Sukses

Buktikan Ada Mafia Tiket, Bos KAI Beri Hadiah Rp 5 Juta

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan membantah tudingan Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) soal adanya mafia tiket dalam penjualan tiket Lebaran untuk kereta api pada 2014.

Jonan menilai apa yang ditudingkan oleh YLKI itu tidak benar mengingat selama ini seluruh penjualan sudah dilakukan secara terbuka melalui internet dan beberapa agen.

"Kami tidak ada prioritas,  tidak bisa sistem agen bisa ngeblok kursi, tidak ada penjatahan sama sekali, kalau maskapai mungkin bisa, yang ada penjatahan itu empat seat setiap keberangkatan itu untuk perjalanan dinas," kata Jonan di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (21/5/2014).

Tak tanggung tanggung, Jonan mengaku akan memecat para pegawainya yang terbukti menjual tiket sesuai prosedur yang sudah ditetapkan perseroan.

Seakan yakin bahwa seluruh pegawainya tidak ada yang melakukan kecurangan, Jonan menantang bagi siapa pun pihak untuk membuktikan dan mengungkap kecurangan itu dengan menjanjikan imbalan. "Kalau ada yang bisa membuktikan, saya kasih hadiah Rp 5 juta, serius saya," tegas Jonan.

Sementara itu, menindak lanjuti tuduhan YLKI, Jonan mengaku siap menuntut balik apabila nantinya benar-benar tidak terbukti.
"Kalau YLKI menuding ada permainan, buktikan saja, tapi kalau tidak terbukti saya permasalahkan lho, saya tuntut, itu pencemaran nama baik soalnya," kata Jonan.

Menanggapi banyaknya masyarakat yang mengaku tidak mendapatkan tiket mudik, kata Jonan, hal itu bukan menjadi kesalahan PT KAI namun lebih karena akses internet yang digunakan untuk pemesanan.

"Kalau mereka tidak bisa akses itu berarti kecepatan internetnya mereka yang lambat, bandwith sudah kita naikkan di saat-saat tertentu, bandwith itu kan seperti pintu, kalau pintu dimasukin orang banyak kan yang paling cepet itu yang bisa masuk, dulu-duluan," pungkas dia.

Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) menuding adanya mafia tiket dalam penjualan tiket lebaran untuk Kereta Api tahun 2014.
Hal itu ditandai dengan ludesnya tiket KA saat mudik dan susahnya  masyarakat untuk mengakses situs KAI dan layanan penjualan melalui call centre 121. (Yas/Ahm)