Sukses

Prediksi Kenaikan Permintaan Dorong Harga Minyak Naik

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah dunia naik bersamaan dengan penguatan Wall Street di tengah prediksi kenaikan pertumbuhan permintaan minyak, dan kekhawatiran jika output dari produsen OPEC akan tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lambat di tahun-tahun depan.

Melansir laman Reuters, Selasa (6/3/2018), harga minyak Brent naik US$ 1,17 atau 1,8 persen menjadi US$ 65,54 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate naik US$ 1,32, atau 2,2 persen ke posisi US$ 62,57 per barel.

Harga minyak yang mendatar di awal hari, mulai meningkat seiring kenaikan pasar saham AS, di mana indeks S&P 500 naik lebih dari 1 persen sesaat sebelum penutupan perdagangan.

"Lonjakan hari ini di ekuitas adalah pendorong besar di balik pemulihan harga minyak hari ini," Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch & Associates di Chicago dalam sebuah laporan.

Analis juga mengatakan harga ditopang "komentar bullish" dari menteri Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan pelaku industri global lainnya pada konferensi energi terbesar CERAWeek di Houston, pada Senin.

Abhishek Kumar, Analis Energi Senior Global Gas Analytics Interfax Energy di London, mengatakan komentar tentang profil produksi minyak Venezuela yang memburuk, bersama dengan prospek kepatuhan yang kuat terhadap kesepakatan pemutusan produksi OPEC, mendukung harga minyak. 

Menteri Perminyakan Ekuador Carlos Perez mengatakan produksi minyak Venezuela mencapai 1,5 juta barel per hari (bpd) dari output historisnya. Dia berbicara di sela-sela konferensi CERAWeek, seraya mengatakan jikaini adalah sesuatu yang harus ditangani negaranya sendiri.

Sekjen OPEC Mohammad Barkindo dan pejabat OPEC lainnya diperkirakan akan mengadakan makan malam pada hari Senin dengan perusahaan minyak AS di sela-sela konferensi tersebut.

 

1 dari 2 halaman

Kebijakan Minyak OPEC

Suhail Mohamed Al Mazrouei, Menteri Minyak Uni Emirat Arab dan presiden OPEC saat ini, mengatakan bahwa lembaga ini belum membahas pengguliran pemotongan produksi tahun depan.

"Kami merasa masih ada overhang pasar. Jadi tidak ada pembicaraan tentang (memperpanjang pemotongan sampai 2019) pada tahap ini," jelas dia.

OPEC dan produsen utama lainnya sepakat untuk mengurangi produksi gabungan sekitar 1,8 juta barel per hari untuk menguras minyak mentah dunia. Perjanjian tersebut dimulai pada bulan Januari 2017 dan berjalan sampai akhir tahun ini.

Adapun Badan Energi Internasional, yang memberi saran kepada negara-negara industri mengenai kebijakan energi, mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global secara tahunan akan mencapai rata-rata 1,1 persen pada 2023. Angka ini cukup kuat dan OPEC akan gagal untuk secara signifikan meningkatkan kapasitas produksinya.

Apalagi, untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, IEA mengatakan bahwa produksi minyak serpih AS mulai meningkat dalam lima tahun ke depan. Ini akan mencuri pangsa pasar produsen OPEC dan memindahkannya ke Amerika Serikat, yang pernah menjadi pengimpor minyak utama dunia.

Artikel Selanjutnya
Kenaikan Tarif Impor Baja AS Bayangi Harga Minyak Dunia
Artikel Selanjutnya
Februari 2018, Harga Minyak RI Merosot US$ 3,98 per Barel