Sukses

Inggris Hengkang dari UE Bikin Harga Minyak Tergelincir

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah dunia lebih rendah 5 persen di akhir pekan ini, seiring keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa mendorong adanya upaya penghindaran risiko besar dan membuat permintaan pada aset safe havens seperti dolar AS  naik. Ini turut mengancam pemotongan pemulihan di pasar minyak global.

Melansir laman Reuters, Sabtu (25/6/2016), harga minyak Brent turun 4,9 persen atau US$ 2,50, menjadi US$ 48,41 per barel. Sebelumnya harga komoditas ini sudah jatuh 6 persen di posisi US$ 47,54.

Sementara minyak mentah AS turun 5 persen atau US$ 2,47 di posisi US$ 47,64 per barel, ini merupakan penurunan satu hari terbesar sejak Februari. Secara mingguan, harga minyak Brent turun 1,5 persen dan AS sebesar 0,7 persen.

Pasar keuangan selama sebulan terakhir dibayangi kekhawatiran tentang kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa atau yang dijuluki sebagai Britain Exit (Brexit), yang mempengaruhi masa depan Eropa.

Keputusan Inggris ikut melambungkan indeks dolar melonjak sekitar 2 persen, terbesar sejak 2008. Sementara pound sterling GBP anjlok ke level terendah dalam 31 tahun setelah Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang berkampanye agar Inggris tetap di Uni Eropa, mengatakan akan mundur pada bulan Oktober.

Penguatan dolar membuat harga minyak dan komoditas lainnya dalam mata uang greenback mahal bagi pemegang euro dan mata uang lainnya.

Analis di pasar minyak berusaha untuk menempatkan krisis Brexit dalam perspektif jika ini menghilangkan US$ 2 triliun investasi di bursa ekuitas di seluruh dunia, yang masuk ke dalam obligasi emas dan pemerintah.

"Ini merupakan peristiwa bersejarah dan tidak akan ditutup-tutupi dengan sangat cepat," kata Dominick Chirichella, Partner Senior di Institut Manajemen Energi di New York.

Meskipun turun, harga minyak bertahan di atas level terendah satu bulan pada minggu lalu ketika kekhawatiran Inggris keluar dari Uni Eropa meningkat dan Brent mencapai posisi US$ 46,94. Sementara minyak mentah AS anjlok ke US$ 45,83 per barel. Beberapa analis mengatakan minyak bisa menghadapi tekanan lebih lanjut.

"Pandangan kami adalah bahwa kita belum melihat harga minyak lebih rendah dengan Brent kemungkinan diperdagangkan turun ke US$ 45 atau lebih rendah, sebelum kita telah melihat yang terburuk," kata Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di Nordic SEB.


Loading