Sukses

Miliarder Mesir Bela Donald Trump Lawan China

Liputan6.com, Kairo - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memiliki pendukung dalam perang dagang melawan China. Pendukung dari Timur Tengah pun bermunculan, kali ini dari miliarder asal Mesir.

Dilaporkan CNBC, miliarder Naguib Sawiris menyebut Trump melakukan hal yang benar melawan praktik dagang China yang merugikan negara lain. Menurut Sawiris, China harus mengubah tingkah yang semaunya.

"Presiden Trump benar mengenai hal itu: Sudah lama kita menutup mata bahwa China memerkosa kita. Jadi, ketika waktu kamu mendatangi dan mengatakan pada mereka, 'Kamu harus berubah', maksud saya, mereka sudah terbiasa nyaman dan melakukan apapun yang mereka mau," ujar dia.

Ia pun optimistis akan ada perubahan di China, meski negara itu tidak akan mengubah seluruh sistemnya. "Mereka tidak akan melakukan itu," kata sang miliarder.

Perihal perang dagang, miliarder ini percaya situasi akan membaik. Ia memandang tensi antara kedua negara tidak akan mendukung ambisi China.

"Saya pikir mereka akan sampai ke sebuah kesimpulan, karena China memiliki lebih banyak ambisi ketimbang memperburuk kondisi," ucapnya.

Sawiris bukan miliarder Timur Tengah pertama yang mendukung Trump di perang dagang, sebelumnya ada miliarder Hussawin Sajwani asal Dubai menyampaikan sentimen serupa.

Menurut Forbes, kekayaan Sawiris mencapai USD 2,9 miliar atau Rp 40,7 triliun (USD 1 = Rp 14.067). Kekayaan miliarder ini berasal dari sektor telekomunikasi, serta investasi di tambang emas di Afrika dan Australia.

2 dari 2 halaman

Miliarder Dubai Turut Dukung Trump

Seorang miliarder asal Timur Tengah dengan tegas menyampaikan simpatinya pada Presiden Donald Trump. Pria bernama Hussain Sajwani ini mendukung langkah keras Presiden Trump terhadap China.

Hussain, yang diketahui memiliki kesepakatan terkait lapangan golf dengan Trump, disebut paham mengapa sang presiden memiliki kebijakan yang keras pada China. Pasalnya, Hussain merasakan sendiri ketidakadilan ketika berbisnis di China, demikian lansiran Bloomberg.

"Jika pasar di AS dan Eropa terbuka untuk perusahaan China untuk berbinis, perusahaan non-China haruslah diperlakukan dengan sama di negara tersebut," ujar Hussain yang memiliki kantor di London.

"Berbisnis di China telah menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan-perusahaan global. Di situlah di mana saya merasa bersimpati pada pemerintah AS ketika mereka ingin perlakuan setara," tambah sang miliarder yang kerap berbagi motivasi di media sosial.  

Meski memiliki kesepakatan bisnis dengan Trump Organization, ia menyebut dirinya bukanlah seorang politikus dan tidak berusaha untuk memberi pengaruh apapun pada Trump.

Ketika ditanya tentang hubungan bisnisnya bersama Trump, miliarder kelahiran Dubai ini mengaku puas pada kualitas dan layanan bisnis Trump Organization.

"Tanpa organisasi tersebut, kami tidak akan bisa membangun lapangan golf kami. Mr. Trump adalah presiden Amerika Serikat, dan itu beda cerita," ujarnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
4 Miliarder yang Baru Mulai Bisnis di Usia 30-an
Artikel Selanjutnya
Ini 4 Cara Miliarder Mengatur Uang Agar Tak Jatuh Miskin