Sukses

Geliat Perbankan Korea Selatan di Asia Tenggara

Liputan6.com, Jakarta Perbankan Korea Selatan (Korsel) terus melebarkan ekspansinya ke negara-negara di Asia Tenggara. Di tengah persaingan dan peraturan ketat yang diterapkan beberapa negara di Asia Tenggara, para ahli menyarankan agar perbankan Korea konsistensi menerapkan strategi berdasarkan perspektif jangka panjang.

Menurut Pusat Penelitian Bank Pembangunan Korea (KDB), seperti mengutip Koreatimes.co.kr, Kamis (29/6/2017), perbankan Korea memiliki 13 perusahaan lokal, 17 cabang dan 23 kantor di Asia Tenggara per Juni tahun lalu.

Langkah ekspansi ke luar negeri berkaitan dengan memburuknya profitabilitas di pasar Korea, dipicu rendahnya pertumbuhan ekonomi dan tingkat bunga ditambah dengan permintaan yang jenuh.

"Pertumbuhan dan suku bunga yang rendah saat ini tidak pernah dialami ekonomi Korea sebelumnya, yang kemudian menekan manajemen bank, menurunkan pertumbuhan mereka dan membuatnya sulit untuk memulihkan profitabilitas," menurut Yang Won-geun, peneliti di Korea Institute of Finance dalam catatannya.

Perekonomian China, yang memiliki pengaruh terbesar terhadap ekonomi Korea, telah mengakhiri era pertumbuhan tingginya. Pasar domestik Korea juga menghadapi kesulitan dengan pertumbuhan pendapatan yang goyah dan utang rumah tangga yang menghambat konsumsi. Populasi yang menua dan penurunan harga aset.

Margin bunga bersih bank terus menurun sejak krisis keuangan global, hingga 1,55 persen pada 2016. Angka tersebut 1,5 sampai 2,5 kali lebih tinggi di negara-negara Asia Tenggara, yang menarik minat bank-bank Korea.

Kang Meang-gu, peneliti senior di KDB Research Institute, mencatat bank-perbankan Korea tertarik dengan potensi pertumbuhan pasar Asia Tenggara yang tinggi. Apalagi populasi di wilayah ini yang terus bertambah.

Lima negara besar ASEAN yakni Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina, mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5 persen setiap tahunnya, di tengah meningkatnya investasi asing.

Kemajuan bisnis Korea ke kawasan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi bank-bank Korea. Mereka beralih dari China ke Asia Tenggara setelah krisis keuangan global, karena kenaikan upah dan peraturan penguatan perusahaan asing yang memperparah keuntungan yang diraih.

Asia Tenggara, di sisi lain, menyediakan tenaga kerja murah tapi terampil, serta beragam insentif bagi investor dan kekuatan geografis sebagai basis produksi di Asia. Pada September lalu, 2.785 produsen termasuk Samsung, LG dan pemasoknya beroperasi di Vietnam, serta 1.080 produsen Korea di Indonesia, dan 98 di Myanmar.

Peningkatan investasi infrastruktur dan fasilitas di kawasan ini juga memperluas permintaan pembiayaan. Pasar infrastruktur Indonesia diperkirakan akan tumbuh rata-rata 7,8 persen per tahun antara 2017 dan 2021, dan Vietnam memperkirakan pertumbuhan 6 persen setiap tahunnya.

Negara-negara Asia Tenggara juga secara aktif membuka pintu bagi bank asing, mendorong M & A atau akuisisi saham di bank lokal.

Namun, ada kekhawatiran bahwa Asia Tenggara dapat berubah menjadi "samudera merah" bagi bank-bank Korea, terutama jika mereka hanya fokus pada perusahaan Korea atau penduduk Korea di wilayah tersebut. Para ahli menekankan kebutuhan akan sumber pendapatan baru serta strategi yang beragam.

Kang menyarankan bank Korea untuk fokus pada keuangan digital berdasarkan fintech untuk kesuksesan dan profitabilitas yang tinggi. Fintech mengacu pada konvergensi layanan keuangan dan teknologi.

"Bank-bank Korea dengan teknologi digital memiliki kekuatan dalam fintech. Mereka memiliki cukup keunggulan di pasar Asia Tenggara."

Dia mengatakan bahwa bank-bank Korea memiliki daya saing yang lebih banyak dalam mengejar sektor korporasi daripada ritel.

Dia juga menyarankan konsentrasi pada sektor di mana masing-masing bank memiliki daya saing. "Misalnya, NH Nonghyup mengkhususkan diri pada layanan keuangan untuk sektor pertanian sementara Bank Industri Korea (IBK) memiliki kekuatan dalam layanan untuk usaha kecil dan menengah. Seharusnya sama ketika mereka maju ke Asia Tenggara."

Para ahli juga menunjukkan bahwa bank-bank Korea kurang memiliki konsistensi secara perspektif jangka panjang. Meskipun ada permintaan dari pemerintah Thailand untuk tetap tinggal, beberapa bank Korea menutup cabang mereka di Thailand setelah krisis keuangan Asia, yang membuat pemerintah Thailand negatif terhadap kembalinya bank-bank Korea ke negara tersebut.

Analis juga menyarankan untuk membuat jaringan inti di setiap negara. "Bank Korea telah berkonsentrasi pada Vietnam, Myanmar dan Indonesia. Namun Asia Tenggara memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar untuk bank berkat meningkatnya permintaan domestik dan investasi langsung asing," Kang mencatat.

Dia mengutip Laos dan Kamboja, yang telah menandai pertumbuhan tahunan 7 persen selama lima tahun terakhir, sebagai tujuan populer bagi produsen Korea selama bertahun-tahun yang akan datang. "Selain itu, negara-negara ini melanjutkan pembangunan infrastruktur. Permintaan pembiayaan fasilitas akan meningkat," tambahnya.


Simak video menarik berikut ini: