Sukses

Lahan Tandus Ini Disulap Menjadi Embung Air Indah di Wonogiri

Liputan6.com, Wonogiri - Lahan tandus dan kering yang ada di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Wononogiri itu disulap menjadi waduk tadah hujan atau embung air. Kini, Embung Doho pun bersolek, selain menjadi sumber irigasi bagi pertanian dan perkebunan warga, waduk buatan itu juga menjadi objek wisata baru di Wonogiri.

Embung air tersebut dibangun di atas tanah kas Desa Doho, Girimarto, Wonogiri. Awalnya, lahan tersebut tandus dan hanya ditanami sejumlah tanaman palawija. Hanya saja sejak akhir tahun lalu, lahan yang terletak di dataran tinggi tandus itu mulai dibangun menjadi embung air.

Pembangunan embung tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Coca-Cola Foundation, Yayasan Obor Tani serta Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Dana pembangunan embung air yang menawarkan obyek agrowisata itu dibiayai melalui dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan minuman ringan itu.

Kepala Desa Doho, Agus Suhartono mengatakan, embung itu menjadi objek wisata baru di Wonogiri. Kini setiap harinya banyak pengunjung yang berdatangan untuk melihat embung air itu.

"Hari biasa juga ramai pengunjung tapi yang paling banyak hari Sabtu dan Minggu. Mereka datang karena ingin sekadar melihat atau berfoto-foto di sekitar embung," kata dia di sela-sela peresmian Embung Doho, seperti ditulis Jumat (20/4/2018). 

Menurut Agus, selain untuk objek wisata, embung tersebut sangat membantu untuk aliran irigasi pertanian warga di sekitar bawah embung tersebut. Pasalnya, Desa Doho merupakan yang sering mengalami kekeringan jika musim kemarau tiba.

"Sekarang adanya embung ini lahan yang di bagian bawah embung ini tidak khawatir kekurangan air saat kemarau, karena adanya sumber irigasi itu lahan pertanian dan perkebunan warga menjadi aman," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Sumber Irigasi Pertanian dan Perkebunan

Selain itu, kata Agus, di sekitar embung akan ditanami sejumlah tanaman buah. Penanaman beraneka tanaman buah itu diserahkan kepada Gapoktan desa tersebut. Diharapkan ke depannya jika sudah berbuah akan menjadi obyek wisata tambahan di lokasi embung.

"Di sekitar embung akan ditanam semangka, melon, durian, kelengkeng, dan tanaman buah lainnya. Nanti jika sudah berbuah, pengunjung juga bisa wisata petik buah di embung itu," harapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation, Triyono Prijosoesilo mengatakan Embung Doho itu memiliki luas sekitar 1,5 hektare dan dapat menampung air hujan lebih dari 15 juta liter air.

Embung tersebut juga berfungsi sebagai saluran irigasi bagi lahan pertanian dan perkebunan milik warga Doho.

"Embung air itu menjadi sumber irigasi bagi setidaknya 40 hektare perkebunan masyarakat atau 10 hektare sawah pertanian," katanya.

Pembangunan Embung Doho, disebutkan Triyono merupakan proyek percontohan yang didanai Coca-Cola Foundation. Wonogiri dipilih karena daerah tersebut sangat bergantung dengan tadah hujan.

"Kita melihat masyarakat di sini sangat membutuhkan embung karena sangat tergantung dengan tadah hujan. Embung ini menjadi pilot project untuk pembangunan embung air selanjutnya di Kupang," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Bangun Dua Embung

Triyono menuturkan pembangunan embung air merupakan salah satu dari alternatif program konservasi air. Pasalnya, sebelumnya Coca-Cola Foundation telah membangun lebih dari 4.000 sumur resapan untuk penyelamatan mata air yang mencangkup enam wilayah.

"Bagi Coca-Cola, konservasi air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis kami. Dalam satu dekade terakhir, berbagai program water replenishment yang dilakukan Coca-Cola di Indonesia tela mengembalikan lebih dari 1 miliar liter air kembali ke alam dan masyarakat," akunya.

Selain Embung Doho, kata dia, pihaknya juga membangun Embung Banyu Kuwung yang ada di bawah kawasan Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar. Hanya saja luas embung sebagai waduk tadah hujan di Karanganyar itu lebih kecil sekitar 600 meter persegi dan mampu menampung air hingga 6.000 meter kubik.

"Program pembangunan kedua embung ini bernilai Rp 2,3 miliar dan menggandeng Yayasan Obor Tani dalam pelaksanaannya," jelasnya.

Sementara itu, Pengurus Yayasan Obor Tani, Gatot Adjie Soetopo mengatakan untuk membangun embung itu memakan waktu selama tiga bulan. Untuk pembangunan waduk tadah hujan itu menggunakan lapisan geomembran yang diperkirakan mampu bertahan hingga 30 tahun.

"Kami percaya dengan metode menabung air di musim hujan dan menggunakan air itu pada musim kemarau akan memberikan manfaat. Air embung bisa digunakan untuk perkebunan buah, perikanan, peternakan, air baku PDAM hingga potensi agrowisata," ucapnya.

Embung Doho disebutkan Gatot merupakak pembangunan embung ke-68 dari Yayasan Obor Tani yang menggandeng pihak ketiga. Dengan embung itu, diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga masyarakat Desa Doho.

"Kami berharap kehadiran embung pada akhirnya dapat meningkatkan siklus panen sehingga potensi ekonomi desa juga pada akhirnya dapat diperkuat," harapnya.

 

Loading