Sukses

Menhub: 40 Persen Perdagangan Dunia Lewat Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, 90 persen dari jalur perdagangan dunia diangkut melalui laut dan 40 persen dari perdagangan tersebut melewati Indonesia. 

Ia mengatakan, ini merupakan kesempatan Indonesia untuk menjadi negara poros maritim dunia dengan meningkatkan sistem transportasi laut yang terintegrasi.

“Ini kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi negara poros maritim dunia. Untuk itu, kita perlu meningkatkan sistem transportasi laut yang terintegrasi karena poros maritim yang terintegrasi sangat diperlukan dalam penyelenggaraan rantai pasok yang maksimal,” jelas Menhub dalam keterangannya, Sabtu (3/3/2018).

Menhub menjelaskan, pada 2017 yang lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-36 dalam persaingan global di dunia. Peringkat tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di posisi 41.

“Indeks tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki daya saing global yang semakin meningkat, yang ditandai dengan adanya pembangunan infrastruktur secara masif. Kementerian Perhubungan memiliki peranan penting, yaitu dengan pembangunan infrastruktur perkeretaapian, pelabuhan dan bandar udara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Menhub.

Lebih lanjut, pemerintah telah membangun 124 unit kapal untuk kapal perintis serta penyelenggaraan program tol laut yang bertujuan untuk menurunkan tingkat disparitas harga di wilayah Barat dan Timur Indonesia. 

Hal ini sejalan dengan Nawacita Presiden Jokowi yang bertujuan untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Kita membangun 124 kapal untuk kapal perintis, kapal rede, kapal pelra, kapal ternak dan kapal kontainer serta tol laut. Di tahun 2018 ini tol laut sudah mencapai 15 trayek yang diharapkan nantinya dapat menjangkau dan mendistribusikan bahan kebutuhan pokok di seluruh wilayah Indonesia,” tutur Menhub.

Pada 2017, program tol laut telah memberikan hasil melalui penurunan disparitas harga sampai dengan 23 persen di wilayah Timur Indonesia. Hal ini tentunya meningkatkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Indonesia. 

2 dari 2 halaman

Neraca Perdagangan Surplus, Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Melonjak

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menguat jika pemerintah menstabilkan neraca perdagangan. Pada Januari lalu, tercatat neraca perdagangan negara mengalami defisit akibat kegiatan impor yang meninggi, melebihi ekspor non-migas yang sebenarnya juga naik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, neraca perdagangan masih akan mengalami defisit pada Februari nanti. Namun pada bulan setelahnya kemungkinan besar akan surplus. 

"Diproyeksikan, neraca perdagangan pada Maret dan April akan kembali surplus karena permintaan bahan baku dari negara tujuan ekspor semakin baik," ujarnya ketika dihubungi Liputan6.com di Jakarta, seperti dikutip Minggu (18/2/2018).

Surplus neraca perdagangan tersebut dapat menjadi pertanda bagus terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.

"Sebuah sinyal bagus. Harapannya, ekspor ke depan bisa terus tumbuh 5-7 persen. Proyeksi Indef, pertumbuhan ekonomi 2018 membaik sedikit menjadi 5,1 persen," ungkap dia.

Selain karena meningginya kegiatan ekspor, dia mengatakan, peningkatan konsumsi rumah tangga dan keberadaan tahun politik 2018 juga akan menjadi faktor lainnya dalam pertumbuhan ekonomi negara.

"Konsumsi rumah tangga diproyeksi tumbuh 5 persen, lebih baik dari tahun lalu di 4,95 persen. Kemudian kinerja investasi tumbuh 7-8 persen. Belanja pemerintah di tahun politik juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

 

Artikel Selanjutnya
Banyak Peminat, Layanan SIM A Umum Kolektif Akan Digelar di Kota Lain
Artikel Selanjutnya
Cara Menhub Agar Kontraktor Utamakan Keselamatan Kerja