Sukses

Bos IMF Ingatkan Aksi Proteksionisme Bayangi Pertumbuhan Global

Liputan6.com, Jakarta - International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa aksi proteksionisme dapat mengganggu sistem perdagangan global yang sudah dijalani selama ini.

Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde menuturkan, sistem globalisasi atau perdagangan global yang telah mengubah dunia selama generasi terakhir berisiko lantaran menuju era proteksionisme. Hal itu disampaikan Lagarde saat pidato di Asia Global Institute, Hong Kong.

"Sistem regulasi dan juga tanggung jawab bersama ini akan terancam hancur. Ini akan menjadi kegagalan kebijakan kolektif yang tak bisa dimaafkan," tutur dia, seperti dikutip dari laman CNBC, Kamis (12/4/2018).

Hal itu mengacu pada tatanan perdagangan multilateral. Menurut dia, hal itu akan membantu membawa jutaan orang keluar dari kemiskinan. 

Kekhawatiran Lagarde ini dipicu oleh perang dagang yang didorong oleh langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif tinggi pada semua impor baja dan aluminium yang datang ke Amerika Serikat. Hal tersebut dipandang akan memicu pembalasan dari China dan juga dari banyak mitra dagang termasuk Uni Eropa.

Hingga kini, AS dan China telah mengumumkan besaran total tarif yang akan diberlakukan untuk impor barang. Ekonom menilai, hal tersebut melumpuhkan pertumbuhan ekonomi global dan tenaga kerja. Meski langkah-langkah penerapan tarif impor barang belum diberlakukan, pasar sangat sensitif terhadap perkembangan perdagangan dari dua negara itu.

 

 

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Ekonom di Bank Sentral Eropa memperingatkan perubahan tarif global dapat menyebabkan kontraksi perdagangan hingga tiga persen. Sedangkan pertumbuhan global hingga satu persen.

"Pemerintah harus menghindari proteksionisme dalam apa pun bentuknya. Sejarah sudah menunjukkan pembatasan impor merugikan semua orang, terutama konsumen yang sangat miskin," ujar Lagarde.

Lagarde menambahkan, negara memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki sistem perdagangan. Kemudian evaluasi sistem perdagangan yang selama ini diterapkan. Hal ini lantaran Trump akan terapkan tarif impor terhadap barang China karena pencurian kekayaan intelektual. Selain itu, praktik perdagangan lainnya yang tidak adil. Dalam hal ini, Trump tidak bersalah.

China terkenal akan pencurian kekayaan intelektualnya yang oleh banyak investor asing dan produsen Amerika menyesalkan hal ini sebagai bentuk kebijakan yang mendiskriminasi. "Lebih baik melindungi kekayaan intelektual dan mengurangi distorsi kebijakan yang menguntungkan perusahaan negara," ujar dia.

Lagarde pun tetap optimistis terhadap pertumbuhan global. Hal itu di tengah ada isu baru muncul mulai dari ketidakpastian yang meningkat signifikan dari ketegangan perdagangan, meningkatnya risiko fiskal dan keuangan serta geopolitik.

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Selain Indonesia, Ekonomi 3 Negara ASEAN Lesu Akibat Perang Dagang
Artikel Selanjutnya
RI Sudah Punya Obat Tangkal Pelemahan Ekonomi Akibat Perang Dagang