Sukses

Adidas, Converse, dan Nike Kirim Surat Terbuka ke Donald Trump

Liputan6.com, Washington D.C. - Adidas, Converse, dan Nike kompak melayangkan surat protes ke Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Mereka menilai perang dagang yang terjadi dapat berdampak ke ratusan juta pelanggan.

Dilaporkan Forbes, ada total 173 perusahaan sepatu yang menandatangani surat tersebut. Selain tiga perusahaan yang sudah disebutkan, ada pula nama beken lain seperti Crocs, Dunham, Fila, Hush Puppies, Reebok, dan Skechers.

Para perusahaan menilai menambah tarif ke produk impor asal China hanya akan merugikan pelanggan dan konsumen. Pasalnya, banyak perusahaan sepatu yang pabriknya berada di China, dan sepatu termasuk ke dalam produk yang kena sanksi tarif. Akibatnya, harga menjadi naik.

"Kami dapat memastikan Anda bahwa penambahan biaya dalam impor sepatu memiliki dampak langsung ke konsumen sepatu Amerika. Ini adalah fakta tak terhindarkan bahwa pelanggan akan membayar lebih untuk produk ketika harga barang naik di perbatasan akibat biaya transportasi, pertambahan biaya buruh, atau bea tambahan," jelas isi surat tersebut.

Pihak perusahaan pun mendesak pemerintahan Donald Trump agar mencabut sepatu dari daftar sanksi. Selain itu, perusahaan menyebut tak bisa serta merta pindah pabrik dari China meski ada perang dagang.

"Butuh perencanaan bertahun-tahun untuk membuat keputusan sourcing, dan para perusahaan tak bisa begitu saja memindahkan pabrik untuk menyesuaikan pada perubahan-perubahan ini," jelas surat tersebut.

Surat ini juga ditembuskan kepada pejabat ekonomi AS yang memainkan peran di perang dagang melawan China, yakni Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, Menteri Keuangan Steven Mnuchin, Menteri Perdagangan Wilbur Ross, dan Direktur Majelis Ekonomi Nasional Larry Kudlow.

Para perusahaan itu pun mengimbau Presiden Donald Trump agar menyelesaikan perang dagang. Ini, menurut mereka, demi ratusan juta konsumen sepatu dan ratusan ribu pegawai.

"Proposal Anda untuk menambah tarif ke seluruh barang impor asal China adalah meminta konsumen Amerika untuk menombok biaya. Inilah waktunya mengakhir perang dagang ini," ungkap surat itu.

2 dari 4 halaman

Perang Dagang, China Harap AS Kembali ke Jalan yang Benar

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam China agar tidak membalas dengan menerapkan tarif terhadap barang impor asal Negeri Paman Sam. Trump berkata langkah retaliasi hanya akan memperburuk situasi China di perang dagang.

Namun, China memilih melakukan retaliasi dengan cara menambah tarif sebesar 10 persen ke produk AS senilai USD 60 miliar. Dengan adanya retaliasi ini China berharap AS akan kembali ke "jalan yang benar". 

"Penyesuaian China pada tarif tambahan adalah respons terhadap unilateralisme dan proteksionisme AS. China berharap AS akan kembali ke jalan yang benar pada perdagangan bilateral dan konsultasi ekonomi dan bertemu China di jalan tengah," ucap Kementerian Keuangan China seperti dikutip Yahoo! Finance.

Total 5.140 produk AS akan kena tarif tambahan antara 5 persen, 10 persen, 20 persen, dan 25 persen. Retaliasi perang dagang ini akan diterapkan pada 1 Juni mendatang.

Tarif sebesar 25 persen untuk 2.493 produk seperti LNG, minyak keledai, minyak kacang, petrokimia, sayuran beku dan kosmetik.

Retaliasi yang dilakukan China relatif lebih kecil dari sanksi AS sebesar 25 persen pada lebih dari 5.700 produk China. Total produk China yang kena tarif baru itu senilai USD 200 miliar. 

Pekan lalu, delegasi China yang dipimpin oleh Vice-Premier Liu He juga sudah bertemu pemerintahan AS untuk membahas penyelesaian perang dagang. Sayang, pertemuan itu tidak mencapai target dan perang tarif berlanjut.

3 dari 4 halaman

Bos IMF Cemas

Sebelumnya dilaporkan, Pemimpin IMF Christine Lagarde menyuarakan keprihatinan kepada perang dagang yang kembali memanas. Ia menyebut hal itu mengancam perekonomian dunia.

"Jelas ketegangan antara Amerika Serikat dan China merupakan ancaman kepada ekonomi dunia," ujar Lagarde dalam acara Paris Forum Event seperti dikutip France 24.

Ia pun khawatir melihat twit Presiden Donald Trump, serta berbagai rumor yang ada, membuat kedua negara semakin jauh dari kesepakatan.

Dalam acara yang sama, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire turut cemas akan perang dagang yang terjadi. Negosiasi antar AS dan China pun diharapkan bisa menjunjung kerja sama.

"Kami mengikuti dengan mendalam negosiasi yang terjadi antara China dan Amerika Serikat dan kami ingin mereka menghormati prinsip-prinsip transparansi dan multilateralisme," ujar Le Maire.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
AS Tak Bakal Rugi Akibat Perang Dagang, Kenapa?
Artikel Selanjutnya
Warren Buffett Kaget Perang Dagang Sungguh Terjadi