Sukses

Dwi Soetjipto Bakal Awasi Langsung Pengadaan BBM Pertamina

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) berjanji untuk mengawasi secara ketat pengadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan minyak mentah yang akan disalurkan dan diolah oleh perusahaan. Pengawasan yang akan dilakukan langsung oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto tersebut untuk mencegah terjadinya penyelewengan seperti di masa lalu.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan Pertamina tidak ingin ketidakjelasan pengadaan BBM dan minyak mentah seperti yang terjadi di masa lalu kembali terulang.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin oleh Faisal Basri beberapa waktu lalu terlihat bahwa kala pengadaan BBM dan minyak mentah ditangani oleh anak usaha Pertamina, yaitu Pertamina Energy Trading Limited (Petral), terdapat banyak ketidakjelasan.



"Kami melihat ada anomali. Tugas kami adalah bagaimana melihat dan mengatasi supaya anomali tidak terjadi lagi," kata Wianda di kantor Pusat Pertamina, Jakarta , Senin (9/11/2015).

Kini peran Petral tersebut telah digantikan oleh Intergrated Supply Chain (ISC). Menurut Wianda, agar ketidakjelasan dalam impor BBM dan minyak mentah tidak terulang lagi di tangan ISC, maka telah dibentuk Dewan Pengawas ISC yang isinya adalah direksi dan Direktur Utama Pertamina.‎

"Nah, kami ada dewan pengawas ISC yang terdiri dari direksi Pertamina, termasuk juga direktur utama," tuturnya.

Wianda mengungkapkan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto bersama timnya akan memantau kegiatan ISC secara detil. Pengawas akan melihat apakah harga dan volume BBM dan minyak mentah yang dikelola oleh ISC sesuai dengan ketentuan.

Selain itu, tim juga akan terus mengawasi kinerja dari ISC sendiri. Dengan langkah tersebut, diharapkan bisa menghindari aksi kecurangan seperti yang dilakukan Petral. "Jadi di situ akan kami cek betul sampai dengan didapatkan harga yang kompetitif," ujarnya.

Wianda mengatakan tim tersebut juga akan melakukan seleksi ketat mitra ISC dengan membuat kualifikasi jika perusahaan calon mitra tidak sesuai, maka ISC tidak boleh bermitra.

"Nah, siapa pun yang sudah masuk, mereka boleh menawarkan produk yang sesuai dengan standar Pertamina dan harga yang full negosiasi. Semua tender, jadi itu salah satu cara kami bagaimana benar benar ke depan agar ISC bisa melalukan tugas dengan baik," ujarnya. (Pew/Gdn)**