Sukses

Credit Suisse Turunkan Rekomendasi Saham RI, IHSG Jadi Tertekan?

Liputan6.com, Jakarta - Credit Suisse, perusahaan sekuritas global merilis laporan soal pasar saham Indonesia. Pada laporan diterbitkan 11 Februari 2019 disebutkan telah menurunkan atau jual (underweight) di pasar saham Indonesia. Hal ini berbeda dari sebelumnya overweight atau menambah bobot 20 persen.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tertekan pada perdagangan saham Selasa 12 Februari 2019. IHSG merosot 68,67 poin atau 1,06 persen ke posisi 6.426,32.

Indeks saham LQ45 susut 1,17 persen ke posisi 1.008,81. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah. Investor asing pun jual saham mencapai Rp 605,5 miliar di pasar reguler.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, tekanan IHSG terjadi didorong teknikal. Selain itu, sentimen global juga menjadi katalis negatif. Hal ini lantaran bursa saham regional yang tertekan.

"Pelaku pasar juga wait and see negosiasi perdagangan antara AS dan China," ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (12/2/2019).

Sementara itu, Kepala Riset PT Samuel International Harry Su menilai, penurunan IHSG juga karena penguatan yang sudah terjadi. Adapun penurunan IHSG pada pekan ini mulai terjadi pada perdagangan saham Senin 11 Februari 2019. IHSG ditutup melemah 26,66 poin ke posisi 6.495.

Selain itu, adanya laporan Credit Suisse yang menurunkan pasar saham Indonesia juga tekan IHSG. "Ada efek dari itu," ujar Harry.

 

2 dari 2 halaman

Alasan Credit Suisse Turunkan Rekomendasi Pasar Saham RI

Credit Suisse memangkas pasar saham Indonesia karena pertimbangan performa indeks MSCI Indonesia US Dollar lebih baik dari indeks MSCI EM atau emerging market sejak pertengahan Mei 2018.

"Kami melihat kesempatan untuk kurangi aset di Indonesia sebelum masuk ke fase underperform," tulis Analis Credit Suisse Alexander Redman dan Arun Sai dalam laporan Global EM Equity Strategy yang dikutip, Selasa pekan ini.

Adapun enam alasan pengurangan bobot saham di Indonesia yaitu rupiah menguat sehingga jenuh beli, kemudian dilihat dari siklus Asia Utara sejak 2019, dilihat historis inkonsisten menambah bobot saham di pasar saham Indonesia.

Selain itu, kabar revisi pertumbuhan ekonomi yang cenderung negatif, pertumbuhan aset bank yang terbatas sedangkan sektor bank relatif stagnan dan valuasi mahal. Kemudian, valuasi saham Indonesia tidak menarik dan saham Indonesia jenuh beli.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

PKL BUAT SUMUR BOR DI ATAS TROTOAR

Tutup Video
Loading
Artikel Selanjutnya
Investor Asing Lepas Saham Rp 595 Miliar, IHSG Turun 68,67 Poin
Artikel Selanjutnya
Sektor Barang Konsumsi Jadi Pendorong, IHSG Dibuka Menguat ke 6.508,55