Sukses

Cantik dan Pintar, Ini Perjalanan Karier Najwa Shihab

Liputan6.com, Jakarta - Nama Najwa Shihab sudah tidak asing di telinga para penikmat berita. Wanita yang lahir pada 16 September 1977 ini dikenal masyarakat luas melalui kiprahnya sebagai pemandu acara Mata Najwa. Ia juga merupakan puteri dari tokoh cendikiawan muslim Indonesia, Quraish Shihab.

Jurnalis yang akrab disapa Nana ini memang sudah terlihat memiliki wawasan yang luas sejak belia. Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas Nana terpilih mengikuti program AFS yang merupakan program pertukaran antar pelajar selama satu tahun di Amerika Serikat.

Tamat dari bangku SMA, Najwa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah dan masuk sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kendati lulus sebagai Sarjana Hukum, Najwa Shihab lebih memilih terjun di dunia jurnalistik ketimbang seorang pengacara.

Kiprah Jurnalistik

Najwa Shihab pertama kali masuk ke dunia penyiaran bersama stasiun TV RCTI. Namun pada 2001, dia memilih bergabung dengan Metro TV karena stasiun TV itu dinilai lebih menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.

Berkarier selama 17 tahun di ranah media, memberikan banyak kenangan dan pengalaman bagi putri Quraish Shihab ini. Beragam kondisi telah ia lalui saat bertugas untuk memberikan informasi teraktual kepada pemirsa di seluruh Indonesia.

Salah satu tugas yang mengesankan Najwa yaitu kala meliput gempa Aceh. Pada Minggu, 26 Desember 2004, Aceh dan Nias dilanda gempa dahsyat. Saat itu, Najwa menjadi asisten produser di Today’s Dialogue.

Kejadian itu direncanakan akan menjadi tema perbincangan pada acara tersebut. Namun, ia berpikir akan lebih mengena jika ada yang pergi ke lapangan.

Dalam perjalanan menuju pusat kota, dia akhirnya melihat betapa hancurnya Banda Aceh. Lapangan Blang Padang, alun-alun Banda Aceh, sudah seperti pasar yang becek, jorok, dan bau. Bukan oleh tumpukan sampah, melainkan timbunan mayat manusia. Di Minggu pagi itu sedang berlangsung lomba maraton. Ada ribuan orang berkumpul. Mereka semua disapu air tsunami.

"Melihat ke atas, saya melihat ada jenazah tersangkut di pohon," kata Najwa seperti dikutip dari buku Jurnalis Berkisah.

Pada hari pertama bertugas, Najwa melaporkan kondisi Aceh yang hancur melalui sambungan telepon. Ini lantaran semua infrastruktur hancur, termasuk telekomunikasi. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya pada hari kedua.

Tak urung, laporan Najwa juga menyentil kinerja sang paman, Alwi Shihab, yang saat itu menjabat Menko Kesra. Selain keras, juga emosional, dalam sebuah kesempatan, Najwa menangis saat melaporkan situasi.

Simak video menarik di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Berbagai penghargaan

Liputan Najwa selama lima hari itu mendapatkan apresiasi dari sejumlah pihak. Pada 2 Februari 2005, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut Sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Najwa telah membuat Indonesia menangis.

Lalu, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2005, Najwa meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, perempuan 40 tahun ini adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Pada tahun 2006, bersama sejumlah wartawan dari banyak negara, Najwa Shihab terpilih menjadi salah seorang peserta Senior Journalist Seminar yang diadakan di sejumlah kota di AS, dan juga menjadi seorang pembicara di Konvensi Asian American Journalist Association.

Sejak tahun 2006, Najwa telah masuk nominasi kategori pembaca berita terfavorit dalam ajang Panasonic Gobel Awards. Namun, baru pada tahun 2015, putri dari cendekiawan muslim Quraish Shihab ini berhasil menggenggam piala tersebut.

Oleh Badan Pengawas Pemilu, pada tahun 2015, Najwa dinobatkan sebagai Presenter Pemilukada Terbaik.

Adapun oleh Elle Magazine, perempuan cantik ini diberi penghargaan sebagai The Influential Woman of The Year pada tahun 2016. Sementara, tahun 2015, Forbes Magazine mengumumkan sosoknya sebagai Most Progressive Figure.

Pada tahun 2011, ibu satu anak ini dianugerahi Young Global Leader oleh the World Economic Forum. Masih pada tahun yang sama, Najwa juga meraih Highly Commended dalam kategori Best Current Affairs Presenter pada ajang Asian TV Awards.

Sebelumnya, pada tahun 2007 dan 2009, Najwa juga meraih Highly Commended dalam kategori Best Current Affairs Presenter pada ajang serupa.

3 dari 3 halaman

Mengundurkan diri

Pada Selasa, 8 Agustus 2017 Najwa resmi mengundurkan diri dari stasiun televisi nasional yang membesarkan namanya, Metro TV. Keputusan itu disampaikan Najwa dalam akun instagram pribadinya @najwashihab.

"Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanan saya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan," tulis Najwa Shihab.

Mata Najwa sendiri telah mengudara selama 511 episode sejak penayangan perdananya pada 25 November 2009. Talkshow ini memang memiliki ciri khusus mengangkat wawancara bersama narasumber-narasumber kelas satu. Seperti disebutkan sebelumnya, wawancara dengan Penyidik KPK, Novel Beswedan menjadi episode terakhir.

Pada penghujung Agustus nanti, Mata Najwa akan menayangkan episode final, 'Catatan Tanpa Titik'. Sebelumnya, juga akan dibuat episode kolase dari berbagai tayangan sebelumnya.

"Kami sangat berterima kasih kepada Najwa Shihab atas kontribusi yang telah diberikan selama 17 tahun berkarya di Metro TV. Kami akan merasa kehilangan Najwa Shihab sebagai jurnalis dan tuan rumah Mata Najwa," kata President Director Metro TV Suryopratomo dalam keterangan resmi dari stasiun televisi itu yang dimuat di social media, Selasa (8/8/2017) malam.

Loading