Sukses

Koperasi Harus Jadi Pelaku Strategis Industrialisasi Perikanan

Liputan6.com, Jakarta - Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan pasar ekspor ikan yang terbuka lebar menjadi peluang besar bagi Indonesia yang saat ini belum menjadi pemain utama dalam menyuplai komoditas perikanan ke pasar dunia.

Hal itu disampaikan dalam workshop kemitraan pengembangan industrialisasi Bidang Perikanan oleh Koperasi dan UKM melalui kemitraan, di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

"Melalui pertemuan ini, saya berharap bahwa sektor perikanan nasional khususnya yang dijalankan oleh nelayan anggota koperasi dapat berkembang pesat, memberi manfaat tidak hanya sekedar penjualan bahan baku saja, tapi juga mampu menghasilkan produk-produk berinovasi yang memiliki nilai tambah sehingga komoditas hasil perikanan Indonesia, mampu bersaing tidak hanya dengan produk pangan lokal tapi juga dengan komoditas pangan dunia secara global serta produk perikanan mampu menembus pasar ekspor," kata Victoria.

Dilihat dari peluang usaha perikanan semakin besar seiring dengan konsumsi produk perikanan yang semakin tinggi. Data menunjukkan konsumsi ikan yang pada tahun 1998 baru mencapai 18 kg/kapita/tahun melonjak menjadi 50 kg/kapita/tahun. Tren serupa juga terjadi dunia. Di lain pihak, produksi perikanan tangkap dunia mengalami penurunan 2 juta ton pada tahun 2015 - 2016.

Selain itu, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Riza Damanik juga menyampaikan dalam workshop itu, hal itu merupakan tantangan, sekaligus peluang pasar produk perikanan dunia semakin terbuka dan besar.

Untuk itu, Riza meminta koperasi dapat mengambil momentum dari potensi ekonomi sektor perikanan yang demikian besar. Terlebih di sektor perikanan budidaya, potensi lahannya mencapai 12 juta ha namun pemanfaatannya baru 7-8 persen saja.

"Kemenkop dan UKM menginginkan koperasi memainkan peran strategis untuk sektor perikanan," kata Riza.

2 dari 3 halaman

Jumlah Koperasi Perikanan

Ia mengemukakan potret pelaku usaha di sektor perikanan mayoritas adalah UMKM baik dalam perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan.

Berdasarkan data jumlah koperasi perikanan masih sedikit hanya 1,4 persen atau 1.959 koperasi. Dikatakan, data itu sekaligus mengonfirmasi bahwa sebagian besar nelayan kita belum berkoperasi.

Riza menegaskan jika nelayan dengan kepemilikan lahan dan perahu yang kecil-kecil yang dikelola secara individual, tidak berkelompok, pastilah mendapat nilai ekonomi rendah dan sulit bersaing.

"Harus ada yang memainkan peran untuk menjadi agregator dan konsolidator, yaitu koperasi. Peran itu strategis sekali. Industri perikanan kita akan semakin kuat dan berdaya saing dengan kemitraan koperasi semacam itu" tegas Riza.

Koperasi, lanjutnya, akan berperan melakukan konsolidasi lahan atau perahu, hasil produksi, pembiayaan, pasar, hingga konsolidasi program-program pemerintah yang relevan dengan anggotanya. Dengan modal ini, koperasi dapat melakukan kemitraan dan mudah mencari off taker dan pembiayaan.

Kendati begitu, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendorong kemitraan dalam komoditas unggulan udang, garam dan Hidrolisat Protein Ikan antara koperasi perikanan dengan pemilik teknologi dengan dukungan pemerintah setempat. Kemitraan diharapkan berdampak kepada bertambahnya daya saing koperasi perikanan, peningkatan APBD, turut serta mengatasi stunting, turut serta mengurangi impor garam, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading