Sukses

Lulusan SMK Jadi Pengangguran Paling Banyak pada 2017

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) masih dihadapkan pada sejumlah masalah mulai pengangguran, kemiskinan, hingga kesenjangan untuk persiapkan tenaga kerja yang berkompetensi hadapi revolusi industri 4.0.

Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri menuturkan, kondisi sektor ketenagakerjaan dan tantangan ke depan terus berubah serta semakin kompleks. Hal itu ditandai dengan kondisi perekonomian dunia yang masih dalam tahap perbaikan akibat dampak dari krisis global.

"Ekonomi dunia di 2018 ini masih berada pada fase recovery, ditandai dengan peningkatan investasi, aktivitas manufaktur, dan transaksi perdagangan," ucap dia di acara 'Peningkatan Peran Pembangunan Ketenagakerjaan Untuk Mendorong Investasi dan Perluasan Kesempatan Kerja dalam Rangka Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas' yang berlangsung di Gedung Kemenaker, Jakarta pada Selasa (30/1/2018).

Dia juga turut memaparkan kondisi sektor ketenagakerjaan pada 2017. Sektor pengangguran tercatat 5,5 persen. "Dari jumlah tersebut, lulusan SMK paling besar, yaitu 11,41 persen," ujar dia.

"Untuk tingkat kemiskinan itu 10,12 persen, di mana angka kemiskinan di pedesaan adalah 13,47 persen. Gini ratio (kesenjangan) menurun, dari 0,41 persen pada 2016 menjadi 0,391 persen. Di perkotaan relatif lebih tinggi, 0,404 persen," tambah dia.

Mengutip proyeksi Bank Dunia atau World Bank, Hanif menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dunia pada 2018.

"World Bank bilang, pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini adalah 3,1 persen, dan Indonesia akan tumbuh 5,3 persen. Tapi pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen, lebih tinggi 1 persen dibanding proyeksi World Bank," tutur dia.

Target Pemerintah di 2018

Selain tentang pertumbuhan ekonomi negara, Hanif menyebutkan pemerintah telah menyiapkan target-target lainnya untuk tahun ini.

"Daya saing Indonesia dalam periode 2017-2018 berada di posisi 36 dari 137 negara. Target pertumbuhan investasi pemerintah di 2018 ada di kisaran 6 sampai 6,6 persen," kata dia.

Pemerintah juga berencana menurunkan angka pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan. "Diharapkan, jumlah pengangguran pada tahun ini dapat turun, dari 5 sampai 5,3 persen," ujar dia.

"Begitu juga dengan kemiskinan, yang bisa turun 9,5 sampai 10 persen. Sementara gini ratio, kami berharap itu dapat turun sekitar 0,01 persen, atau menjadi 0,38 persen," ungkap Hanif.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

 

2 dari 2 halaman

Perubahan Industri Ciptakan Pekerjaan Baru

Kehadiran era ekonomi digital saat ini secara langsung turut memengaruhi banyak hal dalam persoalan ketenagakerjaan. Hal tersebut juga menjadi perhatian utama dari Kementerian Ketenagakerjaan, yang mempersiapkan calon tenaga kerja dalam menghadapi transformasi industri.

Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan, pihaknya akan coba mengubah sektor industri dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat dan masif.

"Industri kita, suka tidak suka, akan bertranformasi dari industri konvensional menjadi industri model baru, yang berbasis pada teknologi dan digitalisasi. Kita, mau tidak mau, harus bersiap untuk perubahan industri," ujar dia di Auditorium Binakarna Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa 30 Januari 2018.

Pada awalnya, Hanif menilai, perkembangan teknologi industri tersebut akan memunculkan dua gejala di tengah masyarakat, yakni business shock dan man power shock.

"Perkembangan teknologi ini menghadirkan business shock, di mana beberapa perusahaan tidak siap akan itu, tidak bisa survive, jadinya bisa bangkrut dan tutup," ujar dia.

"Ada juga man power shock, atau guncangan ketenagakeriaan. Industri bisa bertahan dengan melakukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi informasi yang massif itu, tapi dengan melakukan PHK besar-besaran, PHK massal, yang akan menimbulkan guncangan," tambah dia.

Memunculkan Pekerjaan Baru

Selain itu, perkembangan teknologi yang memengaruhi dunia industri tersebut juga akan mengubah karakter pekerjaan. Hanif menyebutkan, beberapa lapangan pekerjaan saat ini akan hilang tertelan perubahan zaman tersebut.

"Dia (perkembangan teknologi) juga akan membunuh pekerjaan di masa sekarang. Dan, akan menciptakan pekerjaan baru yang akan tumbuh ke depan," ujar dia.

Menanggapi hal tersebut, Hanif menyatakan optimismenya dalam menyambut tantangan zaman, dengan memastikan banyak pekerjaan baru yang juga akan lahir saat transformasi industri.

"Reformasi industri 1 memperlihatkan, manusia bisa bertahan dengan adanya perkembangan teknologi. Kita harus tetap optimistis, biar pun pekerjaan lama hilang, pasti akan ada pekerjaan baru lainnya," tutur dia.

"Oleh karena itu, transformasi industri begitu penting, agar perubahan-perubahan industri itu bisa di-manage, dikelola dengan baik. Skills dan kompetensi manusia kita juga harus bisa mengikuti itu," pungkas dia.