Sukses

Ogah Bayar Pajak, Orang Terkaya Inggris Pindah Negara

Liputan6.com, London - Insting miliarder Sir Jim Ratcliffe tampaknya menyebut Inggris sudah jauh dari kata aman, setidaknya bagi harta milikinya. Orang terkaya di Inggris ini berencana pindah ke Monaco demi menghindari pajak.

Dilaporkan The Guardian, Sir Jim Ratcliffe, bos dari firma kimia Ineos, akan pindah bersama dua pegawai utamanya di perusahaan. Lewat manuver ini, mereka bisa menghindari pembayaran 4 miliar pound sterling atau Rp 72,8 triliun (1 pound sterling = Rp 18.219).

Pihak perusahaan sedang berkoordinasi dengan ahli pajak di PricewaterhouseCoopers(PwC) untuk membangun struktur agar mengurangi pajak yang perlu dibayar.

Orang terkaya di Inggris ini memiliki 60 persen Ineos yang mendapat laba lebih dari 2,2 pound sterling (Rp 40 triliun) tahun lalu. Ia memimpin perusahaan asal London ini sejak tahun 1980.

Kepergian Ratcliffe dari Inggris menjadi kontroversial karena ia sejatinya seorang Breexiter atau pendukung Brexit. PwC juga dikritik karena membangun skema penghindaran pajak yang kompleks bagaikan labirin.

Kritikan lain muncul dari politikus Partai Demokrasi Liberal, John McDonnell, yang menyebut langkah Ratcliffe memalukan. Ini terutama mengingat orang terkaya ini membawa gelar ksatria di namanya.

"Bila memikirkan bahwa kita memberikan gelar ksatria ke orang-orang yang tidak punya komitmen pada negara ini sangat memalukan," ujar dia.

2 dari 2 halaman

Rencana Pindah ke Monaco Dikecam

 

Rencananya pindah ke Monaco pun dikecam oleh kelompok pajak. Robert Palmer, executive director Tax Justice UK menyatakan Ratcliffe bertingkah rakus.

"(Ratcliffe) mengedepankan kerakusannya ketimbang kontribusi ke negara ini," ujarnya.

Ratcliffe mnejadi orang terkaya di Inggris Raya sejak bulan Mei tahun lalu. Ia mendapat predikat tersebut setelah mengakui hartanya lebih tinggi dari yang diberitakan. Saat ini, hartanya tercatat 21 miliar pound sterling (Rp 382,7 triliun).

Loading
Artikel Selanjutnya
Partai Boris Johnson Menang Pemilu Parlemen Inggris, Brexit 31 Januari 2020
Artikel Selanjutnya
Pemilu Inggris, Akankah Boris Johnson Menyelesaikan Kisruh Brexit?