Sukses

Capai Kesepakatan, Perang Dagang Amerika Serikat-China Berakhir?

Liputan6.com, Jakarta - Jelang akhir tahun 2019, hubungan dua raksasa ekonomi dunia Amerika Serikat dan China semakin membaik. Meski kedua belah pihak belum menandatangani penyelesaian perang dagang fase pertama secara resmi, namun muncul beragam komentar yang bernada positif.

Seperti Presiden AS Donald Trump yang mengaku telah membuat kesepakatan besar dengan China, seperti membatalkan tarif penalti yang direncanakan akan diberlakukan 15 Desember kemarin. Kemudian membuat perjanjian di bidang agrikultur, energi dan barang manufaktur lainnya.

"Kami telah menyetujui kesepakatan besar fase satu dengan China. Mereka menyetujui untuk kerjasama dalam produk agrikultur, energi dan barang manufaktur dan lainnya. Tarif 25 persen akan tetap berlaku, namun tarif tambahan pada 15 Desember akan dibatalkan karena kami sudah sepakat," cuit Donald Trump di akun twitternya @realDonaldTrump, dikutip dari laman CNBC, Senin (16/12/2019).

Lebih rinci, Reuters melaporkan bahwa lawan perang dagang AS tersebut setuju menambah pembelian hasil pertanian AS senilai USD 32 miliar dalam 2 tahun ke depan. Hal ini dikonfirmasi oleh wali dagang pemerintahan AS, Robert Emmet Lightizer.

Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen dan Komisi Nasional Reformasi dan Pengembangan Ning Jizhe mengkonfirmasi bahwa mereka akan mengimpor lebih banyak hasil pertanian AS seperti gandum, jagung dan beras.

Meski demikian, perjanjian tersebut belum jelas ketentuan hukumnya karena dokumennya masih dikaji kedua belah pihak.

2 dari 2 halaman

Trump Ingin China Beli Lebih Banyak Hasil Pertanian AS

Lebih lanjut, Trump masih menginginkan China untuk membeli produk pertanian AS dengan nilai yang jauh lebih tinggi, yaitu USD 50 miliar. Oleh karenanya, tarif impor yang belum dicabut akan dijadikan "amunisi kedua" dalam perjanjian fase kedua nanti.

"Kita akan menggunakannya untuk negosiasi selanjutnya di fase kedua," ujar Trump.

Jadi, meski pada fase pertama perang dagang terlihat mereda, sebenarnya masih ada fase-fase selanjutnya yang mungkin akan dilewati dengan "kejutan-kejutan" yang membuat ekonomi global naik turun.

Loading
Artikel Selanjutnya
Bertambah 142, Korban Meninggal Akibat Virus Corona di China Jadi 1.665 Orang
Artikel Selanjutnya
69.000 Orang Terinfeksi, Ini Daftar Jumlah Pasien Virus Corona di Seluruh Dunia