naik pesawat.

"Yang lebih penting mahal ini tidak lebih mahal daripada harga tiket pesawat itu sendiri," kata dia.

Irfan menyebut penerbangan menuju Bali akan diperketat. Informasi yang diterima Irfan, penumpang dengan tujuan Pulau Dewata itu harus menjalani PCR tes.

Biaya untuk satu kali test berkisar Rp 2,5 juta. Biaya tersebut tentunya kata Irfan lebih mahal daripada harga tiket pesawat yang hanya Rp 1,5 juta.

"Itu jauh lebih mahal daripada biaya bepergian, khususnya lokasi yang berdekatan seperti Jakarta-Surabaya," kata dia.

Apalagi jika melakukan perjalanan selama 7 hari, PCR tes harus dilakukan sebanyak dua kali. Artinya, biaya hanya untuk PCR sudah Rp 5 juta.

"Sementara perjalanan bolak balik hanya 1,5 juta," sambung dia.

Dengan begitu, Irfan memprediksi industri penerbangan akan terus terpuruk. Penumpang akan turun drastis.

2 dari 2 halaman

Pemulihan Industri Penerbangan

Sehingga dalam menanggulangi ini perlu ada kerja sama dengan para pemangku kebijakan. Sebab dia menilai industri penerbangan akan kembali pulih selama 2-3 tahun.

"Kami mendapatkan konsensus, industri ini bisa recovery sebelum covid dalam masa 2 sampai 3 tahun," ungkap dia.

Irfan menambahkan, protokol kesehatan berupa jaga jarak fisik memang bukan fakta penularan virus. Bahkan dalam dokumen dari The International Air Transport Association (IATA) dan beberapa lembaga lainnya.

Namun, jika hal itu tetap menjadi keharusan dan penting Garuda Indonesia akan tetap mengikuti protokol kesehatan tersebut.

"Tapi buat kami selama itu penting, Garuda tetap mempertahankan distancing di pesawat," kata dia.

Akibatnya, sektor bisnis dan ekonomi akan berpengaruh. Sehingga pihaknya perlu berdiskusi dan mengkomunikasikannya dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan industri tetap berjalan.

"Untuk memastikan industri ini punya nafas berkelanjutan, paling tidak tetap memperoleh keuntungan," kata Irfan mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com